Ia berharap, ke depan sektor manufaktur bisa menjadi pendorong utama arus investasi ke Tanah Air, seiring dengan masih lemahnya sektor komoditas. “Data investasi di 2 tahun terakhir sebenarnya cukup stabil sekitar 6 persen. Tapi manufaktur masih melemah. Nah ini yang kita harap bisa membaik,” imbuhnya.
Baca juga: Pemerintah Dorong Investasi Jadi Motor Baru Perekonomian
Membaiknya pertumbuhan ekspor juga merupakan satu hal yang positif. Kontribusi dari net ekspor untuk GDP growth diperkirakan akan naik tahun ini. Sementara dari sisi impor, arus masuk barang modal juga menunjukkan pembaikan di akhir 2016.
“Jadi, hal itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa kami melihat akan adanya pertumbuhan GDP yang lebih tinggi di tahun 2017. Dengan membaiknya fundamental ekonomi, kami melihat kemungkinan besar kalau S&P akan menaikkan credit rating Indonesia pada tahun ini,” tandas Gundy. (*)
Page: 1 2
Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More
Poin Penting IHSG ditutup turun 0,26 persen ke level 6.971,02. Mayoritas sektor melemah, dipimpin sektor… Read More
Poin Penting: Trump mengeklaim AS mampu menghancurkan Iran dalam satu malam dan menyebut kemungkinan beraksi… Read More
Poin Penting Wacana pemotongan gaji menteri dan DPR masih dalam pembahasan. Menteri Keuangan Purbaya memperkirakan… Read More
Poin Penting Trisula Textile Industries mencatat laba bersih Rp12,57 miliar pada 2025, naik 9 persen… Read More
Poin Penting Kemenkop dan BPJS Kesehatan teken MoU untuk perluas layanan kesehatan di desa. Kopdes… Read More