Ilustrasi: Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Foto: isitmewa)
Jakarta – Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) mencatat, Indonesia berada posisi ketujuh ekonomi terbesar di dunia. Peringkat tersebut berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) yang disesuaikan dengan paritas daya beli (PPP) pada 2024.
Dilihat dari data IMF pada Selasa, 28 Januari 2025, posisi pertama sebagai ekonomi terbesar di dunia ditempati oleh China dengan PDB senilai USD37,07 triliun.
Posisi kedua ada Amerika Serikat dengan PDB sebesar USD 29,17 triliun Kemudian disusul, India yang berada di posisi ketiga dengan PDB sebesar USD17,36 triliun.
Di posisi keempat ada Rusia dengan capaian PDB sebesar USD7,13 triliun. Berikutnya ada Jepang dengan PDB sebesar USD6,77 triliun dan Jerman di posisi keenam dengan PDB sebesar USD6,02 triliun.
Baca juga: Sri Mulyani Proyeksi Ekonomi RI Stagnan 5 Persen pada 2024
Adapun posisi ketujuh Brazil dengan PDB sebesar USD4,7 triliun. Indonesia sendiri berhasil menempati posisi kedelapan dengan PDB senilai USD4,66 triliun.
Indonesia berhasil mengalahkan negara-negara maju seperti Prancis dan Inggris. Prancis tercatat di posisi kesembilan dengan PDB sebesar USD4,36 triliun dan Inggris berada di posisi kesepuluh dengan PDB sebesar USD4,28 triliun.
IMF menilai, Indonesia berhasil mencapai posisi kedelapan mencerminkan pertumbuhan yang signifikan di tengah tantangan global.
Sementara, Bank Indonesia (BI) merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2025. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ekonomi RI diperkirakan hanya akan tumbuh di kisaran 4,7–5,5 persen, dari sebelumnya 4,8–5,6 persen.
“BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2025 mencapai kisaran 4,7–5,5 persen, sedikit lebih rendah dari kisaran prakiraan sebelumnya 4,8–5,6 persen,” ujar Perry dalam konferensi pers Rabu, 15 Januari 2025.
Perry mengatakan, pada tahun ini pertumbuhan ekonomi diperkirakan cenderung lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Salah satunya faktornya adalah ekspor yang diperkirakan lebih rendah, sehubungan dengan melambatnya permintaan negara-negara mitra dagang utama, kecuali AS.
Baca juga: Bos LPS Beberkan Dampak Positif-Negatif Era Trump 2.0 bagi Ekonomi RI
Perry menyatakan BI akan terus mengoptimalkan bauran kebijakannya untuk tetap menjaga stabilitas dan turut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan melalui optimalisasi stimulus kebijakan makroprudensial dan akselerasi digitalisasi transaksi pembayaran yang ditempuh BI dengan kebijakan stimulus fiskal pemerintah.
“Lebih dari itu, BI mendukung penuh implementasi program-program Pemerintah dalam Asta Cita, termasuk untuk ketahanan pangan, pembiayaan ekonomi, serta akselerasi ekonomi dan keuangan digital,” imbuhnya. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More
Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More
Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More
Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More