Ilustras: Perlambatan Ekonomi Global. (Foto: Ilustrasi)
Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan memiliki sejumlah fokus kebijakan untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mengalami perlambatan. Pada kuartal I-2025, pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 4,87 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), lebih rendah dibandingkan kuartal I-2024 yang mencapai 5,11 persen.
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar menjelaskan, OJK berupaya mengarahkan dan memberikan ruang bagi sektor keuangan agar semakin kontributif terhadap perekonomian, termasuk dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Fokus tersebut antara lain melibatkan peran strategis OJK dalam berbagai program dan kebijakan yang dijalankan oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Namun, OJK tetap mengutamakan penerapan manajemen risiko dan tata kelola yang baik. “Sehingga stabilitas sektor jasa keuangan terjaga,” ujar Mahendra dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK), Jumat, 9 Mei 2025.
Baca juga: OJK Dorong Pindar Perluas Skema Penilaian Kredit untuk UMKM
Selain itu, Mahendra menyebutkan, OJK akan terus merumuskan, menjaga, dan menjalankan berbagai langkah untuk memperdalam pasar keuangan.
Upaya tersebut mencakup perluasan aktivitas lembaga jasa keuangan, pengembangan instrumen keuangan yang inovatif, kemudahan akses keuangan, dan kebijakan untuk mengurai hambatan-hambatan yang dihadapi industri.
Lebih lanjut, tambah Mahendra, OJK sedang memfinalisasi aturan untuk mempermudah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mendapatkan akses pembiayaan.
“Kami mendukung berbagai kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah maupun para pemaku kepentingan, termasuk dunia usaha, untuk terus meningkatkan daya saing di sektor keuangan, sehingga dapat meningkatkan daya saing sektor riil secara menyeluruh,” katanya.
Mahendra menjelaskan bahwa dinamika global, termasuk ketidakpastian akibat pengumuman tarif oleh Presiden Donald Trump yang memicu perang dagang, turut memengaruhi perekonomian Indonesia.
“Hal-hal tadi tentu juga memengaruhi kondisi di Indonesia yang ditunjukkan oleh kinerja pertumbuhan pada kuartal I-2025 di tingkat 4,8 persen,” imbuh Mahendra.
Baca juga: Ekonomi RI Melambat ke 4,87%, Airlangga: Masih Lebih Baik dari Malaysia dan Singapura
Meski begitu, bila dibandingkan dengan negara ASEAN, perlambatan pertumbuhan Indonesia tidak sebesar negara-negara tetangga lainnya.
“Oleh karena itu, maka sekalipun tingkat pertumbuhannya lebih rendah dari perkiraan semula, tapi kita berharap bahwa resiliensi dari perekonomian Indonesia terhadap perkembangan dinamika global tadi, bisa tetap kuat sehingga tidak terlalu terdampak,” pungkasnya. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Tugure menyalurkan 300 paket sembako melalui program Bakti Sosial Ramadhan 1447 H. Seluruh… Read More
Poin Penting Rupiah melemah di pembukaan perdagangan ke level Rp16.971 per dolar AS, turun 0,08… Read More
Poin Penting Harga emas Galeri24 dan UBS di Pegadaian stagnan pada 16 Maret 2026. Harga… Read More
Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,54 persen ke level 7.098 pada awal perdagangan Senin (16/3).… Read More
Poin Penting IHSG diprediksi melanjutkan pelemahan dengan level support 6.865–7.000 dan resistance 7.275–7.410. Sentimen negatif… Read More
Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank Media Group MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa minggu… Read More