Market Update

IHSG Berpotensi Lanjut Melemah ke 8.150, Ini Sentimen Pemicunya

Poin Penting

  • IHSG berpotensi lanjut melemah ke level 8.150 pada perdagangan 27 Februari 2026 setelah sebelumnya turun 1,05% ke 8.235,26.
  • Sentimen negatif eksternal datang dari rencana tarif tinggi AS atas impor panel surya dari Indonesia, India, dan Laos serta potensi penyelidikan dagang terhadap Indonesia.
  • Risiko domestik meningkat setelah S&P Global Ratings memperingatkan tekanan fiskal Indonesia yang dapat memicu aksi penurunan peringkat kredit.

Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas menyoroti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini, Jumat (27/2), berpotensi melanjutkan pelemahannya ke posisi 8.150.

“IHSG masih berpotensi lanjutkan pelemahan menuju level 8.150 pada perdagangan Jumat (27/2),” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, Jumat, 27 Februari 2026.

IHSG sebelumnya ditutup melemah ke level 8.235,26 atau turun 1,05 persen pada perdagangan Kamis (26/2), setelah sempat menguat hingga 8.358 di awal sesi.

Baca juga: IHSG Ditutup Lanjut Merosot 1,04 Persen, Ini Penyebabnya

Sentimen negatif berasal dari rencana Amerika Serikat (AS) yang akan memberlakukan tarif atas sel dan panel surya impor dari perusahaan di India, Indonesia, dan Laos. Kebijakan ini didasarkan pada anggapan bahwa industri panel surya di tiga negara tersebut mendapat subsidi.

AS menetapkan tarif 125,87 persen untuk produk dari India, 104,38 persen untuk Indonesia, dan 80,67 persen untuk Laos.

Selain tarif umum, AS juga mengenakan tarif individual kepada perusahaan. Untuk Indonesia, PT Blue Sky Solar dikenakan tarif 143,3 persen dan PT REC Solar Energy sebesar 85,99 persen.

Risiko Penyelidikan Dagang dan Fiskal

Sementara itu, Perwakilan Perdagangan AS (USTR) berencana membuka penyelidikan Pasal 301 terhadap praktik perdagangan Indonesia, termasuk kapasitas industri dan subsidi perikanan.

Hasil penyelidikan akan dibandingkan dengan langkah Indonesia dalam memenuhi komitmen terhadap kekhawatiran AS.

Baca juga: IHSG Berpeluang Menguat, Analis Rekomendasikan Saham ADMR, ANTM, ARCI, dan HRUM

Sentimen negatif bertambah setelah S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tekanan fiskal, khususnya kenaikan biaya pembayaran utang, meningkatkan risiko penurunan profil kredit Indonesia dan berpotensi memicu aksi peringkat negatif.

Meski S&P belum mengubah outlook stabil pada peringkat kredit Indonesia di level BBB, peringatan tersebut menunjukkan kekhawatiran yang semakin luas terhadap posisi fiskal Indonesia. (*)

Editor: Yulian Saputra

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Jamkrindo Bukukan Laba Bersih Rp1,05 Triliun pada 2025

Poin Penting Jamkrindo membukukan laba sebelum pajak Rp1,28 triliun dan laba bersih Rp1,05 triliun di… Read More

1 min ago

Kaspersky Catat Pertumbuhan Positif 2025, Target Double Digit di 2026

Poin Penting Ancaman siber di Indonesia meningkat tajam pada 2025, dengan jutaan serangan berhasil diblokir… Read More

26 mins ago

227 Saham Merah, IHSG Dibuka Melemah ke Level 7.214

Poin Penting IHSG dibuka melemah 0,89 persen ke level 7.214,17 pada awal perdagangan (9/4), dari… Read More

1 hour ago

Update Harga Emas Hari Ini (9/4): Antam, Galeri24, dan UBS Kompak Meroket

Jakarta – Harga emas yang diperdagangkan di Pegadaian pada Kamis, 9 April 2026 kembali menunjukkan… Read More

1 hour ago

IHSG Berpeluang Menguat, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini

Poin Penting IHSG diproyeksikan masih berpeluang menguat ke kisaran 7.323–7.450, dengan asumsi telah menyelesaikan wave… Read More

2 hours ago

Asbisindo Institute–VOCASIA Hadirkan E-Learning untuk Perkuat Kompetensi Bankir Syariah

Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More

10 hours ago