Market Update

Ini Tanggapan Pengamat soal Target IHSG 10.000

Poin Penting

  • Pengamat menilai target IHSG 10.000 pada 2026 bukan mustahil, asalkan didukung kebijakan konsisten dan stabilitas makro.
  • Peluang IHSG ditopang penurunan suku bunga global, arus dana asing, dan proyek strategis nasional.
  • Tantangan tetap ada, seperti volatilitas rupiah dan ketidakpastian global, sehingga selektivitas saham jadi kunci.

Jakarta – Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di level 10.000 yang digaungkan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa bukan hal mustahil untuk dicapai.

Menurut Hendra, secara keseluruhan IHSG pada 2026 berada dalam fase transisi menuju pertumbuhan yang lebih matang dan berbasis fundamental. Meski demikian, optimisme tersebut tetap memerlukan konsistensi kebijakan, stabilitas makroekonomi, serta terjaganya kepercayaan investor.

“Bagi pelaku pasar, 2026 bukan sekadar tahun mengejar euforia, melainkan momentum untuk lebih disiplin, selektif, dan strategis dalam memanfaatkan peluang di tengah dinamika global yang terus berubah,” ujar Hendra dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 5 Januari 2025.

Di samping itu, optimisme pemerintah terhadap target IHSG yang mampu menembus level 10.000 pada akhir 2026 mencerminkan keyakinan bahwa arah kebijakan ekonomi nasional akan tetap pro-market.

Baca juga: Purbaya: Akhir 2026 IHSG Berpotensi Tembus 10.000, Ini Kalkulasinya

Pernyataan Menkeu Purbaya tersebut dinilai bukan tanpa dasar, mengingat pemerintah masih memiliki ruang kebijakan fiskal, kelanjutan reformasi struktural, serta dorongan investasi jangka panjang.

Meski demikian, perjalanan menuju level psikologis tersebut diperkirakan tidak berjalan linier dan akan diwarnai oleh beragam peluang serta tantangan sepanjang 2026.

Dari sisi peluang, prospek IHSG pada 2026 ditopang oleh kombinasi kebijakan pemerintah yang mendorong pertumbuhan ekonomi, potensi pelonggaran moneter global, serta kesinambungan proyek strategis nasional. 

“Jika suku bunga global benar-benar memasuki fase penurunan, arus dana asing berpeluang kembali lebih deras ke emerging markets termasuk Indonesia,” imbuhnya.

Selain itu, agenda hilirisasi, transisi energi, serta penguatan sektor keuangan domestik menjadi faktor struktural yang dapat menjaga pertumbuhan laba emiten.

Tantangan dan Sektor yang Perlu Dicermati

Di sisi lain, sejumlah tantangan tetap membayangi pergerakan IHSG, mulai dari volatilitas nilai tukar rupiah, ketidakpastian geopolitik global, hingga risiko perlambatan ekonomi dunia.

Dengan kondisi tersebut, IHSG pada 2026 diperkirakan bergerak dalam tren naik bertahap, dengan volatilitas yang masih tinggi sehingga selektivitas saham menjadi semakin penting.

Senada, Pengamat Pasar Modal, Reydi Octa, secara pribadi juga optimistis IHSG mampu melesat ke level 10.000 pada 2026. Namun, menurutnya, pencapaian tersebut perlu didorong oleh kombinasi sentimen yang kuat dan konsisten sepanjang tahun. 

Reydi menyebutkan, sentimen utama pendorong IHSG berasal dari kebijakan moneter global dan domestik yang memasuki fase penurunan suku bunga, sehingga arus dana asing berpotensi mengalir ke pasar negara berkembang. 

Baca juga: Tancap Gas! IHSG Cetak Rekor Tertinggi Lagi ke Level 8.804

Kemudian, dari sisi kinerja laba emiten ke depan juga akan mendukung kenaikan IHSG, kembalinya dana asing semenjak IHSG tidak didominasi asing didukung oleh stabilitas politik dan perekonomian.

Adapun, menurut Reydi, sektor yang memiliki bobot besar seperti perbankan patut dicermati, di sisi lain saham-saham yang likuid dan bisa di akumulasi asing juga perlu diperhatikan.

Tak hanya itu, anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang lebih besar pada 2026 juga dinilai dapat mendorong kinerja sektor-sektor saham yang terkait dengan penyediaan bahan pangan untuk program tersebut. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

OJK Cabut Izin Usaha BPR Suliki Gunung Mas, Ini Alasannya!

Poin Penting OJK resmi mencabut izin usaha PT BPR Suliki Gunung Mas melalui KEP-1/D.03/2026 tertanggal… Read More

1 hour ago

Mantan Pincab BRI Tenggarong Mengadu ke Presiden, Kredit Macet Jadi Pidana Korupsi

Poin Penting Mantan Pincab BRI Tenggarong, Andriyani, divonis 10 tahun penjara karena kasus kredit macet… Read More

2 hours ago

Pesan Purbaya untuk Ketua dan Anggota Dewan Direksi LPEI yang Baru Dilantik

Poin Penting Dirjen Kekayaan Negara melantik Sukatmo Padmosukarso sebagai Ketua Dewan Direktur merangkap Direktur Eksekutif… Read More

3 hours ago

IHSG Dibuka Hijau Mendekati Level 9.000

Poin Penting IHSG dibuka menguat tipis 0,03 persen ke level 8.947,61 pada pembukaan perdagangan 8… Read More

4 hours ago

Update Harga Emas Hari Ini: Galeri24 dan UBS Kompak Naik, Antam Anjlok

Poin Penting Emas Galeri24 naik Rp17.000 menjadi Rp2.599.000 per gram dari sebelumnya Rp2.582.000 per gram.… Read More

4 hours ago

Rupiah Dibuka Melemah Seiring Investor Nantikan Rilis Data Cadangan Devisa RI

Poin Penting Rupiah melemah di awal perdagangan Kamis (8/1/2026) ke level Rp16.792 per dolar AS,… Read More

4 hours ago