Ilustrasi: Proyeksi inflasi Desember 2023/istimewa
Poin Penting
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi di Januari 2026 sebesar 3,55 persen secara tahunan (year on year/yoy), tertinggi sejak Mei 2023 yang sebesar 4,04 persen. Angka ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi di Desember 2025 yang sebesar 2,92 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan penyebab inflasi yang tinggi pada Januari 2026 dibandingkan Desember 2025 dipengaruhi oleh adanya low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik pada Januari-Februari 2025.
Adapun tarif listrik pada Januari 2026 memberikan andil terhadap inflasi sebesar 1,59 persen secara yoy.
Baca juga: Indonesia Alami Deflasi 0,15 Persen di Januari 2026
“Pada Januari-Februari 2025 pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang tentunya akan menekan IHK (indeks harga konsumen) Januari-Februari 2025, serta ini mendorong terjadinya deflasi,” kata Ateng dalam Rilis BPS, Senin, 2 Februari 2026.
Ateng menyebutkan, penurunan IHK tersebut menyebabkan level harga pada Januari-Februari 2025 berada di bawah pola tren normalnya.
“Jadi kalau misalnya tarif listrik ada tren normalnya, tadi karena ada kebijakan diskon listrik maka tadi penurunan IHK-nya berada pada kondisi yang tren harga di bawah normal,” jelasnya.
Dengan demikian, ketika perhitungan inflasi tahun ke tahun (yoy) dilakukan pada periode yang sama tahun 2026, basis pembanding yang relatif rendah tersebut menghasilkan tingkat inflasi yang tampak lebih tinggi, meskipun dinamika harga berjalan relatif sejalan dengan tren fundamentalnya.
“Jadi setelah itu dinamikanya kita kembali normal. Terjadinya inflasi yoy di Januari dan Februari nanti (2026) ini terjadi karena ada low base effect akibat dari kebijakan tarif listrik yang diimplementasikan pada Januari-Februari 2025 yang lalu,” jelas Ateng.
Baca juga: 3 Provinsi di Sumatra Alami Deflasi Pasca Bencana
Ateng menyatakan, pada Maret-April 2026 tingkat inflasi akan kembali normal, selama pemerintah tidak menaikkan ataupun menurunkan harga listrik.
Adapun pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara bulanan (mtm) atau terjadi penurunan IHK menjadi 109,75 dari 109,92 pada Januari 2026. (*)
Editor: Galih Pratama
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pelaksanaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2026 berhasil menghimpun… Read More
Poin Penting WOM Finance menetapkan pembagian dividen tunai maksimal 30 persen dari laba bersih 2025,… Read More
Poin Penting BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi mengumumkan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi… Read More
Poin Penting DPR menyoroti perlunya kebijakan kredit yang lebih berpihak pada masyarakat, terutama pelaku UMKM… Read More
Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More