“Jadi mesti ditantang semua untuk mempersiapkan diri, harus investasi dan industrialisasi supaya kita bisa processing. Sebab selama ini semua masih andalkan ekspor bahan natural mentah. Kita jangan jadi negara konsumtif tapi harus produktif, makanya jangan hanya ekspor bahan mentah tapi harus ada added value,” jelas Agus.
Agus menambahkan, dengan penerimaan negara yang bertambah besar, otomatis akan berpengaruh pada defisit neraca transaksi berjalan. Jika dua strategi ini dapat dilakukan dengan baik, inflasi akan jauh lebih mudah dikendalikan sehingga target tahun ini dan selanjutnya dapat tercapai.
Baca juga: Menkeu Sambut Positif Tren Inflasi Bahan Pangan
“Perbaikan penerimaan negara dengan reformasi fiskal, juga akan membuat ketergantungan kita terhadap utang luar negeri akan rendah, selama ini defisit income kita karena harus bayar utang dan dividen yang besar setiap triwulan kedua,” ungkap Agus.
Agus berharap hingga tahun 2019 mendatang Indonesia sudah tidak lagi tergantung dengan asing untuk dapat menjual produknya ke luar negeri. Seperti diketahui, Pemerintah melalui BI telah mentargetkan angka inflasi hingga akhir tahun ini terjaga di angka sekitar 4 persen. (*)
Editor: Paulus Yoga
Page: 1 2
Poin Penting IHSG melemah 0,99% dalam sepekan ke level 7.026,78, seiring mayoritas indikator pasar saham… Read More
Poin Penting Fitur leverage memungkinkan transaksi lebih besar dari modal, tetapi juga memperbesar potensi kerugian… Read More
Poin Penting Harga emas global bergerak fluktuatif dipengaruhi faktor ekonomi, inflasi, suku bunga, dan geopolitik… Read More
Poin Penting BGN meminta maaf atas insiden keamanan pangan dalam program MBG di SPPG Pondok… Read More
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More
Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More