Ini Kata Analis Tentang Prospek Suram Ekonomi Inggris

Ini Kata Analis Tentang Prospek Suram Ekonomi Inggris

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

London – Inggris mencatatkan inflasi tertinggi sepanjang sejarah. Pada 2022 inflasi Inggris tercatat sebesar 9,1% atau tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Melonjaknya pinjaman dan menurunnya daya beli konsumen ikut memperparah gejolak ekonomi di negara ini.

Rhys Herbert, ekonomi senior Lloyds Bank, seperti dikutip dari The Guardian mengatakan, prospek ekonomi Inggris masih suram .  Hal ini dipicu oleh adanya tingkat ketidakpastian yang tinggi. “Inflasi yang tinggi tetap menjadi perhatian utama, tetapi karena pendorongnya masih bersifat internasional, kebjiakan untuk menggunakan suku bunga dalam memeranginya menciptakan tekanan pada ekonomi” ungkap Herbert.

Pinjaman pemerintah Inggris tercatat lebih tinggi daripada perkiraan Mei 2022, yakni mencapai 14 miiar poundsterling. Data Kantor Statistik Nasional mencatat, pembayaran bunga utang melonjak 70% pada tahun lalu menjadi 7,6 miliar poundsterling. Hal itu dipicu oleh pembayaran beberapa utang pemerintah Inggris, atau gilt, terkait dengan ukuran indeks harga eceran inflasi (yang mencapai 11,7% bulan lalu). Sehingga, ketika biaya hidup meningkat, tagihan bunga atas utang nasional ikut meningkat. Para analais mengatakan bahwa  ini adalah pembayaran bunga utang tertinggi ketiga yang dilakukan oleh pemerintah pusat dalam satu bulan dan pembayaran tertinggi sepanjang Mei tahun ini.

Beberapa ekonom mengatakan peningkatan pinjaman dan ekonomi Inggris yang melambat kemungkinan akan mendorong pinjaman pemerintah 20 miliar pundsterling lebih tinggi tahun ini. Paul Dales , kepala ekonom Inggris di konsultan Capital Economics mengatakan, dengan melemahnya ekonomi dan kenaikan suku bunga, keuangan publik mungkin akan berkinerja lebih buruk tahun ini .

Kepercayaan Bisnis Terimbas Penurunan

Gejolak ekonomi inggris juga ditandai oleh perlambatan yang dialami oleh perusahaan-perusahaan di negara ini. Dari Survey S&P Global terhadap manajer pembelian Inggris tercatatt pertumbuhan pesanan baru saat ini adalah yang terlemah sejak Februari 2021. Seperlima perusahaan melaporkan bahwa omset mereka menurun bulan lalu dibandingkan dengan April, sementara 14% melaporkan kenaikan omset. Dan lebih dari sepertiganya mengatakan bahwa rekor harga energi telah mempengaruhi produksi, pemasok atau keduanya.

Mereka mengaku bahwa bisnis mereka terpukul karena inflasi. S&V Global juga mencatat bahwa kepercayaan bisnis di Inggris merosot ke level terlemah sejak Mei 2020, karena perusahaan khawatir tentang pelanggan yang mengurangi pengeluaran, dan dampak inflasi yang cepat pada prospek ekonomi jangka panjang. Kantor Statistik Nasional mencatat pengeluaran kartu kredit dan debit mengalami penurunan hampir semua kategori pengeluaran, termasuk pengeluaran bahan bakar.

Baca juga : Meski Melemah Terhadap Dolar, Rubel Masih Perkasa

Namun demikian, Inggris mencatatkan angka yang cukup baik terkait penciptaan lapangan kerja. Hal ini didukung adanya banyak perekrutan yang besar di sektor jasa. Besarnya kebutuhan SDM ini otomatis mendorong biaya. Untuk menutupinya, perusahaan menaikkan harga dan membebankan semua biaya tersebut kepada pelanggan.

Chris Williamson , kepala ekonom bisnis di S&P Global Market Intelligence seperti dikutip dari The Guardian mengatakan, Inggris menghadapi gangguan resesi dan inflasi yang trennya meningkat.”Meskipun ada beberapa tanda bahwa inflasi dapat segera mencapai puncaknya, data survei menunjukkan bahwa tingkat inflasi sementara itu akan tetap tinggi secara historis untuk beberapa waktu mendatang, dan Inggris tampaknya akan menghadapi resesi dan gangguan inflasi saat memasuki paruh kedua tahun ini” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]