Moneter dan Fiskal

Inflasi Juli 2023 Naik, Ini Biang Keroknya

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan inflasi pada Juli 2023 sebesar 0,21% secara bulanan (mtm), lebih rendah dari inflasi Juni 2023 yang 0,14% mtm. Sedangkan, secara tahunan (yoy) inflasi tercatat sebesar 3,08% yoy, lebih rendah dibanding inflasi Juni yang 3,52% yoy.

Penurunan laju inflasi secara tahunan, disebabkan karena faktor high based effect (faktor basis tinggi) di mana inflasi yang tinggi pada Juli tahun lalu karena ada kenaikan harga kelompok BBM non subsidi, gas LPG dan tarif listrik rumah tangga di atas 3.500 VA.

Baca juga: BPS Catat Inflasi 0,21% di Juli 2023, Sektor Ini jadi Penyumbang Terbesar

Ekonom Senior dan Associate Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Ryan Kiryanto mengatakan, faktor pendorong lonjakan inflasi Juli 2023 secara bulanan, yaitu dikarenakan adanya kenaikan belanja atau konsumsi masyarakat di sektor pendidikan secara umum.

Hal ini seiring dengan pergantian tahun ajaran baru untuk tingkat SD hingga SLTA. Sedangkan, untuk perguruan tinggi biasanya di Agustus dan September.

“Selain itu, juga disebabkan oleh kenaikan harga sebagian kelompok bahan pangan seperti beras, telur, bawang putih, cabai merah dan rawit, serta harga BBM non subsidi seperti pertamax turbo, pertamina dex dan declite serta LPG,” ungkap Ryan dalam keterangan tertulis, Selasa 1 Agustus 2023.

Namun demikian, tambah Ryan, secara umum laju inflasi masih tetap terkendali di mana posisinya berada di kisaran target Bank Indonesia sebesar 2 – 4% yoy.

Terjaganya laju inflasi bulanan dan tahunan pada posisi Juli ini mengindikasikan bahwa BI bersama Tim Pengendali Inflasi Pusat dan Daerah mampu mengendalikan kestabilan harga di pasar, sehingga pembentukan harga barang secara umum bekerja normal sesuai mekanisme pasar dan sesuai dengan hukum penawaran dan permintaan yang relatif berimbang.

“Terkecuali, harga barang atau komoditas yang diatur oleh pemerintah seperti BBM, gas LPG dan tarif listrik,” katanya.

Baca juga: Tekan Inflasi, Bank Mandiri Ramal The Fed Bakal Naikkan Suku Bunga Sekali Lagi di 2023

Meskipun begitu, ke depan pemerintah, BI dan TPIP/TPID harus mewaspadai potensi ketersediaan bahan pangan yang mencukupi sekiranya terjadi perubahan iklim yang ekstrem sehingga timbul kemarau panjang (dampak El Nino atau La Nina) dan mengganggu hasil panen komoditas pangan.

“Stok bahan pangan harus dijaga dengan baik (oleh Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional dan Bulog) supaya tidak terjadi distorsi harga (anomali kenaikan harga) yang inflatoir karena persediaan terbatas sedangkan permintaan tinggi,” pungkas Ryan. (*)

Editor: Galih Pratama

Irawati

Recent Posts

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

16 mins ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

3 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

9 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

10 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

11 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

12 hours ago