Keuangan

3 Faktor Penghambat Penggunaan Contactless Payment di RI

Jakarta – Contactless payment atau pembayaran nirsentuh meningkat pesat secara global seiring dengan kemajuan teknologi. Head of Product & Solutions PT Visa Worldwide Indonesia, Dessy Masri mengatakan, di Indonesia sendiri masih belum mengadopsi contactless payment dalam bertransaksi. Pasalnya, ada sejumlah faktor yang menghambat penggunaan contactless payment tersebut di Tanah Air.

“Memang sekarang kita mulai contactless nya dengan kartu fisik, tapi ke depan sebenarnya akan berlaih non fisik tanpa ada kartu fisik. Untuk itu sebenarnya ada beberapa faktor yang menghambat,” ujar Dessy dalam Contacless Talk Visa Indonesia, Senin 19 Juni 2023.

Pertama, belum adanya regulasi dari pihak regulator untuk penggunaan contactless payment. Dibandingkan negara lain sebenarnya Indonesia terlambat dalam menerbitkan peraturan tersebut.

“Waktu kita me-launch mandatory untuk contactless, kita dibandingkan negara lain Indonesia ini terlambat, namun sekarang sudah. Jadi para issuer itu sudah mengeluarkan kartu kredit ataupun kartu debit sudah mulai menggunakan kartu contactless. Tapi mungkin sebagian dari kita belum terima karena issuer itu melakukan penggatian kartunya pada saat renewal, jadi memang belum semuanya kartu yang beredar ini contactless,” ungkap Dessy.

Baca juga: Bank Raya Terus Dorong Minat Masyarakat Bertransaksi Non Tunai

Kedua, edukasi untuk pelaku usaha atau merchant. Dessy menjelaskan, di mana masih sekitar 50% dari merchant sudah bisa menggunakan contactless payment untuk bertransaksi. Di sisi lain, juga masih banyak merchant yang belum mengerti cara penggunaannya.

“Kita lihat 50% dari merchant kita yang ada itu sudah contactless enable jadi masih ada 50% lagi PR-nya untuk di enable. Edukasi terhadap merchant ini juga penting, kalau di luar negeri mesinnya sudah dihadapkan ke konsumen jadi kita yang langsung tap, kalau di sini kita masih handover ke merchant-nya dan juga kadang merchant-nya belum tau cara menggunakan mesinnya,” jelasnya.

Ketiga, infrastruktur jaringan yang belum memadai, terutama pada debit contactless yang menggunakan jaringan GPN. Tentunya, infrastruktur tersebut diperlukan kerja sama antar industri dan juga regulator.

“Persiapan dari jaringan GPN itu untuk memproses contactless tentunya perlu kerja sama dengan para switching juga dengan regulator, bagaimana membuat infrastruktur bisa dijalankan sama seperti yang terjadi di luar negeri,” imbuhnya.

Sebagai catatan, di Indonesia penggunaan kartu contactless hanya sebesar 3%. Lain halnya jika konsumen Indonesia pergi ke luar negeri sebesar 40% sudah menggunakan contactless payment sebagai transaksi. Jika dibandingkan dengan Australia dan Singapura, kedua negera tersebut sudah menggunakan contactless payment sebesar 99%.

Baca juga: Nasabah BNC Kini Bisa Tarik Tunai di Indomaret

Dessy pun mengatakan, penggunaan contactless payment dalam bertransaksi bisa didorong mulai dari hal kecil terlebih dahulu, misalnya penggunaan pada transportasi umum.

“Kalau contactless ini banyak digunakan untuk aktifitas kecil yang sering dipakai, itu juga akan kalau di transportasi umum seperti MRT, KRL, dan Busway itu sudah menerima contactless itu akan sangat membantu,” pungkasnya. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

3 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

4 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

5 hours ago

Meluruskan Penegakan Hukum Tipikor di Sektor Perbankan yang Sering “Bengkok”

Oleh A.Y. Eka Putra, Pemerhati Ekonomi dan Perbankan PENEGAKAN hukum tindak pidana korupsi di sektor… Read More

9 hours ago

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

17 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

18 hours ago