Deputy Head IBM X-Force Cyber Range, Jake Paulson. (Foto: Tangkapan layar)
Poin Penting
Jakarta – Perusahaan penyedia layanan teknologi multinasional IBM merilis laporan X-Force 2026 Threat Intelligence Index Asia Pacific yang menunjukkan kawasan Asia Pasifik masih menjadi salah satu pusat aktivitas serangan siber global.
Pada 2025, kawasan ini menyumbang sekitar 27 persen dari total insiden keamanan siber yang ditangani tim X-Force di seluruh dunia. IBM mencatat pelaku serangan di kawasan ini paling sering menggunakan malware sebesar 45 persen.
Serangan berikutnya yang paling umum adalah spam dan penggunaan alat sah masing-masing 15 persen, serta akses server sekitar 10 persen. Serangan umumnya bertujuan memperoleh data sensitif dan akses sistem.
Dampak yang paling banyak terjadi meliputi pencurian data dan gangguan reputasi perusahaan yang masing-masing mencapai 14 persen, dan pengumpulan kredensial sekitar 7 persen. Pola tersebut menunjukkan data masih menjadi target utama kejahatan siber modern.
Baca juga: Bagaimana Masa Depan AI di Industri Perbankan? Begini Pandangan IBM
Dari sisi industri, sektor manufaktur menjadi target terbesar dengan sekitar 65 persen insiden. Sementara sektor keuangan dan asuransi mencapai 17 persen, diikuti transportasi sekitar 7 persen.
Deputy Head IBM X-Force Cyber Range, Jake Paulson, mengatakan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah pendekatan pertahanan keamanan. Menurutnya, teknologi AI dapat meningkatkan visibilitas ancaman dan mempercepat respons organisasi terhadap serangan.
“Dengan demikian, AI memungkinkan organisasi untuk mengantisipasi ancaman, merespons secara real time, dan tetap selangkah lebih maju di tengah lanskap ancaman yang semakin kompleks dan terus berkembang,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat, 27 Februari 2026.
Selain merilis laporan, IBM juga memperkenalkan konsep kedaulatan digital sebagai bagian dari strategi keamanan siber perusahaan. Perusahaan menilai, organisasi perlu memiliki kendali atas data, perangkat lunak, dan infrastruktur digitalnya.
Ke depan, pasar sovereign cloud diproyeksikan akan tumbuh 4,5 kali lipat pada 2028. Nantinya, 80 persen perusahaan multinasional diprediksi akan menerapkan strategi data berdaulat pada 2027. Perusahaan yang tidak mengadopsinya berisiko kehilangan akses pasar dan kepercayaan pelanggan.
Baca juga: IBM Beberkan 5 Tren AI Global 2025, Apa Saja?
General Manager dan Technology Leader IBM ASEAN, Catherine Lian, menilai kedaulatan digital menjadi semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI dan kompleksitas regulasi data.
“Infrastruktur berdaulat yang siap AI memberikan tingkat keamanan, kepatuhan, dan kepastian yang dibutuhkan pelaku usaha untuk berinovasi dalam skala besar,” tegasnya.
IBM menilai kombinasi peningkatan ancaman siber dan adopsi teknologi AI mendorong perusahaan memperkuat strategi keamanan berbasis pengelolaan data dan kepatuhan regulasi agar operasional digital dapat berjalan lebih aman. (*) Mohammad Adrianto Sukarso
Poin Penting Asbisindo Institute dan VOCASIA meluncurkan platform e-learning terintegrasi untuk memperkuat kapabilitas SDM perbankan… Read More
Poin Penting Penyelundupan BBM bersubsidi masih marak dan meresahkan masyarakat, terutama yang berhak menerima subsidi… Read More
Poin Penting Grab meluncurkan 13 fitur berbasis AI di acara GrabX untuk meningkatkan kenyamanan pengguna,… Read More
Poin Penting SIPF menyiapkan consultation paper untuk mendorong Lembaga Perlindungan Pemodal masuk dalam revisi UU… Read More
Poin Penting Ruang penurunan suku bunga makin sempit, BI fokus pada stabilitas di tengah ketidakpastian… Read More
Poin Penting Lo Kheng Hong terus mengakumulasi saham DILD dan GJTL sepanjang awal 2026 saat… Read More