Indef Sebut Ekonomi RI Tumbuh Dibawah 5% di 2020, Ini Respon Pemerintah

Jakarta – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tak akan turun di bawah 5 persen. Pihaknya tak setuju dengan prediksi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) yang mematok pertumbuhan ekonomi tahun depan di angka 4,8 persen.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir mengatakan, kebijakan-kebijakan yang sudah dan akan diterapkan pemerintah telah mendukung konsumsi rumah tangga. Dengan meningkatkan konsumsi rumah tangga, angka pertumbuhan ekonomi bisa dijaga di angka 5 persen.

Kebijakan fiskal seperti penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Omnibus Law adalah langkah pemerintah untuk mempertahankan konsumsi. Selain kebijakan, ia menilai kondisi global yang cenderung kondusif dapat meningkatkan investasi asing ke Indonesia.

“Global demand akan segera pulih kembali. Alasannya pertama, perang dagang antara China dan AS sudah mulai ada titik temu. Kedua, demo Hongkong juga pasti selesai di 2020. Kemudian dengan Omnibus Law dan UU Cipta Tenaga Kerja, investasi ke Indonesia akan meningkat. Karena itu, saya sendiri tidak yakin akan terjadi resesi ekonomi dunia,” ujar Iskandar di Jakarta, 26 November 2019.

Selain itu, Iskandar juga mengungkapkan pentingnya meningkatkan konsumsi rumah tangga. Menurutnya, negara-negara lain menyikapi perlambatan ekonomi dengan cara yang sama, yaitu menggenjot konsumsi rumah tangga.

“Coba lihat India, sekarang penopangnya (pertumbuhan ekonomi) konsumsi. Coba lihat China, apa penopang pertumbuhannya yang 6 persen? Konsumsi domestik. Maka dari itu, dia memberdayakan industri domestiknya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi domestik. Sehingga berputar,” jelasnya.

Ke depan, Iskandar optimis bahwa perekonomian Indonesia tak akan jatuh di bawah angka 5 persen. Berkaca dari pengalaman dan data yang ada, Ia memprediksi angka pertumbuhan dapat mencapai 5,3 persen.

“Pada saat krisis Lehman Brothers saja, kita bisa tumbuh 4,88. Parah banget waktu itu. Apalagi sekarang tidak ada tanda-tanda konsumsi melemah. Dengan data yang ada, saya tidak yakin akan 4,8. Saya yakin kita bisa 5,3 persen,” pungkasnya. (*) Evan Yulian Philaret

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Purbaya Perpanjang Penempatan Dana di Bank Rp200 Triliun hingga September 2026

Poin Penting Purbaya Yudhi Sadewa memperpanjang penempatan dana pemerintah Rp200 triliun di bank BUMN hingga… Read More

26 mins ago

Allianz Life dan HSBC Indonesia Hadirkan Fund Global Berdenominasi Dolar AS

Poin Penting Allianz Life Indonesia, HSBC Indonesia, dan AllianzGI Indonesia meluncurkan Smartwealth Dollar Equity Global… Read More

57 mins ago

Profil Nasaruddin Umar, Menag yang Laporkan Dugaan Gratifikasi Jet Pribadi ke KPK

Poin Penting Menag Nasaruddin Umar melaporkan penggunaan jet pribadi ke KPK sebagai bentuk transparansi dan… Read More

58 mins ago

IHSG Ditutup Perkasa di Level 8.396, Saham Top Gainers: MEGA, HATM, dan TEBE

Poin Penting IHSG menguat 1,50 persen ke level 8.396,08 pada Senin (23/2/2026), dengan 468 saham… Read More

1 hour ago

KPK Pastikan Menag Bebas Jeratan Pidana usai Laporkan Jet Pribadi dari OSO

Poin Penting KPK menyatakan Menag Nasaruddin Umar bebas sanksi pidana karena melaporkan dugaan gratifikasi jet… Read More

1 hour ago

Ipsos Ungkap Strategi E-Wallet agar Bisa Bersinar Tanpa Super App

Poin Penting E-wallet berkembang optimal melalui kolaborasi lintas platform dan bukan sekadar transformasi menjadi super… Read More

2 hours ago