Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir di Jakarta, Kamis (29/1). (Foto: Steven Widjaja)
Poin Penting
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kini tengah mengalami penurunan dalam. Terpantau secara akumulasi, pasar saham Indonesia ini anjlok hampir 15 persen sejak perdagangan Rabu (28/1/2026) sampai awal perdagangan sesi I Kamis (29/1/2026).
Akibat penurunan drastis IHSG tersebut, BEI memutuskan untuk melakukan pembekuan perdagangan sementara (trading halt) selama 30 menit pada Rabu dan Kamis.
Anjloknya nilai pasar saham nasional ini tak bisa dilepaskan dari dampak evaluasi yang dilakukan Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Baca juga: Trading Halt Dua Kali, Purbaya: Nggak Usah Takut, IHSG Bakal ke 10.000
Merespons anjloknya IHSG, Chief Investment Officer BPI Danantara, Pandu Sjahrir menyatakan jika evaluasi dan permintaan perbaikan pasar modal Indonesia dari MSCI adalah hal yang baik. Ia mengatakan, Indonesia tidak perlu bersifat defensif atas penilaian MSCI terhadap pasar saham nasional.
“Kita perbaiki saja diri kita karena market kita fundamentally very good. Pasar itu kan refleksi juga antara orang merasa ini mungkin sesuatu noise kita perbaiki saja, jadi very solvable issue,” ujarnya saat ditemui di sela-sela acara Indonesia PE-VC Summit 2026 di Jakarta, Kamis, 29 Januari 2026.
Pandu berharap penurunan IHSG karena evaluasi MSCI itu dapat menjadi “wake-up call”, yang menggerakkan seluruh pihak terkait untuk memperbaiki sistem transparansi pasar saham Indonesia agar sesuai dengan standar sistem yang diharapkan oleh MSCI.
“Saya sih optimistis semoga dengan ini semua tergerak karena urusan MSCI ini sudah 3,5 bulan, sudah 4 bulan. Sudah tau semua, jadi perbaikilah,” tegasnya.
Baca juga: Respons Evaluasi MSCI, OJK Siapkan Aturan Baru Batas Free Float 15 persen
Sementara itu, terkait niat BEI yang akan menerbitkan revisi aturan free float saham menjadi 15 persen dari sebelumnya minimal 7,5 persen adalah hal yang positif.
Ia bahkan menyinggung besaran standar free float di negara-negara dengan pasar yang besar sudah mencapai 20 sampai 25 persen.
“Yang penting komunikasi harus ada. It’s okay karena kita tuh harus berkembang, kita harus seperti market kayak di Tiongkok, di Hongkong, di India. Don’t be defensive,” tekannya. (*) Steven Widjaja
Poin Penting Jobstreet meluncurkan fitur Basic Talent Search yang memberi akses hingga 50 juta profil… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR menetapkan Friderica Widyasari Dewi sebagai Ketua OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Komisi XI DPR RI menetapkan lima anggota Dewan Komisioner OJK periode 2026–2031 setelah… Read More
Poin Penting Bank Aladin Syariah menargetkan pertumbuhan 9-11 persen pada 2026 dengan memperkuat layanan digital… Read More
Poin Penting BNI membuka layanan terbatas di 23 outlet pada 20 Maret 2026 dan 32… Read More
Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) menyelenggarakan acara buka bersama yang dihadiri oleh anggota sekaligus… Read More