Ilustrasi Pergerakan saham big banks yang kompak turun usai BI umumkan tahan suku bunga 4,75 persen, Rabu, 22 Oktober 2025. (Foto: istimewa)
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok sebanyak 1,15 persen ke level 7.025,98 dari posisi 7.107,87, pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (19/12).
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan IHSG hari ini, sebanyak 546,22 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 38 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp638,76 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 78 saham terkoreksi, sebanyak 192 saham menguat dan sebanyak 201 saham tetap tidak berubah.
Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi akan bergerak variatif dalam rentang level 7.000 hingga 7.130.
“Pada perdagangan Rabu (18/12) IHSG ditutup turun 0,70 persen atau minus 49,85 poin ke level 7.107. IHSG hari ini (19/12) diprediksi mixed dalam range 7.130-7.000,” ucap Ratih dalam risetnya di Jakarta, 19 Desember 2024.
Baca juga: IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas, Ini Sederet Pemicunya
Baca juga: RUPSLB Petrosea Restui Stock Split Saham 1:10
Pergerakan IHSG yang kembali terkoreksi dalam lima hari beruntun, dipicu oleh investor asing yang kembali outflow Rp473,97 miliar. Sementara, rupiah Spot semakin tertekan ke level Rp16.200 per dolar AS (19/12).
Pelaku pasar merespons negatif BI-Rate yang kembali tetap pada level 6 persen, Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Jika diakumulasi, BI-Rate tetap di level tersebut dalam tiga bulan beruntun.
Suku bunga yang tetap tinggi berfungsi sebagai penopang nilai tukar rupiah, namun berpotensi melemahkan ekonomi domestik. Sektor yang berpotensi terdampak ketika tingkat suku bunga tinggi, di antaranya perbankan, non primer, konstruksi, properti, dan automotive.
Adapun dari mancanegara, indeks utama bursa Wall street kompak mengalami koreksi yang cukup dalam. Pasalnya, The Fed berpotensi mengurangi setengah dari proyeksi pemangkasan suku bunga tahun depan untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen.
Sementara, The Fed pada FOMC dini hari kembali memangkas 25 bps suku bunga menjadi di level 4,25-4,5 persen. Dari Inggris, inflasi tahunan kembali naik ke level 2,6 persen, setelah pada bulan sebelumnya di level 2,3 persen sekaligus menjadi inflasi tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Kenaikan inflasi ditopang oleh harga barang-barang non-primer. (*)
Editor: Galih Pratama
Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More
Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More
Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More
Poin Penting Jasa Marga mengimbau pengguna jalan tol menggunakan satu kartu e-Toll yang sama saat… Read More
Poin Penting Arab Saudi menetapkan Idul Fitri 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026… Read More
Poin Penting BNI memberangkatkan lebih dari 7.000 pemudik ke berbagai kota di Pulau Jawa dan… Read More