Teknologi

Infobip Siap Rilis Agent OS, Bantu Bisnis Tumbuh di Tengah Tren “Rojali dan Rohana”

Poin Penting

  • Infobip akan meluncurkan platform Agent OS pada April 2026 untuk menyatukan fungsi omnichannel berbasis data perilaku konsumen.
  • Platform ini memanfaatkan AI guna mengotomatisasi tugas repetitif dan meningkatkan produktivitas customer service.
  • Agent OS ditujukan bagi sektor seperti retail, logistik, healthcare, serta perbankan dan jasa keuangan untuk mengoptimalkan strategi pemasaran.

Jakarta – Perusahaan jasa dan konsultan IT global yang bergerak di bidang cloud communications platform, Infobip, bakal segera merilis layanan terbarunya, Agent OS, pada April 2026.

Agent OS berfungsi sebagai platform yang menyatukan seluruh fungsi omnichannel ke dalam satu platform lewat data behavior konsumen yang terintegrasi, sehingga lebih memudahkan pelaku usaha dalam mengambil keputusan strategi marketing.

Enterprise Business Director Infobip Indonesia, Kukuh Prayogi menjelaskan, sebelum ada Agent OS, pendekatan penjualan atau marketing terhadap konsumen cenderung berhenti hanya di satu channel.

Misalnya, divisi customer service yang hanya bertugas memberikan jawaban dari pertanyaan pembelian konsumen, bisa dipantau prosesnya dan di-follow up dengan tindakan berikutnya oleh divisi marketing untuk melakukan penjualan.

Baca juga: IPOT Dorong Standar Teknologi Trading Lewat LADI

“Ada orang tanya pulsa, bagi head of customer service, dia bilang oke, KPI-nya naik. Tapi, bagi orang marketing, tunggu dulu. Meskipun dijawab oke, dilihat dulu 3 jam kemudian, dia (konsumen) isi form pembelian tidak?” ujar Kukuh dalam sebuah acara media interview di Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026.

“Tapi karena datanya terpisah, itu sudah diselesaikan oleh customer service, tapi marketingnya kan tidak tau nih. Jika datanya dijadikan satu, kan bisa di-create satu flow,” sambungnya.

Dengan fungsi Agent OS yang dilengkapi teknologi artificial intelligence (AI) ini, Kukuh mengatakan, produktivitas SDM dapat ditingkatkan karena adanya reduksi aktivitas pekerjaan yang repetitif seperti menjawab pertanyaan yang berulang dari konsumen.

Menurutnya, kehadiran AI tidak akan menggantikan peran jobdesk setiap profesi. Karena biar bagaimanapun, peran SDM tetap diperlukan untuk melakukan pengawasan dan melanjutkan (finishing) pekerjaan yang sudah dilakukan AI.

“Misalkan 1 CS, 1 hari bisa handle 100 tiket, tapi ada 50 yang repetitif. Kenapa tak dikasih ke AI, supaya dia tetap bisa handle 100. Itu jadi sesuatu yang lebih produktif. Kepuasan pelanggan juga makin tinggi,” jelas Kukuh.

Ia mengungkapkan jika layanan Agent OS ini menyasar ke segmen institusi-institusi yang memiliki end customer, seperti retail, transportasi, logistik, healthcare, serta banking dan financial service.

Terkait target adopsi Agent OS di market, pihaknya tidak memiliki target khusus. Namun, sejauh ini, Kukuh katakan, pihaknya telah mendapatkan feedback positif dari pasar terkait peluncuran Agent OS.

Kukuh turut menambahkan jika layanan Agent OS ini akan membantu perusahaan dalam memasarkan dan menanamkan value yang tepat kepada suatu produk.

Baca juga: Optimalkan Keputusan Bisnis, Inovamap Dorong Penetrasi Teknologi Geospasial di Sektor Perbankan

Fenomena Rojali dan Rohana

Menurutnya, fenomena rojali (rombongan jarang beli) dan rohana (rombongan hanya nanya) yang ramai dibicarakan akhir-akhir ini, bukan murni karena penurunan minat belanja akibat kesukaran ekonomi, tapi karena program belanja masyarakat sudah lebih terprogram.

Berbeda dengan masa sebelumnya, di mana masyarakat berbelanja akibat dorongan impulsif. Saat ini, masyarakat lebih bisa menahan diri untuk berbelanja berdasarkan keseimbangan value melalui berbagai momen tepat, seperti program diskon Harbolnas.

Menurutnya, pola-pola behavior inilah yang akan dengan mudah dibaca oleh sistem berlandaskan AI seperti Agent OS. Yang tak hanya membantu perusahaan dalam pemasaran, tapi juga konsumen dalam memilih produk berdasarkan proposisi personal value yang tepat.

“Data kita semuanya menunjukkan ada kenaikan (tren belanja). Kan ada Harbolnas 6/6, ‘yaudah nanti tunggu belinya waktu 6/6, jangan-jangan ada diskon’. Kalau 6/6 tak ada (diskon), ‘ah tidak ada nih’, dia tunggu sampai 7/7 gitu,” terangnya. (*) Steven Widjaja

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

KB Bank (BBKP) Balik Laba Rp66,59 Miliar di 2025, Ini Penopangnya

Poin Penting KB Bank balik laba Rp66,59 miliar di 2025 dari rugi Rp6,33 triliun pada… Read More

2 hours ago

Bank Mandiri Terbitkan Global Bond Pertama di Asia Tenggara Senilai USD750 Juta

Poin Penting Bank Mandiri terbitkan global bond USD750 juta dengan kupon 5,25% dan tenor 5… Read More

2 hours ago

Rancangan Reformasi Pasar Modal Rampung, OJK Segera Temui Pimpinan MSCI

Poin Penting OJK rampungkan empat reformasi pasar modal untuk tingkatkan transparansi. OJK akan temui MSCI… Read More

3 hours ago

RI Raup Rp575 Triliun dari Jepang dan Korea Selatan, Ini Hasil Kunjungan Prabowo

Poin Penting Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan menghasilkan komitmen bisnis Rp575… Read More

3 hours ago

AAUI: Implementasi PSAK 117 Masih jadi PR Industri Asuransi Umum

Poin Penting AAUI menyebut PSAK 117 masih jadi tantangan bagi industri asuransi umum. Kendala utama… Read More

3 hours ago

OJK Denda 233 Pelaku Pasar Modal di Kuartal I 2026, Capai Rp96 Miliar

Poin Penting Otoritas Jasa Keuangan menjatuhkan denda Rp96,33 miliar kepada 233 pelaku pasar modal pada… Read More

4 hours ago