Indonesia Harus Fokus Kembangkan Industri Makanan Halal

Indonesia Harus Fokus Kembangkan Industri Makanan Halal

Indonesia Harus Fokus Kembangkan Industri Makanan Halal
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on email
Share on linkedin

Jakarta – Indonesia menjadi negara dengan produk domestik bruto (PDB) paling besar di antara negara-negara Organization Islamic Cooperation (OIC) atau Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Berdasarkan data IMF 2020, PDB Indonesia mencapai USD1,10 triliun, mengungguli Arab Saudi dan Turki.

M. Anwar Bashori, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (BI) mengatakan besarnya PDB Indonesia merupakan kue besar ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong Indonesia menjadi pusat ekonomi syariah di dunia. Tentunya, untuk mencapai hal itu, Indonesia harus punya strategi besar agar tidak hanya menjadi korban kapitalisasi pertumbuhan ekonomi syariah global.

“Thailand sudah punya visi dapur halal dunia kemudian Korea juga sudah punya visi destinasi wisata halal, jadi ekonomi syariah bukan hanya kepada muslim tapi udah bagian dari pada kue besar yang akan kita kembangkan,” ujarnya dalam sebuah webinar di Jakarta, 21 Juni 2021.

Menurut Bashori, Indonesia bisa fokus menggarap potensi bisnis dari industri makanan halal. Hal ini lantaran pangsa pasar Indonesia yang mencapai 13 persen dari industri makanan halal dunia. Bashori juga mengungkapkan, pangsa ekspor makanan halal Indonesia, mencapai 15 sampai 18 persen dari pangsa global. “Kita sepakat halal food dikembangkan jadi bukan hanya ekspor tapi kita bisa subtitusi kebutuhan market di domestik,” ungkapnya.

Untuk itu, salah satu strategi yang dilakukan dengan penguatan pemberdayaan ekonomi syariah. Setidaknya Ada tiga program kerja utama yang harus dilakukan yaitu penguatan halal value chain, ppenguatan kelembagaan serta infrastruktur pendukung.

“Harus ada ekosistem pelaku ekonomi, bagaimana pesantren, UMKM, disambungkan dengan asosiasi, disambungkan dengan korporasi. Bagaimana mendorong global halal value chain bukan hanya dari produksi tapi bagaimana marketing dan salah satunya harus dilakukan dengan end to end produk,” ungkapnya. (*) Dicky F Maulana

Editor: Rezkiana Np

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Pilihan

Segera Daftarkan Diri Anda Menjadi Kontributor di

Silahkan isi Form di bawah ini

[ultimatemember form_id=”1287″]