News Update

Ini Bentuk Startup yang Bakal Dibiayai Mandiri Capital

Jakarta–Mandiri Capital Indonesia (MCI) telah fokus mendanai beberapa perusahaan rintisan (fintech). Namun dalam memilih perusahaan yang akan dibiayai, MCI telah miliki tiga fokus unsur utama yang menjadi dasar fintech tersebut agar dapat lolos dibiayai oleh MCI.

“Mci memiliki tiga fokus investasi yaitu startup payment, startup lending, dan startup entertein solution,” ungkap Hira Laksanana selaku direktur keuangan MCI di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin, 19 Juni 2017.

Hira menambahkan, selain tiga unsur itu terpenuhi, setiap pelaku startup juga harus memiliki daya tarik tersendiri dan keaslian yang mempuni. Maka dari itu, ia menilai bahwa pada perusahaan PrivyID, sebuah usaha rintisan di bidang teknologi finansial dengan produk digital signature patut mendapatkan pendanaan.

“Kenapa tertarik, kita melihatnya akan ada paperless di masa depan dan kita ingin semakin hari semakin efisien,” ungkap Hira.

Teknologi tanda tangan elektronik ini memang terkesan masih baru di Indonesia. Namun Hira menilai potensi perkembangannya sangat besar, apalagi dengan banyaknya perusahaan yang bertransformasi ke digital. Potensi tersebut membuat MCI memutuskan untuk memimpin sindikasi pendanaan untuk investasi sekitar USD500 ribu atau sekitar Rp6,64 miliar pada PriviID.

Ditemui di tempat yang sama, pendiri PrivyID Marshall Pribadi mengatakan, banyak kalangan yang belum memahami konsep digital signature meragukan keamanan dari tanda tangan elektronik. Karena secara umum, dokumen elektronik dinilai sangat mudah diduplikasi dan manipulasi.

“Dalam digital siganture, kita pakai metode yang namanya assymetric cryptography. Ini sistem enkripsi yang membutuhkan dua kunci, yaitu public key dan private key,” jelas Marshall.

Dengan adanya public key untuk menguji keabsahan digital signature, seseorang tidak akan bisa menyangkal bahwa ia sudah tanda tangan. Selain itu, jika ada perubahan dalam dokumen juga bisa langsung diketahui. Untuk mendukung hal ini, pihak ketiga yaitu PrivyID akan berperan sebagai verifikator tambahan. Marshall menambahkan, meskipun baru berdiri pada 2016, PrivyID sudah memiliki sekitar 300.000 pengguna. (*)

 

 

Editor: Paulus Yoga

Suheriadi

Recent Posts

Ironi di Balik Kursi Terdakwa Kasus Sritex, Ketika Integritas Bankir Diadili Secara “Serampangan”

Oleh Tim Infobank SEMARANG, sebuah ruang pengadilan menjadi panggung sebuah drama yang memilukan sekaligus mengusik… Read More

1 hour ago

Modal Kuat dan Spin Off, OJK Optimistis Premi Asuransi Tumbuh

Poin Penting OJK optimistis premi asuransi tumbuh pada 2026 seiring membaiknya konsolidasi industri dan penguatan… Read More

2 hours ago

OJK Siapkan Langkah Sistemik Dorong Kredit UMKM

Poin Penting OJK menargetkan pertumbuhan kredit perbankan 10-12 persen pada 2026, dengan proyeksi pertumbuhan dana… Read More

6 hours ago

Teknologi Terpadu Tekan Risiko Gangguan Operasional IT

Poin Penting Kerusakan atau hang perangkat operasional seperti aplikasi kasir bisa menyebabkan gangguan bisnis serius… Read More

6 hours ago

Menko Airlangga Pamer Capaian Pertumbuhan Ekonomi 5,11 Persen, di Atas Negara-Negara Besar

Poin Penting Ekonomi Indonesia tumbuh 5,11% (yoy) pada kuartal IV 2025, tertinggi dalam empat kuartal… Read More

7 hours ago

Pemerintah Stop Subsidi Motor Listrik di 2026, Adira Finance: Penurunan Kredit Signifikan

Poin Penting Pemerintah resmi menghentikan subsidi motor listrik pada 2026, melanjutkan kebijakan tanpa insentif sejak… Read More

7 hours ago