Poin Penting
- Phintraco memproyeksikan IHSG menguat ke level 6.220-6.280 pada perdagangan 3 Juni 2026
- Inflasi Mei naik ke 3,08 persen yoy, namun masih berada dalam target Bank Indonesia
- PMI manufaktur kembali ekspansif, sementara surplus perdagangan menyusut akibat lonjakan impor.
Jakarta – Research Team Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini (3/6) secara teknikal akan melanjutkan penguatan di rentang level 6.220-6.280.
“Diperkirakan IHSG berpotensi melanjutkan penguatan dengan menguji level 6.220-6.280,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 3 Juni 2026.
Menurut Phintraco Sekuritas, ada sejumlah sentimen yang bakal memengaruhi pergerakan IHSG hari ini. Salah satunya sentimen datang dari data inflasi tahunan menjadi 3,08 persen year-on-year (yoy) di Mei 2026, berakselerasi dari 2,42 persen yoy. Harga makanan mencatatkan kenaikan terbesar menjadi 4,94 persen dari 3,06 persen, didorong oleh kenaikan biaya bahan pokok dan biaya distribusi.
Inflasi inti juga meningkat di level 2,59 persen yoy dari 2,44 persen yoy. Inflasi ini masih dalam kisaran target Bank Indonesia (BI) yang sebesar 1,5-3,5 persen.
Baca juga: Jangan Biarkan Danamon Go Private: Menjaga “Mata” Publik di Sektor Keuangan
Namun, jika inflasi berlanjut menguat serta nilai tukar Rupiah masih depresiasi lebih lanjut, diperkirakan BI Rate masih berpotensi naik.
Sementara itu, indeks PMI manufaktur naik di level 50 pada Mei 2026 dari level terendah selama sepuluh bulan di 49,1 pada April 2026.
Hal ini mengindikasikan kondisi pabrik yang relatif stabil. Pesanan baru meningkat selama dua bulan berturut-turut, namun pesanan ekspor turun karena gangguan konflik di Timur Tengah.
Adapun, surplus neraca perdagangan Indonesia berkurang menjadi USD0,09 miliar di April 2026 dari USD3,32 miliar di Maret 2026 serta dari USD0,2 miliar di April 2025.
Ini merupakan surplus perdagangan terkecil sejak April 2020, yang disebabkan oleh kenaikan impor sebesar 22,5 persen yoy dengan peningkatan impor migas sebesar 85,52 persen dan impor non migas tumbuh 14,11 persen.
Baca juga: BEI Catat Jumlah Saham Syariah Melonjak 184 Persen, Kapitalisasi Tembus USD399 Miliar
Sedangkan ekspor meningkat 21,98 persen di April 2026, pulih dari penurunan 3,1 persen di Maret 2026, serta merupakan pertumbuhan paling kuat sejak Agustus 2022. Kenaikan impor migas antara lain disebabkan oleh kenaikan harga minyak mentah.
Sementara diketahui, pada perdagangan kemarin IHSG ditutup menguat pada level 6.195,43 atau naik 1,11 persen dan rupiah ditutup menguat 0,2 persen di level Rp17.830 per USD. (*)
Editor: Galih Pratama


