News Update

Ini Dampak RI Turun Kelas Jadi Negara Berpenghasilan Menengah Kebawah

Jakarta–  Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira menilai, penurunan kelas pendapatan perkapita Indonesia pada kategori negara berpendapatan menengah bawah (Lower Middle-Income Country) akan memberikan dampak negatif dan positif

Bhima yang merupakan mantan ekonom Indef ini menyebut, turunnya peringkat Indonesia ke lower midle income country ini punya beberapa konsekuensi diantaranya akan lebih lama dan sulit masuk ke negara maju.

“Indonesia akan lebih lama untuk menjadi negara maju dan prosesnya akan tertunda karena kita mundur ke belakang. Seharusnya setelah jadi midle income coutry kita menjadi high income country. Sekarang turun peringkat dan menuju proses menjadi negara maju ini kita makin terlambat,” kata Bhima kepada media di Jakarta, Kamis 8 Juli 2021.

Untuk dampak negatifnya Bhima menambahkan, Indonesia dikhawatirkan bakal terjebak dalam kelas menengah atau midle income trap yang cukup lama ditengah bonus demografi pada 2030 mendatang.

Meski demikian Bhima menyebut penurunan kelas tersebut memiliki dampak positif terhadap perdagangan Indonesia. Menurutnya, Indonesia akan mendapatkan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP)

“Ada positifnya satu, Indonesia akan dapatkan fasilitas perdagangan seperti GSP. artinya kalau Indonesia mau ngirim barang keluar negeri, tarifnya bisa sangat rendah. karena dianggapnya negara yang pendapatan menegah ke bawah atau negara yang masih butuh asistensi dari negara-negara maju,” pungkas Bhima.

Sebagai informasi saja, Bank Dunia dalam laporan “World Bank Country Classifications by Income Level: 2021-2022” menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan penurunan pendapatan per kapita hampir semua negara di dunia, termasuk Indonesia.

Pendapatan per kapita Indonesia turun dari US$4.050 di tahun 2019 menjadi US$3.870 di tahun 2020. Penurunan pendapatan per kapita ini membuat Indonesia kembali masuk pada kategori negara berpendapatan menengah bawah (Lower Middle-Income Country). Penurunan tingkat pendapatan per kapita selama masa pandemi ini tidak terelakkan.

Suheriadi

Recent Posts

OJK Cabut Izin Usaha Varia Intra Finance, Ini Alasannya

Poin Penting OJK mencabut izin usaha PT Varia Intra Finance (VIF) melalui SK Anggota Dewan… Read More

10 hours ago

Fundamental Kuat, Amartha Buka Peluang IPO

Poin Penting Amartha buka peluang IPO di Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari strategi pengembangan… Read More

11 hours ago

OJK Dorong Bank KMBI I Perkuat Permodalan Lewat Konsolidasi

Poin Penting OJK menilai bank KBMI I (modal inti hingga Rp6 triliun) masih berpeluang memperkuat… Read More

11 hours ago

Amartha Salurkan Pembiayaan Rp13,2 Triliun Sepanjang 2025, Mayoritas ke Sektor Ini

Poin Penting Amartha menyalurkan pembiayaan Rp13,2 triliun pada 2025, tumbuh lebih dari 20% secara tahunan,… Read More

11 hours ago

Perkuat Industri Kelistrikan, BNI-Siemens Indonesia Sepakati Pembiayaan Rp300 Miliar

Poin Penting BNI–Siemens Indonesia menjalin kerja sama pembiayaan Rp300 miliar untuk proyek dan modal kerja… Read More

12 hours ago

Tensi Geopolitik Memanas, Praktisi Pasar Modal Imbau Investor Lebih Waspada

Poin Penting Tensi geopolitik mendorong aliran dana ke USD, membuat rupiah tetap rentan meski sempat… Read More

12 hours ago