Perbankan

Infobank Perbaiki Perhitungan LAR, Rasio Bank BCA Syariah Turun Jadi 5,53 Persen

Poin Penting

  • Infobank melalui birI memperbaiki perhitungan Loan at Risk (LAR) agar sesuai dengan ketentuan OJK (SE OJK No. 9/2020 dan No. 10/2020)
  • Perhitungan ulang berdampak pada perubahan angka LAR sejumlah bank, salah satunya Bank BCA Syariah, yang LAR-nya per September 2025 turun dari 8,79 persen menjadi 5,53 persen
  • LAR merupakan indikator dini risiko kredit perbankan yang dinilai lebih maju dibanding NPL karena mencerminkan potensi masalah kredit ke depan.

Jakarta – Infobank, melalui Biro Riset Infobank (birI), melakukan perbaikan atas perhitungan ulang loan at risk (LAR) perbankan yang sebelumnya ditampilkan dalam Majalah Infobank No. 573 edisi Januari 2026.

Perbaikan ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian dengan ketentuan regulator, sekaligus memberikan gambaran risiko kredit yang lebih akurat kepada pembaca dan pelaku industri.

Perbaikan perhitungan itu mengacu pada formula LAR sebagaimana diatur dalam Surat Edaran (SE) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. 9/2020 tentang transparansi dan publikasi laporan bank umum konvensional, serta SE OJK No. 10/2020 terkait transparansi dan publikasi laporan bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS). Dengan acuan ini, perhitungan LAR untuk bank konvensional, BUS, dan UUS diseragamkan sesuai ketentuan resmi.

Tabel LAR Bank Umum.

Seiring perhitungan ulang itu, sejumlah bank mengalami perubahan angka LAR dibandingkan yang sebelumnya dipublikasikan.

Salah satu yang mengalami penyesuaian adalah Bank BCA Syariah. Dalam edisi Januari 2026, LAR Bank BCA Syariah per September 2025 tercatat sebesar 8,79 persen. Tapi setelah dihitung ulang sesuai formula OJK, rasio LAR bank ini turun menjadi 5,53 persen.

LAR sendiri merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur proporsi kredit bank yang berpotensi bermasalah di masa depan. Rasio ini mencakup kredit dalam perhatian khusus, kredit yang direstrukturisasi, serta kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dengan kolektibilitas 3 hingga 5.

LAR menjadi indikator penting karena memberi sinyal dini atas risiko kredit sebelum benar-benar jatuh menjadi kredit macet.

Dalam konteks pengawasan perbankan, LAR dipandang lebih “maju” dibandingkan NPL karena tidak hanya melihat masalah yang sudah terjadi, tapi juga potensi masalah ke depan.

Rasio LAR yang rendah mencerminkan kualitas pengelolaan risiko kredit yang baik, karena menunjukkan porsi kredit berisiko relatif kecil dan portofolio kredit bank masih sehat.

Secara praktis, perhitungan LAR di industri perbankan Indonesia dilakukan dengan rumus: LAR = (kredit dalam perhatian khusus ditambah kredit bermasalah atau NPL gross dan kredit restrukturisasi) dibagi total kredit, kemudian dikalikan 100 persen. Kredit restrukturisasi yang dihitung mencakup kredit yang direstrukturisasi karena kesulitan debitur, baik yang masih tergolong lancar hingga macet.

Dengan perhitungan yang lebih tepat ini, Infobank berharap data LAR yang disajikan dapat menjadi rujukan yang lebih akurat bagi publik dan pelaku industri. Data selengkapnya terkait LAR perbankan yang telah dihitung ulang akan ditampilkan di Majalah Infobank No. 574 edisi Februari 2026 mendatang. (*) Ari Nugroho

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Ketidakpastian Hukum di Sektor Keuangan: Ketika Risiko Dikriminalisasi dan Harga Dianggap Kartel

Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More

6 hours ago

Cetak SDM Unggul, BSN Gandeng Universitas Terbuka

Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More

6 hours ago

CIMB Niaga Raih Penghargaan Most Trusted Financial Brand Awards 2026

Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More

9 hours ago

Konsistensi Fundamental, Tugu Insurance Catat Laba Rp711 Miliar di 2025

Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More

12 hours ago

ICEx Resmi Meluncur, Bangun Infrastruktur Bursa Kripto RI Berstandar Global

Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More

17 hours ago

Melonjak 96 Persen, Transaksi di ICDX Tembus Rp12.477 T pada Kuartal I 2026

Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More

18 hours ago