News Update

Ini Inisiatif BEI untuk Mendorong Keberlanjutan dan Ketahanan Iklim

Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI), sebagai regulator dan penyelenggara perdagangan di Pasar Modal Indonesia, terus mendorong implementasi keberlanjutan di pasar modal, khususnya yang berkaitan dengan ketahanan iklim. 

“BEI adalah anggota Sustainable Stock Exchange yang merupakan salah satu inisiatif PBB. Salah satu fokus dari Sustainable Stock Exchange adalah terpenuhinya SDGs ke-13 tentang penanganan perubahan iklim,” ujar Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia, Risa E. Rustam, di Jakarta, Rabu, 4 Desember 2024. 

Ia mengatakan, untuk mendukung hal tersebut, BEI melalui IDXCarbon telah memperkenalkan kelas aset baru. Yaitu, Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca atau yang populer disebut carbon credit (kredit karbon). 

“Diharapkan, keberadaan carbon credit ini dapat membantu perusahaan dalam inisiatif dekarbonisasi dan net zero. BEI juga telah penyelenggaraan program pelatihan IDX Net Zero Incubator yang bertujuan untuk mendukung dan menyediakan asistensi untuk perusahaan tercatat dalam rangka memulai upaya dekarbonisasi,” jelasnya. 

Baca juga : BEI Perluas Daftar Saham yang Masuk ke Fase Pre-Opening

Saat ini, kata dia, perusahaan perlu lebih aktif melakukan aksi pengurangan emisi gas rumah kaca, perluasan pemanfaatan energi hijau, offset karbon, pengolahan dan daur ulang limbah, dan berbagai kegiatan untuk mengekang perubahan iklim. 

“Hal ini bukanlah kegiatan corporate social responsibility, melainkan investasi. Investasi lingkungan, sosial, dan bisnis yang akan sangat bermanfaat bagi keberlanjutan bisnis perusahaan itu sendiri,” bebernya.

Investasi Ketahanan Iklim

Sementara itu, Managing Director Investing on Climate, Ardian Taufik Gesuri, menyebutkan bahwa berinvestasi pada ketahanan iklim tidak hanya mendukung keberlanjutan, tetapi juga membuka peluang bisnis dan penghematan biaya yang signifikan.

“Masa depan menjadi lebih hijau. Konsumen dan investor pun makin banyak yang menginginkan produk dari produsen yang ramah lingkungan. Transisi menuju masa depan tanpa emisi ini dapat menciptakan peluang pertumbuhan baru bagi bisnis, yang akan mendatangkan lapangan kerja baru dan dapat merevitalisasi ekonomi,” ujar Ardian. 

Baca juga : BEI Kantongi IPO 39 Perusahaan, Nilainya Tembus Rp5,87 Triliun

Apalagi, menurut jurnalis lingkungan Bina Bektiati, Indonesia sebagai negara tropis memiliki keanekaragaman hayati lebih banyak ketimbang negara-negara lain, atau mega biodiversity, sehingga dapat berperan signifikan dalam mendukung pencapaian target iklim. 

“Peran penting Indonesia ini tidak hanya dalam skala regional, tapi juga global. Melalui berbagai macam bentuk kegiatan restorasi ekosistem dan penurunan emisi gas kaca lainnya, Indonesia mampu meningkatkan kesejahteraan, dan mewujudkan bumi lestari,” ujar mantan jurnalis lingkungan yang pernah berkarier di majalah berita mingguan. 

Memang, transisi menuju masa depan tanpa emisi gas rumah kaca ini membutuhkan pendanaan iklim yang sangat besar. Namun, dari berbagai konferensi dan pertemuan, seperti COP29, kesepakatan pendanaannya ternyata mengecewakan. 

Kekurangan pendanaan ini akibatnya juga akan ditanggung oleh semua pihak, termasuk berbagai bidang bisnis dan usaha. 

“Kami di Investing on Climate mendukung terwujudnya kecukupan pendanaan untuk berbagai aksi iklim dan penurunan emisi gas rumah kaca. Tentu formulasi kolaborasi dunia usaha, pemerintah, peneliti, dan masyarakat sipil diarahkan untuk mewujudkan paduan kreatif pendanaan iklim,” ujar Bina. 

Investing on Climate merupakan wadah dari beberapa rekan jurnalis, yang didukung juga oleh ahli ekonomi lingkungan serta pemerhati perubahan iklim. Forum ini berfokus di bidang pengurangan emisi, transisi ke energi hijau, restorasi ekosistem, dan kegiatan lainnya yang bertujuan mendorong ketahanan iklim untuk keberlanjutan kita semua. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Berpengalaman sebagai jurnalis sejak 2014. Saat ini bertugas menulis tentang isu nasional, internasional, ekonomi, perbankan, industri keuangan non-bank (IKNB), hingga Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Recent Posts

Perjanjian Dagang RI-AS: Era Kecemasan Sistem Pembayaran dari “Ayat-ayat Setan”

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pemimpin Redaksi Infobank Media Group DUNIA tak lagi volatile, tapi sudah… Read More

12 mins ago

Prudential Indonesia Luncurkan PRUMapan, Sasar Kebutuhan Proteksi Generasi Sandwich

Poin Penting Prudential Indonesia meluncurkan PRUMapan, asuransi jiwa tradisional yang menyasar milenial dan Gen Z,… Read More

6 hours ago

Dana Abadi LPDP Tembus Rp180,8 Triliun, Intip Rincian Alokasi dan Penggunaannya

Poin Penting Dana abadi LPDP mencapai Rp180,8 triliun, dengan alokasi terbesar untuk pendidikan Rp149,8 triliun,… Read More

6 hours ago

MTF Telusuri Dugaan Tindak Pidana yang Mengatasnamakan Perusahaan

Poin Penting PT Mandiri Tunas Finance (MTF) melakukan penelusuran menyeluruh atas dugaan tindak pidana yang… Read More

6 hours ago

ISEI Dorong Reformulasi Kebijakan UMKM Lewat Industry Matching di Bogor

Poin Penting ISEI dorong kebijakan berbasis praktik lapangan melalui ISEI Industry Matching bersama YDBA untuk… Read More

7 hours ago

Bank Mandiri Siapkan Rp44 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Ramadan-Lebaran 2026

Poin Penting Bank Mandiri menyiapkan Rp44 triliun uang tunai untuk ATM/CRM selama 24 Februari-25 Maret… Read More

8 hours ago