Market Update

IHSG Dibuka Anjlok 1,15 Persen ke Level 7.025

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok sebanyak 1,15 persen ke level 7.025,98 dari posisi 7.107,87, pada pembukaan perdagangan pagi ini pukul 9.00 WIB (19/12).

Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan IHSG hari ini, sebanyak 546,22 juta saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 38 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp638,76 miliar. 

Kemudian, tercatat terdapat 78 saham terkoreksi, sebanyak 192 saham menguat dan sebanyak 201 saham tetap tidak berubah.

Sebelumnya, Financial Expert Ajaib Sekuritas, Ratih Mustikoningsih, melihat IHSG secara teknikal pada hari ini diprediksi akan bergerak variatif dalam rentang level 7.000 hingga 7.130. 

“Pada perdagangan Rabu (18/12) IHSG ditutup turun 0,70 persen atau minus 49,85 poin ke level 7.107. IHSG hari ini (19/12) diprediksi mixed dalam range 7.130-7.000,” ucap Ratih dalam risetnya di Jakarta, 19 Desember 2024. 

Baca juga: IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas, Ini Sederet Pemicunya
Baca juga: RUPSLB Petrosea Restui Stock Split Saham 1:10

Pergerakan IHSG yang kembali terkoreksi dalam lima hari beruntun, dipicu oleh investor asing yang kembali outflow Rp473,97 miliar. Sementara, rupiah Spot semakin tertekan ke level Rp16.200 per dolar AS (19/12).

Pelaku pasar merespons negatif BI-Rate yang kembali tetap pada level 6 persen, Suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Jika diakumulasi, BI-Rate tetap di level tersebut dalam tiga bulan beruntun. 

Suku bunga yang tetap tinggi berfungsi sebagai penopang nilai tukar rupiah, namun berpotensi melemahkan ekonomi domestik. Sektor yang berpotensi terdampak ketika tingkat suku bunga tinggi, di antaranya perbankan, non primer, konstruksi, properti, dan automotive.

Adapun dari mancanegara, indeks utama bursa Wall street kompak mengalami koreksi yang cukup dalam. Pasalnya, The Fed berpotensi mengurangi setengah dari proyeksi pemangkasan suku bunga tahun depan untuk menurunkan inflasi ke target 2 persen.

Sementara, The Fed pada FOMC dini hari kembali memangkas 25 bps suku bunga menjadi di level 4,25-4,5 persen. Dari Inggris, inflasi tahunan kembali naik ke level 2,6 persen, setelah pada bulan sebelumnya di level 2,3 persen sekaligus menjadi inflasi tertinggi dalam delapan bulan terakhir. Kenaikan inflasi ditopang oleh harga barang-barang non-primer. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Recent Posts

Prospek Saham 2026 Positif, Mirae Asset Proyeksikan IHSG 10.500

Poin Penting Mirae Asset menargetkan IHSG 2026 di level 10.500, meski tekanan global dan data… Read More

7 hours ago

Pembiayaan Emas Bank Muamalat melonjak 33 kali lipat

PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mencatat kinerja positif pada pembiayaan kepemilikan emas syariah melalui produk… Read More

8 hours ago

Rosan Mau Geber Hilirisasi Kelapa Sawit dan Bauksit di 2026

Poin Penting Realisasi investasi hilirisasi 2025 mencapai Rp584,1 triliun, tumbuh 43,3 persen yoy dan menyumbang… Read More

8 hours ago

Avrist General Insurance Resmikan Kantor Baru, Bidik Pertumbuhan Dua Digit 2026

Poin Penting Avrist pindah kantor pusat ke Wisma 46 untuk mendukung pertumbuhan bisnis. Target pertumbuhan… Read More

9 hours ago

Dana Pemerintah di Himbara Minim Dampak, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Poin Penting Penempatan dana Rp276 triliun di bank pelat merah dinilai tidak signifikan mendorong perekonomian,… Read More

10 hours ago

Gita Wirjawan: Danantara Bakal Jadi Magnet WEF 2026

Poin Penting Gita Wirjawan menilai kehadiran BPI Danantara di WEF 2026 berpotensi menjadi magnet utama… Read More

11 hours ago