Research & Development Principal PT Reasuransi MAIPARK, Hengki Eko Putra
Poin Penting
Jakarta — Indonesia telah memiliki sistem pemodelan bencana yang komprehensif melalui Indonesia Catastrophe Model (Cat Model) yang dikembangkan oleh PT Reasuransi MAIPARK Indonesia.
Model ini menjadi fondasi utama pengelolaan risiko bencana di sektor perasuransian nasional sejak lebih dari satu dekade lalu.
Research & Development Principal PT Reasuransi MAIPARK, Hengki Eko Putra, membeberkan, Cat Model Indonesia dikembangkan sejak 2008 dan rampung pada 2010. Model ini lahir dari pengalaman global, khususnya kegagalan bayar industri asuransi di Amerika Serikat akibat gempa besar, yang ingin dicegah dan tidak terulang di Indonesia.
“Kenapa kita bikin Cat Model? karena kita tidak mau kejadian di Amerika tadi terjadi lagi di Indonesia,” ujarnya, di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Baca juga: Tanpa Hal Ini, Asuransi Bencana Dinilai Tidak Akan Efektif
Dalam implementasinya, kata dia, Cat Model Indonesia dikemas dalam platform digital yang mudah diakses melalui mcm.maipark.com.
Platform ini memungkinkan pengguna memasukkan portofolio masing-masing untuk menghitung potensi kerugian, baik untuk asuransi komersial, rumah tinggal, maupun barang milik negara.
“Perbedaannya cuma di portopolio saja, hazard dan vulnerability itu cenderung sama, artinya dia bisa dipakai untuk seluruh aspek yang dibutuhkan,” bebernya.
Selain penetapan tarif, lanjut Hengki, Cat Model juga dipergunakan secara rutin oleh perusahaan asuransi untuk menyusun struktur reasuransi.
Model ini membantu menentukan batas pertanggungan (limit) dan retensi risiko, serta menjadi acuan dalam diskusi antara Maipark dan perusahaan asuransi (ceding company) setiap tahunnya.
Peran Cat Model Indonesia juga meluas ke kebijakan publik. Tahun lalu, ketika Kementerian Keuangan menggagas perlindungan pemerintah daerah melalui asuransi parametrik gempa, Maipark Catastrophe Modeling dijadikan rujukan utama.
Baca juga: Ini Elemen Kunci agar Asuransi Wajib Bencana Bisa Diterapkan di Indonesia
Skema ini memungkinkan pemerintah daerah menerima dana tunai dalam waktu sekitar dua minggu setelah gempa terjadi, sehingga dapat segera digunakan untuk penanganan darurat tanpa harus menunggu penetapan status bencana nasional.
“Dalam waktu 2 minggu sesudah gempa terjadi, produk ini menjadikan pemda dapat anggaran cash langsung dari Jakarta. Dipakai untuk mencegah kerusakan yang ditanggung,” jelasnya.
Sebagai ilustrasi, Maipark juga melakukan simulasi terhadap Badai Seroja yang melanda NTT pada 2021 silam. Apabila saat itu telah tersedia asuransi parametrik untuk curah hujan ekstrem, nilai klaim diperkirakan mencapai Rp300–400 miliar.
Dana tersebut dapat langsung dimobilisasi untuk penanganan awal, tanpa perdebatan administratif yang berlarut-larut. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Di tengah ketidakpastian global, wirausaha dan UMKM—yang mencakup lebih dari 97 persen struktur… Read More
Pendanaan ini merupakan bagian dari kolaborasi strategis jangka panjang antara kedua pihak yang terjalin sejak… Read More
Produk ini memiliki dua plan untuk melayani kebutuhan yang berbeda yaitu Plan Protection yang mengedepankan… Read More
Poin Penting Maybank luncurkan strategi ROAR30 hingga 2030 untuk memperkuat daya saing dan kinerja keuangan… Read More
Poin Penting Keterbatasan Early Warning System (EWS) membuat skema asuransi kebencanaan berisiko merugi dan sulit… Read More
Poin Penting IHSG pulih ke level 8.232 usai trading halt, setelah sempat anjlok lebih dari… Read More