Jakarta–Kinerja ekonomi ASEAN dalam beberapa tahun terakhir terlihat melaju lebih pesat dibandingkan dengan pasar negara berkembang lainnya. Tingkat rata-rata produk domestik bruto (PDB) tahunan ASEAN dalam jangka waktu 2011-2015 bertahan di 5% atau melampaui Afrika (3,4%), Timur Tengah (3,1%) dan Amerika Latin (2,1%).
Berdasarkan laporan Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) Economic Insight, South East Asia menyebutkan, faktor penting yang berhasil menyokong ketahanan ekonomi ASEAN adalah rendahnya ketergantungan terhadap komoditas, daya saing yang meningkat serta rasio utang terhadap PDB yang stabil rendah.
Pihaknya melihat, bahwa prospek ekonomi ASEAN terlihat masih positif. Pemulihan perdagangan internasional yang stabil yang turut membuka prospek ekspor serta investasi umum, dianggap memiliki peran yang penting bagi perkembangan ekonomi di sejumlah negara ASEAN. Namun, hubungan perdagangan yang erat dengan Tiongkok, tetap menjadi penggerak penting dalam menentukan nasib kawasan ASEAN. Di mana penurunan drastis ekonomi Tiongkok akan berdampak besar pada ASEAN.
“Perusahaan harus bisa mempertahankan arus modal yang kokoh untuk memastikan peluangpeluang bisnis tidak hilang,” ujar Priyanka Koshore, ICAEW Economic Advisor & Oxford Economics Lead Economist, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 6 September 2016.
ICAEW memperkirakan, pada 2017 mendatang akan terjadi peningkatan investasi yang pesat di Indonesia, Malaysia dan Singapura, serta peningkatan kecil di Vietnam. Oleh sebab itu, agar dapat mendanai investasi tersebut, para perusahaan harus siaga mempunyai pasokan keuangan yang kuat untuk memungkinan peluang proyek investasi.
Sedangkan menurut laporan Control Risks Economic and Political Risk Evaluator oleh Oxford Economics menyebutkan, terjadinya pertumbuhan berbeda antarnegara ASEAN disebabkan oleh banyaknya peraturan yang menghambat kemampuan perusahaan-perusahaan untuk saling berdagang. Berbagai langkah penting harus dilaksanakan untuk mengatasi isu tersebut, sehingga dapat membantu membentuk fondasi bagi investasi swasta dan inovasi yang lebih besar.
Mark Billington, Regional Director ICAEW South East Asia, menambahkan, Indonesia sudah siap untuk mendapatkan anggaran investasi pada tahun-tahun mendatang. Untuk mendukung investasi dan pertumbuhan menengah Indonesia, pemerintah harus memastikan persediaan kredit yang lancar untuk disalurkan ke sektor-sektor yang paling produktif.
Meningkatnya daya saing Indonesia telah mendorong bertambahnya aliran perdagangan, lapangan kerja, investasi bisnis dan tingkat belanja konsumen. ICAEW memperkirakan, pertumbuhan investasi Indonesia pada 2017 mencapai 6,2%. Penambahan investasi akan menunjang meningkatkan pertumbuhan PDB Indonesia dari 5% di 2016 menjadi 5,2% di 2017.
Namun, tingkat pertumbuhan antarnegara ASEAN berbeda-beda yang disebabkan oleh banyaknya peraturan untuk saling berdagang. Para perusahaan Indonesia harus bisa mempertahankan arus modal yang kokoh untuk mengamankan peluang bisnis dan pemerintah harus memastikan persediaan kredit yang lancar. (*)
Editor: Paulus Yoga
Poin Penting Bank Mandiri memastikan Livin’ by Mandiri tetap stabil dan beroperasi 24 jam untuk… Read More
Poin Penting Pemerintah menetapkan Idul Fitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret… Read More
Poin Penting Bank Mandiri memberangkatkan lebih dari 10.000 pemudik gratis menggunakan 215 bus ke berbagai… Read More
Poin Penting Laba bersih ASSA naik 81% menjadi Rp596,6 miliar pada 2025. Pendapatan konsolidasi mencapai… Read More
Poin Penting APLN mencatat penjualan dan pendapatan usaha Rp3,57 triliun pada 2025. Penjualan rumah tinggal… Read More
Poin Penting Kemacetan mudik di tol utamanya disebabkan bottleneck di gerbang transaksi, bukan semata lonjakan… Read More