Ilustrasi: Papan pergerakan saham IHSG. (Foto: Istimewa)
Poin Penting
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka hijau pada level 8.577,09 dari posisi 8.548,78 atau menguat 0,24 persen pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (2/12).
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 590,65 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 56 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp381,32 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 100 saham terkoreksi, sebanyak 300 saham menguat dan sebanyak 242 saham tetap tidak berubah.
Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi akan bergerak variatif pada rentang 8.450-8.600.
Baca juga: BEI Catat 5 Saham Ini Jadi Pendorong Penguatan IHSG Sepekan
“Pada perdagangan kemarin, Senin (1/12) IHSG ditutup menguat 0,47 persen atau naik 40,08 poin ke level 8.548. IHSG hari ini (2/12) diprediksi bervariasi dalam kisaran 8.450-8.600,” ucap Ratih dalam risetnya di Jakarta, 2 Desember 2025.
Ia melihat pergerakan IHSG hari ini bakal dipengaruhi oleh sentimen dari dalam negeri. Salah satunya IHSG kembali terapresiasi, meskipun investor asing outflow di seluruh pasar senilai Rp120 miliar (1/12). Kenaikan IHSG mengikuti pergerakan bursa di kawasan ASEAN.
Jika diakumulasi sejak awal tahun, performa IHSG telah mengalami penguatan sebanyak 20,75 persen. Adapun Rupiah JISDOR terapresiasi dalam sepekan terakhir ke level Rp16.611/USD.
Sementara, data ekonomi domestik juga mencerminkan kondisi yang solid. BPS melaporkan surplus neraca dagang domestik pada Oktober 2025 sebesar USD2,39 miliar, setelah bulan sebelumnya surplus USD4,34 miliar. Ini sekaligus melanjutkan surplus dalam 66 bulan beruntun.
Neraca dagang non migas menopang kinerja surplus ditopang oleh komoditas CPO, baru bara, mesin dan perlengkapan elektrik, hingga bahan kimia.
Baca juga: IHSG Berpotensi Konsolidasi, Ini Katalis Penggeraknya
Adapun dari mancanegara, Bursa Wall Street kompak dilanda aksi profit taking, dengan Indeks Dow Jones turun 0,90 persen dan Nasdaq melemah 0,38 (1/12).
Lalu dari Asia, Indeks manufaktur Tiongkok versi BPS pada November 2025 masih di level kontraksi sebesar 49,2, lebih tinggi dari bulan sebelumnya 49,0.
Aktivitas manufaktur Tiongkok masih terkontraksi sejak April 2025. Melihat kondisi manufaktur yang mulai membaik meskipun masih di level kontraksi, Indeks SSE China terapresiasi 0,65 persen (1/12). (*)
Jakarta - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa informasi yang menyebut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa… Read More
Poin Penting OJK mendorong keterbukaan informasi pasar modal melalui sistem pelaporan elektronik AKSes KSEI dan… Read More
Poin Penting Penjualan emas BSI tembus 2,18 ton hingga Desember 2025, dengan jumlah nasabah bullion… Read More
Poin Penting Transaksi Syariah Card Bank Mega Syariah melonjak 48% pada Desember 2025 dibandingkan rata-rata… Read More
Poin Penting Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa tengah membahas penambahan satu lapisan cukai rokok untuk memberi… Read More
Poin Penting Permata Bank mulai mengkaji pengembangan produk BNPL/paylater, seiring kebijakan terbaru regulator, namun belum… Read More