Ekonomi dan Bisnis

Ini Alasan Garuda Gandeng Mahata

Jakarta – Keputusan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) menggandeng PT Mahata Aero Technology (Mahata) untuk menyediakan WiFi di pesawat-pesawat Garuda Group marak diperbincangkan.

Selain karena adanya pengakuan pendapatan yang sudah dimasukan Perseroan ke laporan keuangan tahun 2018 juga disebabkan dengan minimnya pengalaman kerja Mahata yang masih tergolong perusahaan start up.

Terkait dengan hal tersebut, Direktur Keuangan Garuda Indonesia menuturkan jika perseroan telah melakukan kajian feasibility study sebelum menjadikan Mahata sebagai partner.

Dari hasil kajian, perseroan melihat jika Mahata layak untuk menjadi partner karena tidak mengeluarkan biaya investasi dan mendapatkan value added peningkatan layanan kepada pelanggan dengan adanya WiFi tidak berbayar.

“Sekarang baru Garuda yang punya WiFi tapi WiFi penyediaanya ada biaya. Nah vendor yang sediakan Garuda itu bayar, makanya kita charge ke penumpang Rp300 ribu. Karena penumpang harus bayar, dengan bisnis baru bersama Mahata, Garuda tidak lagi bayar jadi gratis. Kan penumpang juga tidak bayar kita bisa sesuatu yang lebih baik ke penumpang. Jadi perubahan bisnis ini yang perlu dipahami ini adalah upaya perseroan untuk tambah layanan ke penumpang Garuda, Citilink dan Sriwijaya,” jelasnya, dalam paparan publik insidentiil, di Cengkareng, Rabu (8/5/2019).

Dalam kesempatan yang sama Direktur Teknik dan Layanan Garuda Indonesia, Iwan Joeniarto mengatakan jika Mahata Group memiliki kontrak kerjasama dengan Luthansa System, Luthansa Tecnik dan Inmarsat.

Kemudian, Mahata juga didukung oleh parent company Global Mahata Group dengan nilai bisnis US$640,5 juta. Mahata pun memperoleh pendanaan dari well vintage Dubai.

Terlebih lagi, Mahata menjadi satu-satunya perusahaan yang menawarkan konsep yang berbeda dengan zero investment dan revenue sharing diantara penawaran kerjasama yang masuk ke maskapai penerbangan nasional ini.

“Kita pilih Mahata juga tidak sembarangan, dia punya keunggulan dibanding yang lain karena di zero investment dan zero cost, dan dia memiliki konsep revenue sharing yang datang dari advertising. Hal ini akan mengurangi cost dan dapat revenue sharing,” ujarnya. (*)

Apriyani

Recent Posts

IHSG Ditutup Menguat di Atas 8.900, Bahan Baku dan Properti Jadi Penopang

Poin Penting IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 8.948,30 dengan nilai transaksi Rp33,54 triliun… Read More

16 mins ago

Belanja Nasional 2025 Moncer, Produk Lokal Sumbang Transaksi Besar

Poin Penting Event Belanja Nasional 2025 mencatat transaksi Rp122,28 triliun hingga 5 Januari 2026, melampaui… Read More

29 mins ago

Tak Semua Pegawai SPPG Jadi PPPK, Ini Penjelasan BGN Sesuai Perpres MBG

Poin Penting BGN menegaskan tidak semua pegawai atau relawan SPPG Program MBG dapat diangkat sebagai… Read More

46 mins ago

Saingi Malaysia, RI Siap Bangun Ekosistem Semikonduktor Senilai USD125 Miliar

Poin Penting Pemerintah telah menyetujui pengembangan ekosistem semikonduktor agar Indonesia mampu menyaingi Malaysia di industri… Read More

1 hour ago

Defisit APBN 2025 Nyaris 3 Persen, DPR Dorong Optimalisasi Pajak Sektor Strategis

Poin Penting Defisit APBN 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau 2,92 persen PDB, melampaui target awal… Read More

1 hour ago

Jurus Baru BSI Garap Segmen Ritel Syariah

Poin Penting BSI meluncurkan Lapak BSI di pasar tradisional untuk memperluas inklusi dan literasi keuangan… Read More

2 hours ago