Poin Penting
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai IHSG melemah karena pasar belum memahami dampak pembentukan badan ekspor SDA
- Badan ekspor SDA dibentuk untuk menekan praktik under-invoicing dan meningkatkan transparansi ekspor
- Purbaya optimistis kebijakan ini dapat mendongkrak laba dan valuasi emiten di bursa.
Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons merosotnya Indeks Harga saham gabungan (IHSG) usai Presiden Prabowo Subianto mengumumkan pembentukan badan ekspor sumber daya alam (SDA).
Diketahui, pada perdagangan sesi I, Kamis (21/5), IHSG berbalik ditutup merosot ke level 6.144,35 atau ambles 2,76 persen dari posisi 6.318,50.
Purbaya mengatakan, pelemahan IHSG tersebut disebabkan lantaran pasar belum mengetahui dampak dari langkah kebijakan dari pembentukan badan ekspor tersebut.
“Mungkin mereka belum tahu dampak sebenarnya seperti apa. Kan kalau ada ketidakpastian, biasanya takut jual dulu. Tapi kalau mereka nanti mengerti dampak yang sebetulnya seperti apa, harganya akan naik,” kata Purbaya saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Kamis, 21 Mei di 2026.
Baca juga: IHSG Anjlok, Danantara Sebut Imbas Ketidakpastian Skema BUMN Ekspor
Purbaya menjelaskan, pembentukan badan ekspor bertujuan untuk meminimalisir praktik kecurangan seperti under-invoicing atau kecurangan yang terjadi ketika pelaku impor maupun ekspor dengan sengaja melaporkan nilai barang dalam faktur (invoice) lebih rendah dari yang sebenarnya.
Dengan adanya badan ekspor ini, kata Purbaya, diharapkan bisa membuat transaksi ekspor lebih transparan. Pasalnya, praktik kecurangan ini biasanya dilakukan oleh eksportir dalam negeri yang perusahaannya terafiliasi di luar negeri.
Baca juga: Kenaikan BI Rate Tekan IHSG, Saham Bank Jumbo Tetap Defensif
“Nanti under-invoicing kan akan tertutup dengan adanya badan ekspor itu. Jadi tadi yang biasa jadi uang jadi mainnya oleh pemilik, karena perusahaan yang di luar negeri punya pemilik kan. Sekarang bisa harusnya terefleksi langsung di penjualan mereka yang murni,” ungkapnya.
“Jadi perusahaannya juga akan untung. Jadi harusnya bisa double untungnya yang lisit di bursa yang dilaporkan. Jadi harusnya ini akan meningkatkan valuasi dari perusahaan-perusahaan yang sedih bulsa. Pasti pelan-pelan akan naik secara signifikan,” tambahnya. (*)
Editor: Galih Pratama