Investor Simak! Pekan Ini IHSG akan Dipengaruhi 2 Sentimen Berikut

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.088 atau melemah 1,06 persen dalam sepekan terakhir dengan total aliran dana asing yang keluar (outflow) mencapai Rp1,6 triliun di pasar reguler.

Pergerakan IHSG yang melemah tersebut dipengaruhi oleh sentimen global, seperti data Indeks Purchasing Managers Index (PMI) Amerika Serikat (AS) Desember 2024 yang masih naik ke level 56,8 dari prediksi sebelumnya di posisi 58,5.

Tidak hanya itu, sentimen inflasi China juga memengaruhi gerak IHSG sepekan lalu, di mana tingkat inflasi China menurun signifikan ke level 0,1 persen secara tahunan atau year on year (yoy), sesuai dengan konsesus.

Baca juga: IHSG Turun ke Level 7.088 Sepekan, 5 Saham Ini Pemicunya

Sentimen yang Memengaruhi IHSG Pekan Ini

Sementara itu, terkait dengan potensi pasar pada pekan ini, 13 hingga 17 Januari 2025, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menyebut trader maupun investor perlu memerhatikan sejumlah sentimen ini.

Pertama adalah sentimen inflow asing. Pergerakan investor asing ke depan akan sangat menarik diperhatikan, di mana terlihat pada minggu kedua awal 2025 penjualan investor asing mulai melandai. Lalu, jika melihat data seasonality 10 tahun terakhir, IHSG cenderung bergerak positif pada Januari.

“Di sisi lain, dividen big banks biasanya juga akan dibagikan di bulan maret yang saat ini memberikan yield sangat menarik, tentu ini akan menarik investor asing untuk masuk kembali ke IHSG,” ucap David dalam risetnya di Jakarta, Senin, 13 Januari 2025.

Baca juga: Begini Prospek Saham Big Banks pada 2025

Kemudian, sentimen kedua terkait dengan hasil Federal Open Market Committee (FOMC) Meeting yang akan segera diumumkan. Pertemuan ini menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar, ekonom, dan investor di seluruh dunia, mengingat keputusan yang dihasilkan akan berdampak besar pada dinamika perekonomian global.

Adapun dalam pertemuan ini, FOMC akan mengevaluasi berbagai indikator ekonomi, termasuk tingkat inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan data ketenagakerjaan, untuk menentukan apakah diperlukan perubahan pada suku bunga acuan atau langkah-langkah lain yang mendukung stabilitas ekonomi.

Dengan latar belakang ketidakpastian global dan tantangan ekonomi domestik, keputusan FOMC diharapkan dapat memberikan panduan yang jelas mengenai arah kebijakan moneter AS ke depan.

“Hasil dari pertemuan ini juga akan memengaruhi pergerakan pasar keuangan, nilai tukar dolar, dan strategi investasi di berbagai sektor ekonomi,” tutupnya. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

5 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

5 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

6 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

10 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

19 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

19 hours ago