IICD Promosikan Pentingnya GCG Lewat Program Koalisi Anti Korupsi Indonesia

Jakarta – Ketua umum IICD, Sigit Pramono mengungkapkan program Koalisi Anti Korupsi Indonesia (KAKI) merupakan wujud nyata komitmen IICD dalam isu anti-korupsi untuk mempromosikan pentingnya kehadiran GCG di Indonesia.

KAKI diharapkan dapat menjadi platform untuk mempersatukan pihak-pihak bisnis yang berintegritas dan membantu perusahaan-perusahaan untuk menciptakan iklim bisnis tanpa korupsi. 

“KAKI tidak akan kuat tanpa dukungan asosiasi-asosiasi bisnis. Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi dukungan tanpa henti dari KADIN Indonesia, KNKG, AEI, IICG, APINDO, HIPMI Kota Bandung, Indonesia Business Link, IGCN, serta GRCI,” Jelas Sigit Pramono, Ketua Umum IICD & IIPG dalam acara yang dilakukan secara virtual Selasa (31/8/2021).

Ketua Advisory Committee, Erry Riyana Hardjapamekas menegaskan  bahwa solusi untuk menanggulangi praktik korupsi yang timbul terutama selama pandemi ini ada di depan mata, KAKI merupakan solusi yang cenderung sederhana bagi sektor swasta. Pandemi memiliki dampak yang sangat signifikan bagi perusahaan.

Risiko-risiko operasionalisasi perusahaan pun naik, terutama risiko suap. Webinar KAKI dengan tema,  “Managing the Risk of Bribery Amidst the Pandemic in the Private Sector.” membahas tantangan-tantangan, kerugian laba, serta ketidakpastian yang selalu membayangi perusahaan-perusahaan di tengah situasi COVID-19 ini.

Diskusi webinar ini meliputi bagaimana manajemen anti-suap yang baik beserta contoh-contoh sistem anti-suap yang telah teruji dan memiliki standar nasional maupun internasional.

Para pembicara webinar ini pun merupakan tokoh yang telah berkecimpung lama dan ahli dalam bidangnya masing-masing, antara lain; Mr. Kulvech Janvatanavit, Presiden IOD Thailand, Arsjad Rasjid, Ketua KADIN Indonesia; Ibu Natalia Soebagjo (Dewan Penasihat Transparency Internasional Berlin), Irwan Habsjah (Komisioner Independen BTPN dan anggota Advisory Committee KAKI). 

Webinar ini didukung oleh Center for International Private Enterprise (CIPE) yang berbasis di Washington DC dan juga merupakan afiliasi dari US Chamber of Commerce. Acara ini pun didukung oleh asosiasi-asosiasi bisnis terkemuka di Indonesia yang juga merupakan bagian dari Advisory Committee KAKI, yaitu: KADIN Indonesia, KNKG, AEI, IICG, APINDO, HIPMI Kota Bandung, Indonesia Business Link, IGCN, serta GRCI.

IICD merupakan organisasi nirlaba yang didirikan pada tahun 2000 oleh 10 universitas/sekolah bisnis terkemuka di Indonesia, dan memiliki visi melakukan internalisasi praktik-praktik tata kelola perusahaan yang baik berdasarkan standar internasional, dan pengembangan program anti korupsi ini adalah merupakan bagian dari kegiatan IICD dalam usaha mempromosikan pentingnya GCG di Indonesia.

KAKI adalah koalisi bagi sektor swasta Indonesia untuk secara kolektif menciptakan, mengadopsi, dan menyebarkan anti-korupsi yang efektif melalui kebijakan kepatuhan dan pengambilan inisiatif untuk mengurangi korupsi dan mempromosikan ekosistem bisnis yang bersih di Indonesia.

Sistim Anti Korupsi ini didasarkan atas keberhasilan CAC Thailand yang telah mengajak lebih dari 1000 perusahaan Thailand mengurangi korupsi di sektor swasta dalam satu dekade terakhir.

Webinar kali ini juga merupakan salah satu bentuk sosialisasi KAKI sebagai metode efektif untuk menyelesaikan masalah yang muncul salah satunya karena dampak pandemi, serta bagaimana perusahaan dapat bertahan dan menjunjung tinggi nilai integritas demi menciptakan iklim bisnis yang bersih di Indonesia.

Sementara kedua Menteri yang hadir dalam acara tersebut sangat mengapresiasi langkah yang dilakukan secara bersama untuk langkah pencegahan korupsi. “Sebagai langkah penyelamatan UMKM kita di daerah, sekitar 40 persen anggaran belanja daerah harus dialokasikan untuk penguatan UMKM,” ujar Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Teten Masduki.

Hadirnya KAKI diharapkan dapat menjadi platform untuk mempersatukan pihak-pihak bisnis yang berintegritas dan membantu perusahaan-perusahaan untuk menciptakan iklim bisnis tanpa korupsi.

“Koalisi ini juga telah terbukti keefektifannya, dapat melihat kesuksesan yang telah dicapai oleh CAC Thailand yang telah mengembangkan program ini sejak tahun 2010 yang nantinya akan lebih dijelaskan oleh Mr. Kulvech, sebagai pembawa keberhasilan program serupa di Thailand,” tutup Sigit. (*)

Dwitya Putra

Recent Posts

Penyerahan Sertifikat Greenship Gold Gedung UOB Plaza

UOB Plaza yang berlokasi di distrik bisnis Jakarta, telah menerima sertifikat dan plakat GREENSHIP Existing… Read More

3 hours ago

BSI Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp51,78 Triliun per November 2025

Poin Penting Pembiayaan UMKM BSI tembus Rp51,78 triliun hingga November 2025, dengan Rasio Pembiayaan Inklusif… Read More

6 hours ago

Diam-diam Ada Direksi Bank Mandiri Serok 155 Ribu Saham BMRI di Awal 2026

Poin Penting Direktur Operasional Bank Mandiri, Timothy Utama, membeli 155 ribu saham BMRI senilai Rp744… Read More

12 hours ago

Astra Mau Buyback Saham Lagi, Siapkan Dana Rp2 Triliun

Poin Penting ASII lanjutkan buyback saham dengan dana maksimal Rp2 triliun, dilaksanakan pada 19 Januari–25… Read More

13 hours ago

OJK Beberkan 8 Pelanggaran Dana Syariah Indonesia, Apa Saja?

Poin Penting OJK menemukan delapan pelanggaran serius yang merugikan lender, termasuk proyek fiktif, informasi palsu,… Read More

14 hours ago

Dorong Inklusi Investasi Saham, OCBC Sekuritas dan Makmur Sepakati Kerja Sama Strategis

Poin Penting OCBC Sekuritas bermitra dengan Makmur untuk menghadirkan fitur investasi saham di platform Makmur… Read More

15 hours ago