Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: Irawati)
Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa penyusunan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU CEPA) ditargetkan rampung pada September 2025.
Airlangga menjelaskan, pemerintah bersama European Union Commissioner for Trade and Economic Security, Maros Sefcovic tengah berproses menyelesaikan sejumlah isu yang memiliki kekuatan hukum atau legal drafting.
“Legal drafting berproses. Target legal drafting di tahun ini selesai,” ujar Airlangga di kantornya, dikutip, Rabu 11 Juni 2025.
Baca juga: Ekspor RI ke Uni Eropa Diprediksi Naik 50 Persen Usai IEU-CEPA Rampung
Airlangga menyebut, dokumen hukum yang telah selesai disusun harus mendapatkan persetujuan dari 27 negara Uni Eropa dan Indonesia.
“Hampir seluruh isunya sudah selesai. Jadi tinggal legal drafting. Dan sudah legal drafting tentu perlu persetujuan dari seluruh parlemen 27 negara plus Indonesia,” jelasnya.
Kesepakatan tersebut menandai hampir berakhirnya proses perundingan yang telah berlangsung selama sembilan tahun dan mencakup 19 putaran utama dan dialog intensif dalam beberapa bulan terakhir.
Airlangga menambahkan bahwa hasil perundingan siap untuk diumumkan dan akan segera dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto serta Presiden Komisi Eropa.
Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kelima bagi Indonesia, dengan total nilai perdagangan mencapai USD30,1 miliar pada 2024.
Neraca perdagangan Indonesia juga menunjukkan surplus, meningkat signifikan dari USD 2,5 miliar pada 2023 menjadi USD4,5 miliar pada 2024.
Baca juga: Negosiasi Alot, Bagaimana Nasib Kemitraan IEU-CEPA? Ini Jawaban Kemendag
Salah satu manfaat utama dari implementasi IEU CEPA adalah penghapusan tarif impor secara signifikan.
Dalam 1–2 tahun setelah perjanjian berlaku, sebanyak 80 persen ekspor Indonesia ke Uni Eropa akan menikmati tarif 0 persen.
Komoditas unggulan seperti produk padat karya (alas kaki, tekstil, garmen), minyak sawit, perikanan, serta sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik akan mendapat perlakuan preferensial yang lebih adil.
Adapun Uni Eropa memfokuskan pada beberapa isu termasuk pembahasan mendalam mengenai TKDN, sektor otomotif, critical minerals, dan fasilitas yang dapat diperoleh pada saat melakukan investasi.
Komisioner Maros juga memberikan beberapa catatan yang telah dijadikan kesepakatan bersama. Secara prinsip, kedua belah pihak telah memahami isi kesepakatan tersebut. (*)
Editor: Yulian Saputra
Poin Penting Bank Indonesia (BI) menambah kuota dan memajukan jadwal pemesanan tukar uang tahap kedua… Read More
Poin Penting PT Kereta Api Indonesia Daop 6 Yogyakarta memastikan diskon 30% tiket KA Lebaran… Read More
Poin Penting Menkop menargetkan percepatan pembangunan 30.336 Kopdes Merah Putih untuk memperkuat ekonomi desa dan… Read More
Poin Penting Bank Jambi menjamin mengganti penuh dana nasabah yang hilang jika audit membuktikan ada… Read More
Poin Penting JPMorgan Chase menutup rekening Donald Trump dan bisnisnya pada Februari 2021, sekitar sebulan… Read More
Poin Penting Dalam FGD yang digelar Nusantara Impact Center, Wijayanto Samirin menegaskan risiko bisnis tidak… Read More