IHSG Bisa Balik ke 7.200 Jika BI Naikkan Suku Bunganya

Jakarta – Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,5%. Hal ini dilakukan karena inflasi dianggap masih terbilang rendah dan perekonomian Indonesia yang terjaga. Kebijakan menahan suku bunga tersebut tidak begitu berdampak bagi pasar modal, sehingga masih pada posisi netral.

Demikian disampaikan Analis Investa Saran Mandiri sekaligus Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee saat dihubungi Infobanknews, di Jakarta, Senin, 25 Juli 2022. “Bagi pasar saham untuk posisi saat ini memang kebijakan ini agak netral bagi pasar ya, jadi tidak positif tidak negatif,” ujarnya.

Menurut Hans, faktor dari dalam negeri sebagai salah satu contohnya adalah ditahannya suku bunga BI, tidak begitu berpengaruh bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di pasar saham. Pasalnya kenaikan IHSG pada minggu lalu lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global.

“Jadi konsensus pasar global itu menunjukan orang berpikir mungkin sudah memasuki fase bottoming dan dia berjuang untuk mulai meningkat naik jadi ini yang menyebabkan pasar IHSGnya bergerak menguat gitu, jadi bukan faktor dalam negeri ya, lebih banyak faktor global yang mempengaruhi pasar,” ucap Hans.

Ia menambahkan, jika inflasi inti nantinya akan mulai naik, BI diperkirakan juga akan menaikan suku bunganya sekitar 25 basis poin (bps) pada Agustus hingga September 2022 dan dapat memberikan dampak positif bagi pasar. Oleh karena itu, Hans berharap IHSG bisa kembali mencapai ke level 7.100-7.200 hingga akhir tahun.

Baca juga : Ekonomi Membaik, Mirae Asset Prediksi IHSG Sentuh 7.400 di Akhir Tahun

Hal senada juga dikatakan oleh pengamat pasar modal lainnya, Adler Manurung yang menyebut, bahwa menahan tingkat suku bunga saat ini masih terbilang keputusan yang tepat. Namun, jika situasi perekonomian memburuk, BI harus meningkatkan suku bunga secara bertahap dari 0,25%-0,5%.

“Untuk sementara waktu sangat oke menahan tingkat suku bunga, bila situasi ekonomi dunia memburuk, mau tak mau harus dinaikkan. Peluang itu ada di tangan BI. Harus bertahap dari 0,25% dan maksimum 0,5%,” tambah Adler. (*) Khoirifa

Rezkiana Nisaputra

Recent Posts

Rupiah Babak Belur, Misbakhun Kritik Kebijakan BI yang Konvensional

Poin Penting Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menilai BI masih menggunakan pendekatan konvensional… Read More

33 mins ago

Bank Mandiri Mau Gelar RUPST 29 April 2026, Simak Agenda Lengkapnya

Poin Penting PT Bank Mandiri (Persero) Tbk akan mengadakan RUPST tahun buku 2025 pada 29… Read More

1 hour ago

Siap-Siap! Bea Cukai Buka 300 Formasi CPNS Lulusan SMA Bulan Depan

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan membuka rekrutmen CPNS untuk 300 lulusan SMA/sederajat… Read More

2 hours ago

Rupiah Terlemah Sepanjang Sejarah, Begini Respons BI

Poin Penting Rupiah ditutup melemah 70 poin (0,41 persen) ke Rp17.105 per dolar AS, menjadi… Read More

2 hours ago

CIMB Perluas Segmen Affluent ASEAN Sejalan Strategi Forward30

Poin Penting CIMB memperluas layanan wealth untuk menangkap pertumbuhan segmen affluent di ASEAN. Strategi ini… Read More

3 hours ago

Cinema XXI (CNMA) Tebar Dividen Jumbo Rp980 Miliar, Ini Jadwal Pembayarannya

Poin Penting CNMA membagikan dividen Rp12 per saham, termasuk dividen interim Rp5 per saham. Pembayaran… Read More

3 hours ago