Direktur Utama BSI Anggoro Eko Cahyo (tengah), Wakil Direktur Utama BSI Bob T. Ananta (kiri), Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho (kanan), dan Direktur Manajemen Risiko BSI Grandhis Helmi Harumansyah (paling kiri), serta Direktur Penjualan dan Distribusi BSI Anton Sukarna (paling kanan) dalam konferensi pers Kinerja Triwulan II 2025 BSI. (Foto: Erman Subekti)
Jakarta – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI merespons alokasi dana sebesar Rp10 triliun yang diberikan pemerintah dari total Rp200 triliun.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, mengatakan bahwa alokasi dana tersebut diharapkan mampu memperkuat Financing to Deposit Ratio (FDR) Perseroan yang saat ini berada di posisi 86 persen.
“Tentu saja kalau kita lihat FDR atau Financing to Deposit Ratio kami yang semula 91 persen sejalan dengan penurunan BI rate, tekanan FDR juga sudah mereda, sehingga di saat ini FDR kami ada di 86 persen tadi dampaknya kepada market,” kata Anggoro dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 22 September 2025.
Baca juga: BSI Catat Outstanding Pembiayaan Rp293,24 Triliun di Kuartal II 2025, Ini Penopangnya
Selain itu, ia menambahkan bahwa BSI akan berfokus pada sektor riil, yang mana BSI sendiri memiliki keunikan dari sisi produk hingga ekosistem berbasis syariah.
“Bagaimana kita mendorong value chain di bisnis islamic ekosistem, juga seperti makanan halal, fesyen halal, wisata halal, yang tentu saja harapannya dana tersebut dapat menggerakkan ekonomi nasional dan pada akhirnya kesejahteraan masyarakat,” imbuhnya.
Kemudian, BSI akan berfokus pada segmen-segmen retail yang resilient secara jangka panjang dan stimulus kebijakan yang disampaikan oleh pemerintah tentu saja akan meningkatkan daya beli masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
“Jadi kami mengapresiasi langkah tersebut dan kami di bank syariah tentu saja akan memastikan tersalurkan dengan prudent kepada sektor-sektor riil yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Anggoro.
Berdasarkan hal tersebut, BSI masih optimistis pertumbuhan kinerja perseroan hingga akhir 2025 masih mampu mengalami kenaikan double digit.
Adapun, laba bersih BSI pada kuartal II 2025 tumbuh double digit sebesar 10,21 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp3,74 triliun dari Rp3,39 triliun periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca juga: Tumbuh Double Digit, BSI Raih Laba Bersih Rp3,74 Triliun di Q2-2025
Kinerja positif itu didukung oleh pertumbuhan pembiayaan yang tumbuh lebih tinggi dari industri perbankan nasional yakni sebanyak 13,93 persen yoy dengan outstanding mencapai Rp293,24 triliun.
Mayoritas pembiayaan dikontribusi oleh segmen ritel dan konsumer termasuk emas sebesar Rp211,78 triliun yang mendominasi sebanyak 72,22 persen, disusul oleh segmen Wholesale sebesar 27,78 persen. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Status JKN PBI mendadak nonaktif akibat penyesuaian data, bukan pengurangan jumlah penerima bantuan… Read More
Poin Penting OJK menyiapkan kenaikan minimum free float emiten secara bertahap hingga 15 persen dalam… Read More
Poin Penting IHSG sesi I ditutup melemah 0,53 persen ke level 8.079,32, berbalik turun dari… Read More
Poin Penting Misbakhun membantah mengetahui isu namanya masuk bursa calon Ketua OJK dan menegaskan masih… Read More
Poin Penting OJK memperluas klasifikasi investor pasar modal dari 9 menjadi 27 jenis untuk meningkatkan… Read More
Poin Penting Indonesia jadi negara dengan pekerja paling bahagia di Asia Pasifik, dengan 82 persen… Read More