Foto udara dampak banjir bandang yang melanda permukiman penduduk di Jalan Murai, Sibolga, Sumatra Utara beberapa waktu lalu.(Foto: istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Industri asuransi jiwa mulai menyalurkan pembayaran klaim kepada korban bencana yang terjadi di Sumatra beberapa waktu lalu. Hingga saat ini, nilai klaim yang telah dibayarkan oleh perusahaan asuransi jiwa tercatat mencapai sekitar Rp2,6 miliar.
Ketua Dewan Pengurus Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Albertus Wiroyo mengatakan angka tersebut merupakan klaim yang sudah diselesaikan dan dibayarkan kepada nasabah terdampak.
“Sejauh ini nilai yang kami terima sekitar Rp2,5 sampai Rp2,6 miliar. Jadi sekitar Rp2,6 miliar itu sudah dibayarkan,” ujarnya saat ditemui usai acara Konferesi Pers Kinerja Full Year 2025 di Grha AAJI, Jumat (13/3).
Baca juga: Investasi Asuransi Jiwa Tembus Rp590,54 Triliun, Mayoritas Parkir di SBN
Menurutnya, pembayaran klaim tersebut berasal dari berbagai produk asuransi, baik asuransi jiwa maupun kesehatan yang dimiliki masyarakat di wilayah terdampak.
“Mix ya, ada yang dari asuransi jiwa dan ada juga dari kesehatan,” jelasnya.
Albertus mengungkapkan bahwa dalam situasi bencana, perusahaan asuransi jiwa mengambil langkah khusus untuk mempercepat proses klaim. Salah satunya dengan memberikan relaksasi dalam persyaratan dokumen serta memperpanjang batas waktu pengajuan klaim bagi nasabah.
“Teman-teman pelaku industri melakukan proses yang lebih cepat karena ini kan bencana. Jadi beberapa dokumen yang biasanya diperlukan itu dikurangi, kemudian batas waktu klaim juga diperpanjang,” jelasnya.
Ia juga mengapresiasi langkah perusahaan asuransi yang responsif dalam membantu nasabah di tengah situasi darurat. Menurutnya, percepatan klaim menjadi bentuk nyata fungsi perlindungan industri asuransi bagi masyarakat.
Namun di sisi lain, Albertus mengakui masih banyak masyarakat di daerah terdampak bencana yang belum memiliki perlindungan asuransi. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah terpencil yang akses terhadap produk asuransi masih terbatas.
Baca juga: Klaim Asuransi Kesehatan Naik 9,1 Persen Jadi Rp26,74 Triliun Sepanjang 2025
“Kami juga masih prihatin, apalagi yang terkena itu banyak di wilayah remote area. Ini juga menjadi salah satu pekerjaan rumah bagi industri,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa penetrasi asuransi di Indonesia perlu diperluas agar tidak hanya terpusat di kota besar atau segmen masyarakat berpenghasilan tinggi.
“Asuransi itu jangan hanya di kota besar saja, jangan hanya di segmen atas saja. Justru masyarakat kecil yang lebih membutuhkan perlindungan asuransi dibandingkan segmen atas,” tegas Albertus. (*) Alfi Salima Puteri
Oleh Anto Prabowo, Dosen FEB UNS Solo DI tengah dinamika kebijakan ekonomi nasional, munculnya dua… Read More
Dalam program tersebut, BSN memberikan dukungan pembiayaan pendidikan bagi pegawai aktif yang memenuhi kriteria, baik… Read More
Pada ajang tersebut, CIMB Niaga meraih tiga penghargaan, masing-masing pada kategori Produk Wealth Management untuk… Read More
Poin Penting Tugu Insurance mencatat laba Rp711,06 miliar di 2025, meningkat dari Rp401,57 miliar (restated).… Read More
Poin Penting ICEx resmi diluncurkan sebagai platform infrastruktur aset kripto berstandar institusional, didukung modal USD70… Read More
Poin Penting Notional value transaksi ICDX mencapai Rp12.477 triliun pada kuartal I 2026, melonjak 96%… Read More