Paparan Media Mirae Aset Sekuritas secara virtual, Selasa, 10 Maret 2026. (Tangkapan layar webinar: Steven Widjaja)
Poin Penting
Jakarta – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini tecermin dari tren pelemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang masih berlanjut.
Selain faktor geopolitik global yang meningkatkan volatilitas pasar, sentimen negatif dari lembaga pemeringkat kredit internasional terhadap ekonomi Indonesia juga turut menekan pergerakan pasar saham domestik.
Baca juga: IHSG Sepekan Tertekan, BEI Tegaskan Infrastruktur Bursa Tetap Solid
Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Farras Farhan mengatakan, perhatian pelaku pasar saat ini tertuju pada keputusan lembaga riset global Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi pasar saham Indonesia.
“Memang katalis saat ini terutama equity market itu tertuju pada hasil keputusan MSCI di April atau Mei. Apabila ada kejelasan dari MSCI itu sendiri, maka itu dapat menjadi salah satu katalis positif bagi equity market kita,” ujar Farhan dalam sebuah paparan virtual, Selasa, 10 Maret 2026.
Farhan menjelaskan, pasar modal Indonesia saat ini menghadapi tiga risiko sekaligus atau triple threat. Pertama, adanya evaluasi dari MSCI terkait posisi pasar saham Indonesia dalam indeks global.
Selain itu, tekanan juga datang dari perubahan outlook lembaga pemeringkat internasional. Moody’s Ratings dan Fitch Ratings diketahui menurunkan outlook ekonomi Indonesia dari stabil pada 2025 menjadi negatif pada 2026.
Baca juga: 5 Saham Ini jadi Faktor Pemberat IHSG dalam Sepekan
Meski demikian, ia menilai kemungkinan penurunan peringkat pasar saham Indonesia hingga masuk kategori frontier market relatif kecil.
“Kalaupun terjadi (penurunan peringkat) itu probabilitinya relatif kecil, bisa dibilang di bawah 10 persen. Dan memang kita lebih mengespektasikan akan adanya down weight. Itu yang memang sudah kita ekspektasikan pada momentum ini,” jelasnya.
Menurut Farhan, potensi downweight dari MSCI diperkirakan tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap pasar saham domestik.
Baca juga: Tanggapan Wakil Ketua DEN soal Penurunan Rating Moody’s dan Rebalancing Indeks MSCI
Hal itu karena masih terdapat sejumlah katalis positif yang dapat menopang kinerja pasar modal Indonesia ke depan. Salah satunya adalah kebijakan yang memungkinkan perusahaan dana pensiun dan asuransi meningkatkan alokasi investasi di pasar saham hingga 20 persen.
“Memang yang saat ini dibutuhkan katalis di equity market RI lebih kepada investability issue. Karena, bila kita bicara secara fundamental, banyak perusahaan mengespektasikan akan ada pertumbuhan di tahun ini dibandingkan tahun lalu,” tegas Farhan. (*) Steven Widjaja
Poin Penting KB Bank fokus pada corporate banking dengan ekspansi kredit yang lebih selektif. Perseroan… Read More
Poin Penting Pendapatan AMAG naik 8,48% menjadi Rp2,79 triliun pada 2025. Laba bersih turun 41%… Read More
Poin Penting Pembiayaan baru WOM Finance tumbuh 9,35 persen (yoy) menjadi Rp5,94 triliun, mendorong kenaikan… Read More
Poin Penting Kasus Amsal mengungkap dugaan mark-up anggaran proyek desa dengan kerugian negara sekitar Rp202… Read More
Poin Penting WOM Finance merombak jajaran komisaris dan direksi melalui RUPS terbaru. Posisi direktur utama… Read More
Poin Penting Pendapatan DCII 2025 tumbuh 40,1 persen yoy menjadi Rp2,5 triliun, didorong operasional data… Read More