Ini Disrupsi 2023 Yang Harus Diwaspadai Para CEO

Ini Disrupsi 2023 Yang Harus Diwaspadai Para CEO

Ini Disrupsi 2023 Yang Harus Diwaspadai Para CEO
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Oleh Karnoto Mohamad, Wakil Pemimpin Redaksi Infobank

DUNIA sedang menyongsong tahun 2023. Para pemimpin bisnis yang sedang menyusun business plan menempatkan ancaman inflasi sebagai risiko terbesar yang akan memicu resesi global dalam 12 bulan ke depan. World Bank pun memprediksi adanya potensi resesi.

International Monetary Fund menyatakan perekonomian dunia sedang menuju kegelapan. The Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) sudah merevisi pertumbuhan ekonomi global dari 2,8% menjadi 2,2%. Begitu pun para ekonom dunia yang menyebutkan bahwa probabilitas perekonomian dunia terkontraksi dua kali berturut-turut terjadi di sebagian negara.

Negara-negara Eropa sudah babak belur dihajar inflasi dan dihantui resesi dengan probabilitas 50%. Inflasi di Eropa mencapai 10% per September lalu, atau tertinggi sepanjang sejarah. Di Asia, Sri Lanka menjadi negara yang paling berpotensi dilandai resesi ekonomi dengan probabilitas 85%.

Indonesia yang memiliki kemungkinan mengalami resesi ekonomi hanya 3%. Namun, Indonesia tentu tidak bisa lolos dari dampaknya. Kendati neraca perdangan surplus karena ledakan harga komoditas, tapi cadangan devisa mengempis dan nilai tukar rupiah merosot. Perlambatan pertumbuhan ekonom tahun depan bakal terjadi. Sebab, resesi ekonomi global selalu membawa dampak, mulai dari instabilitas pasar keuangan global, likuiditas mengetat, permintaan melemah, kinerja sektor riil melemah dan mengganggu cash flow pelaku usaha, hingga menurunnya kualitas kredit di perbankan.

Industri perbankan menjadi sektor yang paling cepat mendapatkan pengaruh dari perkembangan ekonomi global dan perubahan tren di era digital. Menurut Biro Riset Infobank dalam Kajian Banking and Finance Outlook 2023, ada sejumlah risiko yang harus dicermati para CEO di sektor perbankan.

Satu, dari sisi liabilitas dan risiko kenaikan biaya dana (cost of fund) akibat gelombang pengetatan moneter oleh negara-negara di dunia untuk memerangi gempuran inflasi. Sampai medio tahun ini, industri perbankan menikmati panen dana murah. Beban bunga dibandingkan DPK mengalami tren menurun dari 4,66% pada 2019, 3,42% pada 2020, 1,99% pada 2021, dan 1,00% pada Juni 2022. Setelah BI menaikkan suku bunga acuan dari posisi 3,50% menjadi 3,75% pada Agustus, naik lagi menjadi 4,25% pada September, lalu naik menjadi 4,75% pada Oktober 2022, dan jika likuiditas di pasar berisiko akan menjadi ketat.

Dua, aset perbankan dengan risiko kenaikan NPL. Perlu dicatat bahwa luka dalam di dunia usaha akibat pandemi COVID-19 belum sembuh dan membutuhkan waktu untuk konsolidasi. Jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memperpanjang beleid tersebut, maka  NPL perbankan yang sudah menurun di bawah 3% berisiko kembali meningkat di atas 4%, hingga bisa menembus 6% sampai 7%.

Tiga, digitalisasi dan risiko serangan siber yang terus meningkat. Sepanjang 2021, setiap 11 detik ada satu serangan siber di dunia. Menurut Baker McKenzie dan Risk.Net, disrupsi teknologi informasi dan pencurian berada di urutan pertama dan kedua dalam Top 10 Operational Risk 2022. Indonesia bersama India menjadi negara yang mendapatkan serangan siber paling tinggi di dunia. 

Empat, sumber daya manusia (SDM) dan risiko kelangkaan talenta. Akselerasi digitalisasi, remote working, otomasi, dan semua perubahan yang terjadi dalam operasional maupun pelayanan menuntut pergeseran kebutuhan SDM dan kompetensinya. Seiring dengan transformasi digital  dan munculnya perusahaan start-up maka talenta-talenta yang sesuai kebutuhan menjadi sangat mudah pindah ke tempat lain.

Namun, para CEO sekarang umumnya sudah memiliki pengalaman mengarungi era disrupsi teknologi serta krisis yang belum pernah dirasakan yaitu dampak pandemi COVID-19, dan sebagian ikut menjadi tim manajemen yang merasakan dampak krisis global 2008. Pelajaran dari berbagai krisis yang sudah dilewati penting untuk dipetik dimana para pemimpin harus selalu cermat dan selalu siap dengan kemungkinan buruk yang datang dari mana saja.

Saat terjadi resesi ekonomi, ada perusahaan yang mengalami masalah hingga harus mengurangi banyak karyawan untuk mengurangi beban keuangan. Tetapi ada juga perusahaan bermasalah pada saat perekonomian sedang baik, dikarenakan tidak mampu berkompetisi. Lalu, ada juga perusahaan yang tetap survive di saat kondisi eksternal sedang sulit, bahkan tetap melakukan investasi baru dan merekrut karyawan.

Artinya, perusahaan yang jatuh ke dalam krisis lebih banyak disebabkan karena ketidaksiapan menghadapi risiko, atau perusahaan itu tidak dikelola secara profesional, salah kelola, atau tidak melakukan transformasi. Gagal dalam melakukan konsolidasi dan transformasi juga bisa menyebabkan krisis. Sebab, stagnasi atau kemunduran bisnis akibat adanya konsolidasi dan transformasi itu harus bersifat sementara, dan kalau itu berlangsung lama maka akan menjadi budaya. Budaya krisis.

Apa yang harus diantisipasi oleh para CEO di sektor keuangan dan BUMN? Siapa saja masuk dalam daftar Top100 CEO dan 200 Next Leaders? Simak selengkapnya di Majalah Infobank di Majalah Infobank Nomor 535 November 2022.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]