Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah dalam diskusi publik Catatan Akhir Tahun INDEF: Liburan di Tengah Tekanan Fiskal. (Tangkapan layar Zoom Meeting/Julian)
Poin Penting
Jakarta – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mencatat bahwa meskipun perekonomian telah mengalami pertumbuhan pascapandemi, tetapi daya beli masyarakat di kalangan menengah masih mengalami tekanan.
Direktur Kolaborasi Internasional INDEF, Imaduddin Abdullah, menjelaskan bahwa keadaan itu tecermin dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan PDB per kapita yang telah mengalami peningkatan, namun upah atau real wage masih tertahan.
“Artinya adalah memang PDB pasca pandemi ini sudah kembali tumbuh tapi kalau kita lihat upah real-nya itu relatif tidak mengalami perbaikan seperti itu. Dan kalau kita lihat juga memang pekerja, data ketenagakerjaan yang memang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja ini belum seutuhnya kembali ke situasi yang lebih baik seperti itu,” kata Imaduddin dalam diskusi publik “Catatan Akhir Tahun INDEF: Liburan di Tengah Tekanan Fiskal”, yang digelar secara daring, Senin, 29 Desember 2025.
Baca juga: INDEF Ungkap Strategi Ekonomi RI Tembus 6 Persen di Tengah Tekanan Fiskal
Sementara itu, dari sisi tingkat pengangguran pemerintah menyampaikan bahwa angkanya terus mengalami penurunan. Tetapi Imaduddin menyoroti secara lebih dalam dari sisi kualitas tenaga kerja ataupun lapangan pekerjaan yang sebenarnya tidak sebaik dari angka yang ditampilkan.
Ia menyoroti, jika dirinci berdasarkan status pekerjaan mulai dari pekerja penuh, pekerja paruh waktu, hingga setengah pengangguran, justru terjadi penurunan jumlah pekerja penuh sebesar 1,2 persen pada 2024.
“Tapi di saat yang bersamaan, setengah pengangguran ini justru mengalami peningkatan. Artinya apa? Artinya walaupun memang betul jumlah pengangguran terus mengalami penurunan, tapi yang setengah penganggur yang relatif jumlah jam kerjanya sangat terbatas itu justru mengalami peningkatan,” imbuhnya.
Sehingga kondisi tersebut berdampak pada menyusutnya jumlah kelas menengah di Indonesia. Sebagian masyarakat kembali turun ke kategori aspiring middle class yang jumlahnya meningkat cukup signifikan.
Adapun INDEF merangkum, secara jangka pendek di level mikro memang terlihat adanya tren perbaikan. Hal ini tecermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sempat berada di bawah level 50 atau mengalami kontraksi pada April hingga Juli, namun dalam empat bulan terakhir kembali mencatatkan ekspansi, meski belum setinggi awal tahun.
Baca juga: BEI Terapkan Prinsip IOSCO untuk Perkuat Kredibilitas Indeks Saham
Selain itu, utilisasi industri juga menunjukkan perbaikan setelah mengalami penurunan pada kuartal IV 2024. Peningkatan juga terlihat pada penjualan mobil dan sepeda motor dalam beberapa bulan terakhir.
“Jadi di satu sisi kita melihat bahwa memang betul bahwa di level mikro ini terjadi perbaikan, tapi permasalahannya adalah lagi-lagi apakah ini tertranslasi lebih baik kepada sektor tenaga kerja kita,” ujar Imaduddin. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Wali Kota Madiun Maidi jadi tersangka KPK atas dugaan pemerasan proyek, dana CSR,… Read More
Poin Penting Bupati Pati Sudewo dan 3 Kades ditetapkan tersangka oleh KPK terkait dugaan pemerasan… Read More
Poin Penting Bank Muamalat bidik pertumbuhan agresif 2026 dengan pembiayaan tumbuh 60% dan dana pihak… Read More
Poin Penting Pemprov Sulsel mengalokasikan dana Rp2,5 miliar untuk mendukung operasi pencarian pesawat ATR 42-500… Read More
Generali Indonesia menggelar Youth Empowerment Social Media Competition, sebuah inisiatif yang mengajak generasi muda dan… Read More
Poin Penting Pemprov Bali menyuntikkan modal Rp445 miliar ke BPD Bali untuk memperkuat pertumbuhan bisnis… Read More