Ironi! Rupiah Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Tidak “Jreng” di Tengah Nilai Ekspor yang Mendaki

Ironi! Rupiah Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Tidak “Jreng” di Tengah Nilai Ekspor yang Mendaki

RUU P2SK
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group

RUPIAH terus terbakar. Cadangan devisa juga makin kempis. Nasib buruk dialami rupiah setidaknya dalam jangka menengah-pendek. Mata uang kebanggaan Indonesia ini akan “menderita” terhadap dolar Amerika Serikat (AS) – yang terus mengerek suku bunganya. Dolar AS terus menguat, tidak hanya terhadap rupiah, tapi juga terhadap hampir seluruh mata uang dunia. Namun, rupiah diperkirakan akan terus menderita. 

Nilai tukar rupiah dikepung sentimen negatif. Rupiah “keok” sepanjang tahun ini. Selama setahun ini, rupiah sudah “leleh” sebesar 9,28%. Pada 24 Oktober 2022 rupiah berada di level  Rp15.586 per dolar AS, dan bahkan sebelumnya (21/10) rupiah sempat longsor sampai Rp15.632 per dolar AS. Ini harga terendah rupiah di pasar spot sejak 17 April 2020 lalu. Pergerakan rupiah bikin jantung masyarakat berdebar-debar. Pada akhir Oktober 2022 rupiah diangka Rp15.595 per dolar AS. Ekspektasi masyarakat tampaknya akan menyentuh angka Rp16.000 sampai akhir tahun ini.

Lebih “deg-degan” lagi, cadangan devisa juga terus terkikis. Sejak awal tahun (Januari 2022) cadangan devisa bertengger di angka US$141,3 miliar. Kini, per September 2022, cadangan devisa menyusut menjadi US$130,8 miliar. Rekor tertinggi cadangan devisa terjadi pada September 2021 lalu dengan angka US$146,9 miliar. Jadi, setahun ini, cadangan devisa sudah kempis 11,39%.

Di lain sisi, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia (Januari-September 2022) mencapai US$219,35 miliar, naik 33,49% dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Perang Ukraina-Rusia mengakibatkan harga komoditas, termasuk batu bara, di pasar dunia naik. 

Kenaikan itu menjadi berkah bagi Indonesia. Tanpa rezeki durian runtuh dari kenaikan harga komoditas, nasib Indonesia pasti jebol karena biaya subsidi dan kompensasi energi mencapai Rp502 triliun.

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Menurut Bank Indonesia (BI), ada lima hal yang menjadi tantangan. Satu, perlambatan ekonomi global. BI memperkirakan ekonomi global yang tahun ini diproyeksikan tumbuh 3%, tahun 2023 diperkirakan melemah menjadi 2,3%. Dua, lonjakan inflasi di beberapa negara di dunia. Inflasi di AS sudah mencapai 9,2%. Inflasi membuat pertumbuhan ekonomi global turun.

Tiga, kenaikan suku bunga yang agresif di negara-negara maju, terutama di AS dan Eropa, untuk meredam inflasi. Empat, kenaikan suku bunga The Fed yang meningkatkan indeks dolar AS. Imbasnya, mata uang dunia tergerus akibat suku bunga yang tinggi. Lima, risiko persepsi investor. Situasi yang tidak pasti mendorong investor untuk menarik dananya.

Semua itu membuat rupiah tidak baik-baik saja. Jangka menengah-pendek, rupiah masih akan berjuang melawan takdirnya yang melemah. Indonesia boleh jadi tetap disayang Tuhan – terlihat harga komoditas batu bara masih tinggi – sehingga Indonesia tidak akan masuk ke jurang resesi. Bisa jadi benar – Indonesia bukan masuk lorong resesi, melainkan mengalami penurunan ekonomi. 

Kendati demikian – ekspektasi pemilik uang termasuk simpanan di bank-bank jangan sampai ikut bersama-sama menubruk dolar – yang sudah pasti makin membuat rupiah longsor. Ironi. Ekspor naik, tapi rupiah loyo. 

Ironinya, rupiah longsor di tengah angka-angka ekspor Indonesia yang terus mencetak rekor tertinggi. Neraca perdagangan surplus. Harusnya rupiah tidak longsor jika devisa hasil ekspor (DHE) “ngendon” di bank-bank di Indonesia. Harusnya ada beleid yang mengatur lebih tegas agar DHE bisa bertahan di brankas bank-bank di Indonesia.

Sayangnya, bank-bank di Indonesia hanya dijadikan “tempat” untuk mendapatkan kredit. Bank-bank di Indonesia tidak dinilai para taipan sebagai tempat untuk beternak DHE-nya. Hasil ekspor hanya sebentar untuk dicatat di Indonesia, dan setelah itu terbang ke Singapura. Apalagi, saat ini, suku bunga bank-bank di Singapura lebih “manis” dibandingkan dengan bank-bank di Indonesia. 

Singapura merupakan surga untuk para taipan Indonesia yang seluruhnya dibesarkan oleh bank-bank milik negara. Sejak Orde Baru hingga kini, para taipan di-support habis oleh bank-bank pelat merah. Mulai dari hak konsesi lahan perkebunan, tambang, hingga kredit investasi pembangunan pabrik.

Para taipan penghasil dolar tentu tidak bisa disalahkan. Tidak ada aturan yang dilanggar, bahkan para taipan ini juga sering membantu pemerintah jika rupiah “longsor” terlalu dalam. Para taipan ini bak menjadi bank “sentral swasta” karena terkadang ditelepon orang penting untuk melepas dolar agar rupiah sedikit “jreng” terhadap mata uang asing, khususnya dolar AS.

Ada baiknya dibuat beleid baru agar DHE bisa betah di bank-bank dalam negeri. Jika rupiah makin loyo, Presiden pun bisa membuat perppu agar DHE bisa masuk semuanya ke dalam negeri. Jangan jadikan bank-bank pelat merah sebagai alamat untuk mencari kredit semata, tapi ketika ada hasil pilihannya bank-bank di Singapura untuk menampung dolar yang melimpah sehingga kumpulan para taipan ini bak seperti bank “sentral swasta”.

Rupiah yang stabil jauh lebih penting ketimbang urusan copras-capres yang menimbulkan ketidakpastian. Sudah saatnya politik tak menjadi panglima, tapi ekonomi yang menjadi panglima. Urusan politik dan ketidak pastian menyebabkan rupiah tidak betah di dalam negeri. Selama ini, sejak Orde Baru hingga Orde Nitizen, siapa pun presidennya, negeri Singapura yang tetap akan menikmati. 

Rupiah oh rupiah. Ekspektasi rupiah akan keok sedang terjadi di masyarakat. Apalagi, faktanya, meski kita bangga kinerja ekspor meningkat tajam dibandingkan rezim siapa saja, toh rupiah sedang tidak baik-baik saja. Ironi. (*)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]