Keuangan

Industri Melambat, Begini Jurus ACA Jaga Pertumbuhan Premi

Poin Penting

  • Sepanjang 2025, ACA membukukan premi sekitar Rp6 triliun, melonjak tajam dibandingkan lima-enam tahun lalu yang masih di kisaran Rp2,5 triliun
  • Di tengah ketidakpastian ekonomi, klien korporasi tak lagi hanya mengejar premi murah, tetapi lebih mengutamakan keamanan dan kepastian klaim dibayar
  • ACA memperkuat permodalan dan kesehatan keuangan (termasuk RBC) guna meningkatkan kepercayaan pasar dan menopang pertumbuhan jangka panjang.

Jakarta – Di tengah ketidakpastian ekonomi dan pertumbuhan industri asuransi yang cenderung melambat, PT Asuransi Central Asia (ACA) justru mencatatkan kinerja solid.

Sepanjang 2025, ACA membukukan premi sekitar Rp6 triliun, mencerminkan lonjakan signifikan dibandingkan lima hingga enam tahun lalu yang masih berada di kisaran Rp2,5 triliun.

Direktur Teknik ACA, Syarifuddin, menilai capaian tersebut tidak terlepas dari pergeseran kebutuhan pasar, terutama di segmen korporasi, seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi.

“Dulu, sekitar 10 tahun lalu, klien masih sangat berorientasi pada premi murah. Sekarang, dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, mereka tidak hanya bicara harga, tetapi juga secure, rasa aman bahwa klaim benar-benar dibayar,” ujarnya kepada Infobank di Jakarta, Jumat (6/2).

Baca juga: Premi ACA 2025 Tumbuh 17 Persen di Tengah Perlambatan Industri

Menurut Syarifuddin, perubahan perilaku nasabah tersebut menggeser pola persaingan di industri asuransi. Harga tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penentu. Kesehatan perusahaan asuransi justru menjadi pertimbangan utama bagi klien korporasi.

“Korporasi sekarang melihat kualitas perusahaan asuransi, mulai dari permodalan, kekuatan finansial, sampai RBC. Ini yang menjadi patokan mereka,” jelasnya.

Baca juga: ACA Bayar Klaim Kerusakan Turbin PLN Batam Senilai USD 11,04 Juta

ACA, lanjutnya, merespons dinamika tersebut dengan memperkuat fundamental keuangan sebagai basis pertumbuhan jangka panjang.

“Yang kami perkuat memang dari sisi kapasitas dan kekuatan finansial. Itu yang akhirnya membangun kepercayaan pasar,” tegas Syariffudin. (*) Alfi Salima Puteri

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

Bank Mandiri Pastikan Livin’ Siap Temani Transaksi Nasabah Sepanjang Libur Idul Fitri

Poin Penting Bank Mandiri memastikan Livin’ by Mandiri tetap stabil dan beroperasi 24 jam untuk… Read More

8 hours ago

Sidang Isbat Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh pada 21 Maret 2026, Ini Alasannya

Poin Penting Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret… Read More

8 hours ago

Bank Mandiri Berangkatkan 10.000 Pemudik Gratis, Ini Fasilitasnya

Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More

8 hours ago

Laba Adi Sarana Armada (ASSA) Melesat 81 Persen di 2025, Bisnis Ini Paling Ngebut

Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More

11 hours ago

Pendapatan Agung Podomoro Land (APLN) Tembus Rp3,57 Triliun, Ini Penyumbang Terbesarnya

Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More

12 hours ago

Macet Mudik Tak Terhindarkan karena Transaksi Tol, Ini Solusinya

Poin Penting Kemacetan mudik di tol utamanya disebabkan bottleneck di gerbang transaksi, bukan semata lonjakan… Read More

13 hours ago