Internasional

IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Global, AS Terancam Resesi di 2025

Jakarta – Dana Moneter Internasional (IMF), pada Selasa, 22 April 2025, memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini secara tajam. IMF bahkan memperkirakan bahwa proyeksi tersebut bisa memburuk lebih lanjut akibat kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang memicu perang dagang.

Dilansir dari Bloomberg, Rabu, 23 April 2025, IMF memangkas proyeksi pertumbuhan global pada 2025 menjadi 2,8 persen dalam laporan World Economic Outlook” yang dirilis Selasa, 22 April 2025 waktu setempat.

Angka ini lebih rendah dibandingkan perkiraan pada Januari sebesar 3,3 persen dan akan menjadi laju ekspansi produk domestik bruto (PDB) paling lambat sejak pandemi Covid-19 pada 2020.

Baca juga : PII: Tanpa Reindustrialisasi, Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen Hanya Mimpi

Menurut IMF, bagi AS perang dagang akan memicu lonjakan harga dan membebani produktivitas. Sementara bagi mitra dagangnya, bea masuk yang lebih tinggi akan menjadi guncangan permintaan yang memukul output dan harga.

IMF juga mencatat bahwa tingkat tarif efektif di AS telah melonjak ke level tertinggi dalam satu abad. Meski AS kemungkinan dapat menghindari resesi tahun ini, IMF meningkatkan probabilitas terjadinya resesi dari sebelumnya 27 persen menjadi 40 persen per Oktober lalu.

“Kita memasuki era baru. Sistem ekonomi global yang telah berjalan selama 80 tahun terakhir sedang diatur ulang,” ungkap Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas dalam konferensi pers bersama wartawan.

AS dan China Alami Penurunan Proyeksi Pertumbuhan

AS dan China menjadi dua negara dengan penurunan proyeksi terbesar dari IMF. Pertumbuhan ekonomi AS dipangkas sebesar 0,9 poin menjadi 1,8 persen pada 2025.

Angka ini turun satu poin persentase penuh dari pertumbuhan 2,8 persen pada 2024, dan diperkirakan turun kembali sebesar 0,4 poin menjadi 1,7 persen pada 2026. Penurunan ini dikaitkan dengan ketidakpastian kebijakan dan ketegangan perdagangan.

Baca juga : Kemendag: Industri Kelapa Sawit Jadi Engine Pertumbuhan Ekonomi RI

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan hanya mencapai 4 persen pada 2025 dan 2026, masing-masing turun 0,6 dan 0,5 poin persentase. Kebijakan fiskal ekspansif di China disebutkan akan sedikit membantu meredam dampak dari tarif yang dikenakan AS.

Kanada dan Meksiko Juga Terkena Dampak

Sementara itu, Kanada dan Meksiko, dua negara yang juga menjadi target kebijakan tarif Trump, turut mengalami pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi.

IMF memproyeksikan ekonomi Kanada tumbuh sebesar 1,4 persen pada 2025 dan 1,6 persen pada 2026.

Sementara Meksiko bahkan diprediksi mengalami kontraksi sebesar 0,3 persen pada 2025—penurunan tajam sebesar 1,7 poin dari proyeksi bulan Januari—sebelum kembali tumbuh sebesar 1,4 persen pada 2026. (*)

Editor: Yulian Saputra

Muhamad Ibrahim

Recent Posts

Langkah Allianz Indonesia Dukung Kanal Distribusi Keagenan dan Bancassurance

Poin Penting Allianz Indonesia memperkuat kanal keagenan (ASN) dan bancassurance melalui kickoff awal 2026 untuk… Read More

1 min ago

Pertama di Indonesia, BRI Terbitkan Surat Berharga Komersial Rp500 Miliar

Poin Penting BRI menerbitkan Surat Berharga Komersial (SBK) senilai Rp500 miliar, menjadi yang pertama di… Read More

23 mins ago

126.796 Wajib Pajak Sudah Lapor SPT Tahunan via Coretax per 12 Januari 2026

Poin Penting Pelaporan SPT via Coretax capai 126.796 SPT hingga 12 Januari 2026 pukul 14.00… Read More

26 mins ago

Investor Simak! Ini Sektor yang Diproyeksi Moncer di Tahun Kuda Api

Poin Penting DBS Bank memproyeksikan IHSG menguat ke level 9.800 pada 2026, ditopang fundamental pasar… Read More

38 mins ago

IHSG Rebound, Dibuka Menguat ke Posisi 8.934

Poin Penting IHSG berbalik menguat pada pembukaan perdagangan 13 Januari 2026, naik 0,56 persen ke… Read More

2 hours ago

Geopolitik Memanas, DBS Ungkap 2 Aset Investasi Paling Diuntungkan

Poin Penting Produksi minyak Venezuela rendah, invansi AS tak berdampak besar ke harga energi global.… Read More

3 hours ago