Ilustrasi: Pergerakan harga saham. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka naik ke level 8.200,98 atau menguat 0,59 persen, pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (23/10).
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 524,98 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 48 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp381,89 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 106 saham terkoreksi, 270 saham menguat dan 226 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: Saham Big Banks Kompak Loyo Usai BI Umumkan Tahan Suku Bunga Acuan
Manajemen Phintraco Sekuritas, sebelumnya telah memprediksi bahwa IHSG secara teknikal berpotensi bergerak cenderung sideways pada perdagangan hari ini.
“Diperkirakan IHSG bergerak sideways cenderung melemah pada kisaran 8.050-8.200,” ucap Manajemen Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 23 Oktober 2025.
Ia mencermati, IHSG ditutup melemah di level 8.152,55 atau turun 1,04 persen pada perdagangan kemarin (22/10), dengan pelemahan indeks antara lain disebabkan oleh profit taking yang dipicu oleh koreksi mayoritas indeks di bursa Asia.
Selain itu, keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan tetap di level 4,75 persen jadi sentimen negatif penutupan IHSG kemarin.
“Koreksi harga komoditas emas juga mendorong pelemahan pada saham-saham berbasis komoditas emas. Saham sektor basic material mencatatkan koreksi terbesar, sedangkan saham sektor properti membukukan penguatan terbesar,” imbuhnya.
Meskipun BI rate tetap, namun saham sektor properti mendapat sentimen positif dari rencana pemerintah untuk memperpanjang insentif PPN DTP di sektor perumahan hingga Desember 2027.
Baca juga: IHSG Diprediksi Lanjut Melemah, Berikut Sentimen Pemicunya
Di luar konsensus, RDG BI mempertahankan BI rate tetap pada level 4,75 persen (22/10), dengan deposit facility rate tetap di 3,75 persen, dan lending facility rate tetap di 5,5 persen.
Keputusan ini sejalan dengan inflasi yang masih terkendali dalam sasaran target BI, upaya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah serta untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sebelumnya, BI telah menurunkan BI rate total sebanyak 125 bps pada tahun ini menjadi 4.75 persen yang merupakan level terendah sejak tahun 2022. Pertumbuhan kredit pada September sebesar 7,7 persen yoy, sedikit membaik dari 7,56 persen yoy di Agustus 2025. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More
Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More
Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More
Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More
Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More