Keuangan

Ini Strategi BRI Finance Hadapi Tantangan Ekonomi Akibat Inflasi

Jakarta – PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) sudah menyiapkan langkah-langkah antisipasi strategis untuk menghadapi tantangan ekonomi karena inflasi yang tinggi, seiring dengan kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) dan juga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi dan non subsidi.

Corporate Secretary BRI Finance Taufiq Kurniadihardja mengatakan, pihaknya telah mengantisipasi tantangan ekonomi yang akan dihadapi melalui diversifikasi pendanaan. Termasuk salah satunya melalui penerbitan Obligasi I BRI Finance Tahun 2022 yang sudah dicatatkan efektif di Bursa Efek Indonesia sejak 10 Agustus 2022 lalu.

“Selain itu BRI Finance juga senantiasa mengupayakan agar maturity dari struktur pendanaan matching dengan struktur pembiayaan, dengan tetap memperhatikan cost of fund agar terjadi ketersesuaian antara pola pendanaan dan pola pembiayaan,” ujar Taufiq dalam keterangannya Senin, 12 September 2022.

Di sisi lain, BRI Finance mengakui, kenaikan suku bunga akan berpengaruh kepada kenaikan biaya dana atau cost of fund bagi perusahaan multifinance secara umum.

“Bagi perusahaan multifinance dengan proporsi funding jangka panjang lebih besar, maka kenaikan suku bunga acuan tidak berdampak signifikan terhadap besaran kenaikan cost of fund. Oleh karena itu, dengan keberhasilan menerbitkan obligasi pada Agustus lalu, kami lebih optimistis menghadapi tantangan ekonomi,” tegasnya.

Lanjutnya, penerbitan obligasi ini juga merupakan salah satu strategi BRI Finance guna mendukung inisiatif perusahaan sehingga ke depan lebih fokus ke pembiayaan konsumer yang memiliki karakteristik tenor panjang dan suku bunga tetap.

Selain itu, ia mengatakan, kenaikan harga BBM bisa berpotensi meningkatkan rasio pembiayaan bermasalah (Non Performing Finance/NPF). Sebab memberikan dampak menurunnya daya beli masyarakat sehingga bisa memengaruhi kemampuan debitur untuk membayar kewajiban angsuran. Di mana sebagian debitur akan memilih opsi menunda membayar angsuran guna memenuhi kebutuhan yang lebih primer.

“Oleh karena itu, kami tetap melanjutkan kebijakan prudential financing yang telah dilakukan selama ini secara konsisten. Juga memastikan bahwa calon-calon debitur yang mengajukan pembiayaan saat ini tentu telah memperhitungkan kemampuannya untuk membayar angsuran tepat waktu. Selain itu, jajaran bisnis juga diminta untuk melakukan monitoring sektor-sektor industri yang terdampak langsung kenaikan harga BBM, dan menjaga kualitas aset pembiayaan eksisting,” tambahnya.

Sementara itu, kendati kenaikan harga BBM berisiko pada industri pembiayaan, Taufiq menegaskan, BRI Finance masih dapat mengambil kesempatan dari hal tersebut. Yaitu potensi pertumbuhan penjualan kendaraan listrik. Saat ini BRI Finance sudah menyediakan fasilitas pembiayaan kendaraan berbasis listrik, baik untuk kendaraan roda 2 maupun roda 4.

“Diyakini bahwa kenaikan harga BBM akan meningkatkan animo dan minat masyarakat untuk shifting membeli dan menggunakan kendaraan berbasis listrik, karena dianggap jauh lebih efisien dalam hal biaya konsumsi dibandingkan kendaraan yang menggunakan BBM. Sehingga berpotensi untuk meningkatkan portofolio produk pembiayaan kendaraan berbasis listrik ke depan,” kata Taufiq.

Sebelumnya, perseroan telah menggandeng PT Smoot Motor Indonesia untuk memperluas pasar pembiayaan sepeda motor listrik. Hal ini seiring dengan aspirasi BRIF untuk memperbesar pangsa pasar pembiayaan konsumer sekaligus berperan aktif mendukung program pemerintah dalam peningkatan kendaraan ramah lingkungan.

Sebagai informasi, dilihat dari sisi proyeksi realisasi kinerja, BRI Finance pada tahun ini membidik pembiayaan tumbuh lebih dari 20%. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI ini juga optimistis menatap pasar di sisa tahun ini setelah penerbitan obligasi.

“Hal itu pun didukung kinerja BRI Finance yang sangat positif setidaknya hingga Mei 2022. Dengan laba bersih mencapai Rp25 miliar pada Mei 2022 atau melesat 126,41% dari periode yang sama tahun lalu yaitu Rp11 miliar,” Jelas Taufiq. (*) Irawati

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Ini Plus Minus Implementasi Demutualisasi BEI

Poin Penting Rencana demutualisasi BEI yang ditargetkan rampung kuartal I 2026 dinilai terlalu agresif dan… Read More

1 hour ago

DPR Soroti Konten Sensasional Jadi Pintu Masuk Judi Online

Poin Penting DPR menilai konten digital berjudul sensasional menjadi pintu masuk masyarakat ke praktik judi… Read More

1 hour ago

Program Gentengisasi Prabowo, Menkeu Purbaya Proyeksi Anggaran Tak Sampai Rp1 T

Poin Penting Menkeu Purbaya memproyeksikan anggaran program gentengisasi sekitar Rp1 triliun, bersumber dari dana cadangan… Read More

2 hours ago

Fundamental Kokoh, Bank BPD Bali Catatkan Pertumbuhan Positif dan Rasio Keuangan Sehat

Poin Penting Bank BPD Bali mencatat laba bersih Rp1,10 triliun (tumbuh 25,39 persen yoy), aset… Read More

3 hours ago

Demutualization of the IDX, a “Bloodless” Coup Three OJK Commissioner Resign Honourably

By: Eko B. Supriyanto, Editor-in-Chief of Infobank Three commissioners of the Financial Services Authority (OJK)… Read More

3 hours ago

Danantara Dukung Reformasi Pasar Modal dan Kebijakan Free Float OJK, Ini Alasannya

Poin Penting Danantara menyatakan dukungan penuh terhadap reformasi pasar modal yang digulirkan OJK, termasuk kebijakan… Read More

4 hours ago