Market Update

IHSG Berpotensi Kembali Melemah, Ini Sentimen Pemicunya

Poin Penting

  • IHSG diproyeksi masih konsolidasi di kisaran 6.900–7.100, didukung sinyal teknikal (Stochastic RSI mendekati overbought, MACD masih positif)
  • Sentimen global dan domestik menekan, tercermin dari pelemahan IHSG (−0,26 persen) dan rupiah ke Rp17.105/USD, seiring penguatan dolar AS dan kekhawatiran ekonomi
  • Defisit APBN melebar (0,93 persen PDB) berpotensi picu outflow asing, naikkan yield obligasi, dan menekan sektor keuangan serta pertumbuhan kredit.

Jakarta – Manajemen Phintraco Sekuritas memproyeksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini (8/4) secara teknikal masih akan mengalami konsolidasi di rentang level 6.900-7.100.

“Secara teknikal, indikator Stochastic RSI mendekati area overbought, namun pembentukan histogram positif MACD masih berlanjut. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi pada kisaran 6.900-7.100,” tulis Research Team Phintraco Sekuritas dalam risetnya di Jakarta, 8 April 2026.

Diketahui, pada perdagangan kemarin (7/4) IHSG ditutup melemah di level 6.971,03 atau turun 0,26 persen.

Baca juga: BEI Rangkum 5 Saham Pemberat IHSG Pekan Ini

Kemudian, rupiah berlanjut melemah 0,42 persen ditutup di level Rp17.105 per USD di pasar spot, seiring dengan kenaikan indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta kecemasan akan prospek ekonomi domestik. 

Sementara dengan diperpanjangnya batas waktu dari AS bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz, diperkirakan berpotensi mendorong IHSG rebound dalam jangka pendek. 

“Namun mengingat kondisi ketidakpastian yang masih tinggi, IHSG diperkirakan masih akan cenderung bergerak sideways,” imbuhnya.

Sentimen dari ekonomi domestik, defisit APBN 2026 yang telah mencapai 0,93 persen PDB pada kuartal I 2026 juga menjadi faktor negatif.

Defisit APBN di kuartal I 2026 tersebut lebih lebar dari defisit di kuartal I tahun lalu yang mencapai 0,43 persen Produk Domestik Bruto (PDB). 

Baca juga: Purbaya Lapor APBN Tekor Rp240,1 Triliun di Kuartal I 2026

Kenaikan defisit meningkatkan risiko outflow investor asing, terutama dari surat berharga negara (SBN). Sehingga berpotensi akan meningkatkan yield obligasi yang juga dapat menekan saham-saham di sektor keuangan. 

Kenaikan yield juga dapat menaikkan biaya pinjaman bagi korporasi, yang berpotensi menekan laju pertumbuhan penyaluran kredit dan berpotensi meningkatkan cost of fund yang harus ditanggung oleh sektor perbankan. (*)

Editor: Galih Pratama

Khoirifa Argisa Putri

Bergabung dengan infobanknews.com sejak 2022. Lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma bertugas meliput dan menulis berita di Bursa Efek Indonesia (BEI) seputar pasar modal dan korporasi, serta perbankan dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB).

Recent Posts

Adira Finance Tebar Dividen Rp777,37 Miliar, Cek Jadwalnya

Poin Penting Adira Finance membagikan dividen Rp772,37 miliar (Rp630/saham) atau sekitar 50 persen dari laba… Read More

59 mins ago

Injeksi Likuiditas ke Bank Pelat Merah, Bank-bank Non-Himbara Kena Spillover Effect

Poin Penting Pemerintah menyiapkan injeksi likuiditas Rp100 triliun ke bank-bank Himbara untuk menjaga stabilitas sistem… Read More

1 hour ago

Viral Ribuan Motor Listrik untuk Operasional MBG, Purbaya: Tahun Lalu Kita Tolak!

Poin Penting Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut usulan pengadaan motor listrik dan komputer untuk… Read More

1 hour ago

Wamenkeu Beberkan Resep Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen

Poin Penting Defisit APBN 2026 dipastikan tetap dijaga di bawah 3 persen meski harga minyak… Read More

3 hours ago

Kredit Amar Bank Melesat 35 Persen di 2025, Dorong Pertumbuhan Laba

Poin Penting Laba Amar Bank naik 16,1% menjadi Rp249,6 miliar, tertinggi sepanjang sejarah. Kredit tumbuh… Read More

4 hours ago

Pergeseran Gaji PPL ke Bank Himbara, “Membunuh” BPD Secara Sistemik

Oleh Eko B. Supriyanto, Pimpinan Redaksi Infobank INDONESIA sedang berputar hebat. Dalam politik ekonomi perbankan… Read More

4 hours ago