Poin Penting
Jakarta – PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memproyeksikan penerbitan baru surat utang korporasi pada 2026 akan berada di kisaran Rp154 triliun hingga Rp196,86 triliun, dengan titik tengah Rp175,77 triliun.
Chief Economist Pefindo Suhindarto menyebutkan, setidaknya ada lima faktor utama yang akan mendorong pasar surat utang korporasi tahun depan.
“Pertama, kebutuhan refinancing yang masih tinggi. Nilai surat utang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp162,72 triliun,” jelasnya dalam acara Konferensi Pers secara virtual, Rabu (11/2).
Baca juga: Penerbitan Obligasi Korporasi Melonjak 89,87 Persen, Tembus Rp284,3 T Sepanjang 2025
Kata Suhindarto, kondisi ini membuat korporasi tetap aktif masuk pasar untuk membiayai kembali kewajiban mereka, sekaligus memanfaatkan momentum suku bunga yang lebih rendah dibandingkan 2025.
Kedua, prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat. Kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansioner diarahkan untuk menopang pertumbuhan pada 2026. Ini bisa meningkatkan kebutuhan pendanaan baik untuk modal kerja maupun ekspansi usaha.
“Ketiga, tren penurunan yield acuan. Pelonggaran moneter diharapkan berlanjut di 2026. Meskipun diekspektasikan pemangkasannya lebih rendah dari 2025,” kata Suhindarto.
Dengan rata-rata yield SUN tenor 5 tahun diproyeksikan turun dari sekitar 6,2 persen menjadi 5,8 persen pada 2026. Penurunan ini berpotensi menekan biaya dana emiten dan meningkatkan daya tarik penerbitan obligasi.
Baca juga: Pefindo Optimistis Obligasi Korporasi 2026 Tembus Rp196,86 Triliun
Faktor pendorong keempat adalah premi risiko yang relatif melandai. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah diharapkan memperbaiki struktur leverage perusahaan, sehingga persepsi risiko investor terhadap emiten korporasi menjadi lebih terkendali.
“Kelima, permintaan investor yang semakin kuat,” imbuhnya.
Investor institusi, seperti manajer investasi, dinilai mulai mencari imbal hasil lebih tinggi di pasar surat utang korporasi dibandingkan surat utang pemerintah. (*) Alfi Salima Puteri
Poin Penting Pangsa pasar oli Indonesia tumbuh rata-rata 2,5% per tahun, didorong oleh meningkatnya jumlah… Read More
Poin Penting Konflik AS-Iran memunculkan volatilitas, yang sebagian investor lihat sebagai momentum untuk membeli aset… Read More
Poin Penting SMF menyalurkan pembiayaan Rp20,88 triliun sepanjang 2025, naik 22,75%, dengan laba Rp565 miliar… Read More
Poin Penting Adira Finance catat pembiayaan baru Rp43,2 triliun, naik 18% di 2025. Laba bersih… Read More
Poin Penting AFPI berharap bank Himbara menyalurkan sebagian dari Rp200 triliun SAL ke industri pinjaman… Read More
Poin Penting Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi… Read More