Keuangan

Indonesia Re Optimistis Menutup 2024 dengan Kinerja Positif

Jakarta – PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau biasa dikenal dengan Indonesia Re mencatat raihan premi bruto per Oktober 2024 sebesar Rp5,52 triliun dan menghasilkan laba senilai Rp129 miliar.

Kepala Divisi Akuntansi Indonesia Re, Didik Mulyana mengatakan perolehan premi bruto dan laba di Oktober 2024 itu telah mampu melewati target yang ditetapkan oleh Perseroan. Sehingga, ia berharap hingga akhir tahun angka tersebut terus mengalami kenaikan.

“Untuk target 2024 ini mungkin secara realisasinya nanti di Desember yang mudah-mudahan meningkat dari bulan Oktober ya. Sampai dengan saat ini sih belum ada kejadian luar biasa. Mungkin mudah-mudahan sampai di akhir tahun nanti kita tetap on track sesuai dengan harapan atau target di RKAP,” ucap Didik dalam Media Literation Day di Bogor, 17 Desember 2024.

Sementara untuk target tahun depan, dirinya menjelaskan, Indonesia Re masih akan berfokus pada pertumbuhan yang positif dari sisi operasional dan upaya untuk meningkatkan rasio risk based capital (RBC) Perseroan.

Baca juga: Strategi Indonesia Re Hadapi Tantangan Ekonomi dan Pemerintahan Baru di 2025
Baca juga: 8 Perusahaan Asuransi dan 14 Dana Pensiun dalam Pengawasan Khusus OJK

Namun, Didik belum dapat menjelaskan secara rinci terkait dengan target Indonesia Re di 2025, karena masih dalam proses pengajuan di Kementerian BUMN dan perlu disepakati oleh manajemen hingga para pemegang saham.

“Nah untuk 2025 sendiri ya sebetulnya sama ya. Targetnya kita tetap secara operasional kita harus membukukan sesuatu yang positif walaupun RBC kita masih marginal. Mungkin untuk targetnya sih sebetulnya masih dalam pengajuan di Kementerian, karena kita dalam penyusunan RKAP juga di bulan ini,” imbuhnya.

Adapun, tingkat RBC untuk Indonesia Re pada Oktober 2024 mengalami penurunan menjadi 129,47 persen. Ini lebih rendah dibandingkan tahun 2023 yang tercatat sebesar 132,65 persen. Adapun tingkat minimum dari RBC berdasarkan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 120 persen.

“Nah itu sebetulnya kenapa walaupun kinerja kita membaik tapi RBC-nya masih merangkak naiknya tidak eksponensial gitu ya. Jadi kita perlu pengelolaan di sisi utang-utang yang cukup baik. Agar seluruh premi dapat tertarik lalu terus di pengelolaan investasinya seperti apa juga itu menjadi faktor yang mengapa tidak langsung memiliki kenaikan yang sempurna untuk di RBC,” ujar Didik. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Danamon Pede AUM Tumbuh 20 Persen di 2026, Ini Pendorongnya

Poin Penting Danamon targetkan AUM wealth management tumbuh 20 persen pada 2026, melanjutkan capaian 2025… Read More

37 mins ago

Moody’s Pangkas Outlook Indonesia dari Stabil Jadi Negatif

Poin Penting Moody’s menurunkan outlook utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, namun tetap mempertahankan peringkat… Read More

52 mins ago

Fundamental Solid, Bank Mandiri Perkuat Intermediasi dan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Poin Penting Di tengah pertumbuhan ekonomi nasional 5,11 persen pada 2025, Bank Mandiri mencatatkan aset… Read More

2 hours ago

Masjid Istiqlal Jalin Sinergi dengan Forum Pemred

Forum Pemimpin Redaksi (Pemred) bersinergi dalam diskusi bertema "Peran Masjid Istiqlal di Era Transformasi Digital… Read More

3 hours ago

Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2026

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan tahunan industri jasa keuangan yang digelar rutin untuk menyampaikan… Read More

3 hours ago

PaninBank Perkenalkan Aplikasi MyPanin

Dengan adanya MyPanin, menegaskan komitmen PaninBank dalam menghadirkan aplikasi layanan perbankan digital yang komprehensif, nyaman,… Read More

3 hours ago