Poin Penting
- IHSG naik 7,57 persen dan rupiah menguat ke Rp18.058 pada hari ini, didorong meredanya isu reshuffle Menteri Keuangan
- Kepastian kebijakan dinilai mengurangi ketidakpastian dan memperbaiki sentimen investor
- Penguatan juga ditopang aksi beli setelah koreksi, meski tetap dipengaruhi faktor global dan arus modal.
Jakarta- Penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini Selasa (9/6). IHSG ditutup melesat 7,57 persen atau 404,51 poin ke level 5.746,64 dari posisi sebelumnya 5.342,13.
Sedangkan berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp18.058 per dolar AS. Ini menguat 0,72 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya di posisi Rp18.188 per dolar AS
Penguatan IHSG dan rupiah tersebut dinilai berkaitan dengan meredanya spekulasi mengenai reshuffle kabinet, khususnya isu pergantian Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.
Ekonom STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko, mengatakan pasar merespons positif setelah muncul penegasan bahwa rumor pergantian Menteri Keuangan tersebut tidak benar.
Menurut Aditya, berkurangnya ketidakpastian politik menjadi salah satu faktor yang membantu memperbaiki sentimen investor.
Pasar keuangan pada umumnya tidak menyukai ketidakpastian, terutama yang berkaitan dengan arah kebijakan ekonomi pemerintah.
“Rumor pergantian menteri keuangan sempat memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Ketika isu itu dibantah, sebagian investor kembali percaya bahwa tidak akan ada perubahan mendadak pada kebijakan ekonomi,” kata Aditya, Selasa (9/6).
Baca juga: Chatib Basri: Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Belum Mengarah ke Krisis 1998
Ia menjelaskan, investor juga menaruh perhatian pada kesinambungan kebijakan ekonomi. Koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia dinilai penting dalam menjaga stabilitas rupiah serta pasar obligasi.
Dengan tidak adanya pergantian mendadak di posisi strategis tersebut, pasar melihat peluang kebijakan ekonomi dapat berjalan lebih konsisten sehingga meningkatkan kepercayaan investor.
Selain faktor tersebut, penguatan pasar juga dipengaruhi aksi beli setelah tekanan yang terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Sehari sebelumnya, IHSG mengalami penurunan cukup tajam dan nilai tukar rupiah juga melemah terhadap dolar Amerika Serikat.
Ketika sentimen negatif mulai mereda, sebagian investor memanfaatkan kondisi harga saham yang telah turun untuk melakukan aksi beli atau buy on weakness. Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.
Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah tidak dapat dikaitkan hanya dengan meredanya rumor reshuffle kabinet.
Menurutnya, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi banyak faktor, antara lain arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.
“Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini,” ujarnya.
Pengamat menilai sentimen stabilitas kebijakan turut menopang kepercayaan pasar. Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional.
“Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi,” ujar Esther
Ia menjelaskan, untuk bisa menarik aliran modal masuk, Indonesia harus memenuhi sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global.
Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai.
Baca juga: Purbaya Sebut Isu Mundur untuk Ganggu Sentimen Pasar: Saya Sukanya Maju
“Keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima, integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah,” paparnya.
Esther menegaskan, stabilitas di level kementerian, memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek.
Menurutnya, jika ketujuh faktor tersebut bisa dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal domestik. (*)


