Invasi Rusia ke Ukraina Memanas, Pasar Kripto Tergeletak Lemas

Invasi Rusia ke Ukraina Memanas, Pasar Kripto Tergeletak Lemas

Nilai Bitcoin Melonjak Jadi US$7.000
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Nilai bitcoin dan aset kripto lainnya mengalami perubahan harga yang tajam selama 24 jam terakhir di tengah invasi Rusia ke Ukraina pada Kamis (24/2). Kapitalisasi pasar di semua kripto mengalami penurunan ke US$1,5 triliun, atau kehilangan hampir 9%.

Nilai Bitcoin bahkan sempat turun sebanyak 8% hingga menyentuh level terendah dalam sebulan, meskipun begitu BTC ini terpantau telah kembali di atas US$38.000 pada Jumat (25/2). Trader Tokocrypto, Afid Sugiono, melihat Bitcoin sedang dalam koreksi singkat setelah ada penurunan tajam.

“Pasar keuangan global dan pasar crypto memang terpukul selama 24 jam terakhir, karena invasi Rusia ke Ukraina. Hal tersebut membuat investor berebut dan aksi jual terjadi di sebagian besar kelas aset. Namun, setelah ada informasi sanksi tambahan dari AS, membuat market crypto terkoreksi, namun ke depannya masih akan tertekan,” kata Afid dikutip 25 Februari 2022.

Afid menambahkan, banned/freeze asset dan semua sektor ekonomi rusia di Amerika Serikat dan Eropa, membuat Bitcoin jadi salah satu cara alternatif rusia buat menyelesaikan masalah itu. Di samping itu, investor nampaknya getol memborong aset kripto saat harganya sempat tenggelam. Data Coindesk, menunjukkan bahwa volume trading BTC mencapai rekor tertingginya dalam sebulan terakhir.

Di sisi lain, menurut Afid, saat ini 80 persen market crypto masih terjebak dalam situasi bearish. Ketegangan yang terus terjadi antara Rusia-Ukraina bisa membuat Bitcoin berada di masa yang sulit dan bisa jatuh lebih dalam atau bakal tertahan di antara US$30.000-US$36.800.

Bitcoin diharapkan bisa bergerak menuju level support-nya karena semakin lama harga bertahan di bawah US$39.600, semakin besar kemungkinan pergerakan turun. Sementara untuk BTC masuk ke situasi bull harus melewati rintangan overhead di US$45.821.

“Overall market masih akan turun sampai bulan Maret. Tapi dari penurunan ini akan ada sedikit pullback, dilihat dari teknikal analisisnya hampir secara keseluruhan aset kripto, baik Bitcoin, Ethereum dan lainnya sudah menunjukan pola reverse cup and handle,” ujar Afid.

Pola reverse cup and handle sendiri adalah grafiknya menunjukkan sinyal bearish yang mengindikasikan tren penurunan harga. Ketika harga aset kripto tembus level bawah dari pegangan cangkir, keadaan ini merupakan sinyal bagi investor atau trader untuk keluar dari posisi long dan memasuki posisi short.

Afid menjelaskan, harga aset kripto masih terkait dengan dominasi Bitcoin. Apabila Bitcoin terus alami penurunan dan tekanan, aset kripto lainnya atau yang biasa disebut altcoin akan bernasib sama atau bahkan lebih buruk. Maka dari itu muncul istilah Bitcoin sebagai Mother of Crypto.

Sementara itu, naik-turunnya pasar kripto juga secara langsung berkaitan dengan penawaran dan permintaan. Peristiwa yang berdampak pada ekonomi secara global menentukan kebutuhan orang untuk membeli atau memiliki aset digital tersebut. Selama periode ketegangan geopolitik, investor cenderung menghindari aset yang bergejolak dan menyimpan uang mereka di aset safe-haven seperti uang tunai dan emas.

Di kala pasar kripto sedang turun, investor beranggapan bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk masuk. Namun, hal ini perlu diwaspadai oleh investor, mengingat volatilitas kripto yang masih cukup tinggi dan belum ada katalis positif yang dapat mengangkat kembali performanya, walaupun sudah terlihat akan rebound.

Menurut Afid, investor harus paham risiko investasi aset kripto. Lakukan analisa fundamental dengan mempelajari aset kripto, sebelum berinvestasi. Serta melakukan analisa teknikal untuk menentukan waktu yang tepat dalam membeli, menjual atau take profit aset. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]