Poin Penting
- IHSG dibuka ambruk 1,83 persen ke 6.600,43 pada perdagangan 18 Mei 2026, dengan 302 saham melemah
- Phintraco memprediksi IHSG berpotensi menguji level 6.500-6.550 jika turun di bawah 6.700
- Pasar dibayangi sentimen RDG BI, konflik AS-Iran, serta laporan Nvidia dan risalah FOMC AS.
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan hari ini Senin, 18 Mei 2026 pukul 09.00 WIB dibuka merosot pada level 6.600,43 dari posisi 6.723,32 atau melemah 1,83 persen.
Berdasarkan statistik RTI Business pada perdagangan pasar saham hari ini, sebanyak 1,10 miliar saham diperdagangkan, dengan frekuensi perpindahan tangan sebanyak 108 ribu kali, serta total nilai transaksi mencapai Rp850,69 miliar.
Kemudian, tercatat terdapat 302 saham terkoreksi, sebanyak 149 saham menguat dan sebanyak 249 saham tetap tidak berubah.
Baca juga: IHSG Rawan Terkoreksi, Analis Rekomendasikan 4 Saham Ini
Analis Phintraco Sekuritas, sebelumnya memprediksi bahwa IHSG untuk pekan ini secara teknikal berpotensi menguji level 6.500-6.550.
“Diperkirakan jika IHSG breakdown level 6.700, berpotensi menguji level 6.500-6.550 pada pekan ini,” ucap analis Phintraco dalam risetnya di Jakarta, 18 Mei 2026.
Sentimen dari domestik, investor akan mencermati hasil RDG Bank Indonesia (BI) pada 19-20 Mei 2026 yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate tetap di 4,75 persen (20/5).
Selain itu juga akan dirilis pertumbuhan kredit (20/5), transaksi berjalan kuartal I 2026 (22/5) dan M2 Money Supply (22/5).
Di sisi lain, FTSE Russell menyatakan telah meninjau perkembangan di pasar modal Indonesia, namun masih menunda pemeringkatan ulang indeks secara penuh, kenaikan free float, dan penambahan saham baru (IPO) hingga review September 2026.
Adapun, konflik Amerika Serikat (AS)-Iran masih akan berpengaruh terhadap pergerakan indeks di bursa global pada pekan ini, di tengah naik turunnya eskalasi antar kedua negara tersebut.
Baca juga: MNC Bank (BABP) Siapkan Private Placement 4,45 Miliar Saham, Fokus Perkuat Kredit
Sedangkan dari AS, investor akan mencermati laporan keuangan Nvidia serta FOMC minutes. Investor mencari indikasi arah suku bunga setelah data inflasi AS lebih tinggi dari perkiraan.
Lalu dari Tiongkok, investor akan mencermati sejumlah data ekonomi, seperti industrial production dan retail sales.
Bank Sentral Tiongkok diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pinjaman utama 1 tahun dan 5 tahun masing-masing tetap di level 3 persen dan 3,5 persen. (*)
Editor: Galih Pratama


