News Update

Industri Pindar Mulai Pegang Peran Penting Perekonomian Indonesia, Ini Buktinya

Poin Penting

  • Industri pinjaman daring (pindar) semakin strategis mendukung UMKM, dengan akses cepat, fleksibel, dan lebih mudah dibanding perbankan.
  • Pembiayaan pindar produktif dorong omzet UMKM naik 121%, keuntungan bersih naik 155%, dan setiap Rp1 berdampak Rp6 pada ekonomi nasional.
  • Jumlah penerima pinjaman di luar Pulau Jawa meningkat 37,6% (yoy) menjadi 4,63 juta akun, dengan lender perbankan menyumbang 70% portofolio pindar.

Jakarta – Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bekerja sama dengan Katadata Insight Center merilis riset “Dari Alternatif Menjadi Imperatif: Peran Vital Industri Pindar bagi Ekonomi Digital Indonesia”.

Hasil riset menunjukkan industri pinjaman daring (pindar) semakin strategis dalam mendukung pembiayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terutama di tengah kesenjangan pembiayaan usaha kecil.

Survei terhadap 799 pelaku UMKM yang memperoleh pembiayaan pindar pada Desember 2025-Januari 2026 memperlihatkan pindar menjadi solusi cepat, fleksibel, dan lebih mudah dijangkau dibandingkan perbankan.

“Pindar sendiri sebagai platform digital itu memiliki beberapa kelebihan dibandingkan perbankan. Alasannya mulai dari pencairan dana yang cepat, proses cepat dan mudah, hingga aplikasi yang lebih ramah,” terang Senior Analyst Katadata Insight Center, Hanif Gusman, Selasa, 4 Maret 2026.

Baca juga: OJK: Ramadan Jadi Pendorong Pembiayaan Pindar

Survei menunjukkan rata-rata omzet bulanan UMKM meningkat hingga 121 persen, sementara keuntungan bersih naik 155 persen setelah mendapat pembiayaan pindar produktif.

Analisis input-output BPS memperlihatkan setiap Rp1 pembiayaan produktif dapat memberikan dampak hingga Rp6 terhadap perekonomian nasional, menciptakan multiplier effect yang signifikan.

Selain itu, pindar konsumtif juga berperan sebagai penyangga likuiditas rumah tangga ketika penyaluran kredit produktif melambat.

“Penyaluran (pembiayaan) produktif memang menurun. Tetapi, jika kita lihat dari sisi konsumtif saat pinjaman produktif menurun, di sinilah peran pindar konsumtif menjadi krusial sebagai bemper di aktivitas rumah tangga,” jelas Hanif.

Pindar Perkuat Akses Finansial dan Digital

Direktur Pengembangan Big Data INDEF, Eko Listiyanto menegaskan, peran pindar produktif dan konsumtif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya karena konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 50 persen PDB Indonesia. Pindar membantu menutup kesenjangan pembiayaan UMKM yang belum terjangkau sistem keuangan formal.

“Sebetulnya, ada UKM atau UMKM yang secara real, mereka sudah bisa dapat kredit, tapi malah tidak dapat kredit. Jadi, bukan karena nggak mampu. Sebetulnya, potensialnya mereka ini bisa dapat kredit. Tapi karena hambatan tertentu, mereka nggak dapat kredit,” bebernya.

“Segmen mikro dan informal itu memang belum terlayani secara optimal. Nah, dari situ kita melihat kelebihan pindar dalam melayani sektor ini,” tambah Eko.

Baca juga: AFPI: Industri Pindar Berperan Penting Dorong Inklusi Keuangan Nasional

Di sisi lain, Ketua Bidang Humas AFPI, Kuseryansyah, menyebut penetrasi pindar signifikan ke segmen yang belum tersentuh industri keuangan konvensional. Pada 2025, jumlah penerima pinjaman di luar Pulau Jawa meningkat 37,6 persen (yoy) menjadi 4,63 juta akun, dengan nilai penyaluran Rp8,44 triliun.

“Temuan research ini sejalan dengan penetrasi pindar yang signifikan kepada segmen yang belum sepenuhnya terjamah oleh industri keuangan konvensional,” ucap pria yang akrab disapa “Kus” itu.

Menurutnya, model operasional digital memungkinkan layanan pembiayaan tersedia lintas wilayah dan waktu. Salah satunya tecermin dari 2025, jumlah penerima pinjaman di luar Pulau Jawa meningkat 37,6 persen secara tahunan (yoy) menjadi 4,63 juta akun, dengan nilai penyaluran naik hingga Rp8,44 triliun.

Meski risiko wanprestasi tetap rendah (TWP90 di bawah 5 persen), tantangan transparansi biaya, tenor, dan literasi keuangan masih perlu diperkuat.

Baca juga: OJK Rilis Daftar Pindar Legal Terbaru, Simak Sebelum Ajukan Pinjaman

AFPI mendorong perbaikan tata kelola melalui kolaborasi dengan perbankan, literasi digital, dan peningkatan jumlah lender, yang kini telah mencapai 70 persen portofolio pindar.

“Kami punya PR untuk meningkatkan sinergi perbankan. Sekarang sebenarnya (lender) 70 persen itu not bad, sudah sangat baik sebenarnya. Cuma, ada ruang untuk memperbesar itu kalau kita juga nanti bisa bekerja sama dengan bank-bank pemerintah,” tegasnya. (*) Mohammad Adrianto Sukarso

Yulian Saputra

Berpengalaman lebih dari 10 tahun di industri media. Saat ini bertugas sebagai editor di infobanknews.com. Sebelumnya, ia menulis berbagai isu, mulai dari politik, hukum, ekonomi, hingga olahraga.

Recent Posts

Salurkan Pembiayaan Perumahan RP20,88 T di 2025, Laba SMF Tembus Rp565 M

Poin Penting SMF menyalurkan pembiayaan Rp20,88 triliun sepanjang 2025, naik 22,75%, dengan laba Rp565 miliar… Read More

59 mins ago

Naik 18 Persen, Adira Finance Catat Pembiayaan Baru Tembus Rp43,2 Triliun di 2025

Poin Penting Adira Finance catat pembiayaan baru Rp43,2 triliun, naik 18% di 2025. Laba bersih… Read More

1 hour ago

AFPI Dorong Bank Himbara Salurkan Rp200 Triliun SAL ke Fintech Pindar

Poin Penting AFPI berharap bank Himbara menyalurkan sebagian dari Rp200 triliun SAL ke industri pinjaman… Read More

1 hour ago

Timteng Memanas, Ini Langkah Pertamina Lubricants Jamin Ketersediaan Stok Nasional

Poin Penting Pertamina Lubricants memastikan stok oli domestik aman meski konflik AS-Israel vs Iran berpotensi… Read More

1 hour ago

Bidik Segmen Ini, BRI Life Perluas Portofolio Produk Berbasis Digital

Poin Penting BRI Life meluncurkan MODI, asuransi digital end-to-end yang bisa diakses sepenuhnya secara daring.… Read More

2 hours ago

Kuasai 70 Persen Kabupaten, Adira Finance Bidik Dominasi Pembiayaan di Daerah

Poin Penting Setelah akuisisi Mandala Finance, Adira Finance integrasikan 6.000 karyawan baru, total karyawan mencapai… Read More

2 hours ago