News Update

Insentif Mobil Listrik Berakhir, OJK: Pembiayaan Tetap Moncer di 2026

Poin Penting

  • Insentif mobil listrik impor CBU berakhir per 31 Desember 2025, namun OJK menilai pembiayaan kendaraan listrik tetap tumbuh positif pada 2026.
  • Pembiayaan kendaraan listrik terus meningkat, dengan outstanding industri multifinance mencapai Rp21,31 triliun pada November 2025.
  • OJK mendorong multifinance memperkuat strategi, termasuk manajemen risiko, penyesuaian skema pembiayaan, dan kolaborasi ekosistem otomotif.

Jakarta – Insentif untuk mobil listrik impor utuh (completely built-up/CBU) untuk mobil listrik di Indonesia resmi berakhir pada 31 Desember 2025. Meski demikian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai prospek pembiayaan kendaraan listrik masih akan tumbuh positif pada 2026.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman mengungkapkan berbagai faktor pembiayaan kendaraan listrik tetap moncer meski berakhirnya insentif tersebut.

“Pembiayaan kendaraan listrik pada tahun 2026 diperkirakan dapat terus tumbuh positif seiring meningkatnya minat terhadap kendaraan ramah lingkungan, bertambahnya pilihan merek, serta dukungan kebijakan,” ujar Agusman, dalam keterangannya, dikutip Senin, 19 Januari 2026.

Baca juga: Pembiayaan Kendaraan Listrik Diproyeksi Makin “Nyetrum” hingga Akhir 2025

Berdasarkan data OJK, pada November 2025, pembiayaan kendaraan listrik oleh industri multifinance tumbuh 1,99 persen mtm menjadi sebesar Rp21,31 triliun.

Bahkan, outstanding pembiayaan kendaraan listrik tersebut lebih besar pada pada Agustus 2025 sebesar Rp19,45 triliun.

Segmen Kendaraan Bermotor Masih Dominan

Adapun penyaluran pembiayaan industri multifinance per Agustus 2025 multifinance didominasi oleh segmen kendaraan bermotor dengan porsi sebesar 76,17 persen dari total outstanding pembiayaan atau senilai Rp405,79 triliun.

Baca juga: Jurus Adira Finance Genjot Pembiayaan Syariah di Awal 2026

Agusman mendorong perusahaan multifinance untuk aktif bergerak agar kinerjanya tetap terjaga.

Supaya tersebut meliputi penguatan manajemen risiko, penyesuaian skema pembiayaan dengan karakteristik kendaraan listrik, serta berkolaborasi dengan ekosistem otomotif dan infrastruktur pendukung. (*) 

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Harga Minyak Terancam Melonjak Imbas AS dan Israel Serang Iran

Poin Penting Konflik AS–Israel vs Iran ancam 20 persen pasokan minyak global dan dorong harga… Read More

1 hour ago

Trump Deklarasi Perang Besar di Iran, Ini Potensi Dampaknya ke Ekonomi RI

Poin Penting Konflik AS-Iran memicu lonjakan harga minyak dunia dari sekitar USD73 hingga berpotensi USD120-140… Read More

15 hours ago

SMF Sebut Pendanaan Rumah Subsidi Tetap Terjaga di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

Poin Penting SMF memastikan pendanaan rumah subsidi dan FLPP tetap terjaga dan berkelanjutan meski ekonomi… Read More

15 hours ago

Istana Bantah Anggaran Pendidikan Dipangkas karena Program MBG

Poin Penting Istana memastikan anggaran pendidikan tidak dipangkas meski program Makan Bergizi Gratis (MBG) dijalankan.… Read More

15 hours ago

Kabar Baik untuk Guru Honorer, Insentif Naik dan Tunjangan Non-ASN Tembus Rp2 Juta

Poin Penting Insentif guru honorer naik menjadi Rp400.000, pertama kali meningkat sejak program berjalan sejak… Read More

15 hours ago

Industri BPD Didorong Adopsi Agentic AI untuk Akselerasi Transformasi Digital

Poin Penting Industri BPD didorong mengadopsi agentic AI untuk meningkatkan efisiensi, keamanan siber, kepatuhan, dan… Read More

16 hours ago