Internasional

Iran Gabung jadi Anggota BRICS, Begini Respon AS

Jakarta – Musuh bebuyutan Amerika Serikat (AS) sejak revolusi Islam tahun 1979, Iran bersiap masuk menjadi anggota blok negara-negara BRICS. 

Meski begitu, Amerika Serikat (AS) masih bersikap acuh dan meremehkan bergabungnya Iran bersama lima anggota baru negara BRICS yakni Argentina, Ethiopia, Arab Saudi, Mesir dan Uni Emirat Arab.

“AS menegaskan kembali keyakinannya bahwa negara mana pun dapat memilih mitra dan kelompok yang ingin mereka ajak berasosiasi,” kata Juru Bicara Departemen Luar Negeri AS Matthew Miller, dikutip VOI Sabtu (26/8).

Baca juga: Jokowi Masih Kaji jadi Anggota BRICS, Terganjal Dolar AS?

Sebagaimana diketahui, hubungan AS dan Iran rusak sejak akhir dekade ’70-an. Revolusi yang dicetuskan oleh para ulama serta penyanderaan kedutaan AS di Tehran mengakhiri hubungan tersebut.

Dilansir Reuters, politik luar negeri AS memang tak pernah berubah sejak masa perang dingin hingga saat ini. Iran menganggap negara adidaya itu sebagai diktator internasional yang bengis.

Masuknya Iran menjadi anggota BRICS dinilai akan memperkecil dominasi ekonomi AS di kancah internasional.

Di lain sisi kata Miller, AS akan terus bekerja sama dengan para mitra di seluruh dunia dalam berbagai forum bilateral, regional dan multilateral untuk memperkuat kemakmuran bersama dan menjunjung tinggi perdamaian dan keamanan dunia.

Salah satu pemain yang diawasi dengan seksama adalah India, negara anggota BRICS lainnya yang juga tekun didekati AS.

Di mana, India akan memimpin KTT G20 di New Delhi bulan depan, yang akan mempertemukan negara-negara maju dan negara-negara berkembang.

Baca juga: Tinggalkan Dolar, Brasil Rayu Negara Lain Masuk BRICS

Jake Sullivan, penasihat keamanan nasional Presiden AS Joe Biden, membahas KTT G20 serta dukungan bagi Ukraina dalam pertemuan di Gedung Putih pada Kamis bersama mitranya dari Inggris, Prancis, Jerman dan Italia.

Negara-negara Barat menginginkan hasil pertemuan yang kuat di New Delhi untuk menunjukkan peran G20 sebagai forum utama kerja sama ekonomi, mendorong agenda afirmatif dan ambisius untuk negara-negara berkembang dan kurang berkembang. (*)

Editor: Galih Pratama

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Prabowo Genjot Bedah Rumah 400 Ribu Unit, Sasar Seluruh Daerah

Poin Penting Program bedah rumah target 400 ribu unit pada 2026. Dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota… Read More

2 hours ago

Negara Rugi Rp25 Triliun dari Rokok Ilegal, Program Prioritas Terancam

Poin Penting Rokok ilegal merugikan negara hingga Rp25 triliun per tahun Peredaran meningkat, capai 10,8%… Read More

2 hours ago

CIMB Niaga Luncurkan OCTOBIZ untuk Permudah Pengelolaan Transaksi Bisnis

OCTOBIZ merupakan platform digital banking terintegrasi yang dirancang untuk membantu para pelaku usaha dalam mengelola… Read More

2 hours ago

DPR Soroti Harga BBM, Pemerintah Klaim Siap Hadapi Lonjakan Minyak Dunia

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun meminta pemerintah transparan soal kesiapan fiskal… Read More

2 hours ago

Wamen Bima Arya Tegaskan Aturan Main WFH ASN, Pelayanan Publik Tak Boleh Kendur

Poin Penting Pemerintah memastikan kebijakan WFH diterapkan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat. Sektor layanan… Read More

3 hours ago

OJK dan BEI Terapkan Kebijakan HSC, Berikut Penjelasannya

Poin Penting OJK terapkan kebijakan HSC untuk mengidentifikasi konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi pada kelompok… Read More

5 hours ago