Nasional

IAI Inisiasi Indonesia Sustainability Reporting Forum, Ignasius Jonan Jadi Ketua

Poin Penting

  • IAI bentuk ISRF untuk memperkuat ekosistem dan standar pelaporan keberlanjutan
  • Dipimpin Ignasius Jonan, ISRF dorong integrasi sustainability ke strategi bisnis dan target Net Zero 2060
  • Diluncurkan 12 Februari 2026, ISRF jadi forum kolaborasi lintas pemangku kepentingan.

Jakarta – Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) kembali memperkuat perannya sebagai hub of sustainability di Indonesia, dengan membentuk Indonesia Sustainability Reporting Forum (ISRF). Langkah ini melengkapi inisiatif pembentukan dewan standard dan penerbitan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (SPK) sebelumnya.

Langkah ini disebut sebagai bagian upaya membangun ekosistem keberlanjutan yang kredibel, berdampak, dan berdaya tahan. Inisiatif-inisiatif itu digagas untuk memperkuat kualitas praktik keberlanjutan perusahaan sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar dan pemangku kepentingan.

ISRF diketuai Ignasius Jonan, mantan Menteri Kabinet Kerja 2014-2019 yang juga Dewan Penasehat IAI.

Jonan, mengungkapkan, Indonesia membutuhkan ekosistem keberlanjutan yang tidak berhenti pada komitmen, namun mampu menghasilkan dampak nyatadan nilai jangka panjang.

“Melalui ISRF, IAI mendorong integrasi keberlanjutan kedalam strategi bisnis, tata kelola, manajemen risiko, dan pengambilan keputusan, serta menghadirkan ruang kolaborasi strategis lintas pemangku kepentingan untuk menyelaraskan langkah dan mempercepat kontribusi menuju pencapaian Indonesia Net Zero Emission 2060,” kata Jonan dalam keterangan resmi, Jum’at, 6 Februari 2026.

Baca juga: Resensi Buku: Menyelami Cara Berpikir dan Bertindak Ignasius Jonan

Sementara, Ketua Dewan Pengurus Nasional (DPN) IAI, Ardan Adiperdana, mengatakan, IAI melihat keberlanjutansebagai agenda transformasi praktik bisnis, bukan sekadar kewajiban pelaporan.

ISRF digagas sebagai forum pembelajaran bersama berbasis pengalaman implementasi, dialog kebijakan, serta perumusan solusi praktis yang dapat diadopsi oleh dunia usaha dan sektor jasa keuangan.

Dengan Pendekatan ini, kesenjangan antara target keberlanjutan dan pelaksanaannya di tingkat organisasi diharapkan bisa ditekan.
ISRF sendiri baru akan diluncurkan pada 12 Februari 2026 nanti, bersamaan dengan penyelenggaraan Seminar Internasional bertema Reporting Outlook 2026 and Strengthening Sustainability Practices in Indonesia.

ISRF menjadi forum yang melibatkan regulator, pelaku usaha, sektor jasa keuangan, asosiasi, investor, akademisi, hingga mitra internasional. Fokus ISRF mencakup integrasi keberlanjutan dalam strategi dan tata kelola, pengelolaan risiko dan peluang keberlanjutan, khususnya risiko iklim, hingga transparansi informasi dan kesiapan sistem pendukung seperti data, metodologi, dan asuransi.

Sejalan dengan inisiatif ISRF, hari ini IAI mengadakan focus group discussion (FGD) untuk menjaring masukan dan partisipasi para pemangku kepentingan, agar terlibat  aktif dalam membentuk arah dan peran ISRF sejak tahap awal.

Rosita Uli Sinaga, Ketua Dewan Pemantau StandarKeberlanjutan (DPSK) IAI/Anggota DPN IAI hadir sebagai narasumber dan Lindawati Gani selaku (Anggota DPSK IAI/Anggota DPN IAI) sebagai fasilitator, serta Prabandari I. Moerti (Anggota Dewan StandarKeberlanjutan IAI) sebagai moderator.
 
Mengangkat tema Tantangan dalam Penguatan EkosistemKeberlanjutan di Indonesia, FGD ini dihadiri perwakilan perusahaan publik dan privat dari berbagai sektor dan industri, serta perwakilan IAI Corporate Partner.

Baca juga: Indonesia Kekurangan Akuntan Publik, Anak Muda Tidak Berminat?

Sebagai tambahan, keberadaan ISRF dinilai semakin relevan di tengah meningkatnya kompleksitas risiko keberlanjutan yang memengaruhi operasi, rantai pasok, biaya dan akses pembiayaan, serta reputasi perusahaan.

ISRF berperan sebagai kanal dialog strategis untuk merespons fragmentasi tuntutan pasar, memperkuat kapabilitas implementasi, serta menciptakan praktik keberlanjutan yang konsisten dan bertanggung jawab.

IAI meyakini bahwa praktik keberlanjutan yang kredibel akan menjadi fondasi penting dalam menarik pembiayaan berkelanjutan dan memperkuat daya saing ekonomi nasional. (*) Ari Astriawan

Galih Pratama

Berkecimpung di industri media sejak 2014. Saat ini di infobanknews.com bertugas menulis dan menyunting artikel yang berkaitan dengan isu ekonomi, perbankan, pasar modal hingga industri keuangan non-bank (IKNB).

Recent Posts

BTN Bidik Bisnis Wealth Management Tumbuh 15 Persen di 2026, Begini Strateginya

Poin Penting BTN memperluas layanan consumer banking dan beyond mortgage, termasuk kartu kredit, BNPL, dan… Read More

17 mins ago

KISI Sekuritas Siap Bawa 7-8 Perusahaan IPO 2026, Ada yang Beraset Rp3 Triliun

Poin Penting KISI menyiapkan 7–8 perusahaan untuk IPO tahun 2026, meliputi sektor perbankan, pariwisata, pertambangan,… Read More

32 mins ago

Premi AXA Mandiri Sentuh Rp10 Triliun di 2025, Unitlink Jadi Tulang Punggung

Poin Penting AXA Mandiri mencatat pendapatan premi Rp10 triliun pada 2025, dengan produk unitlink menyumbang… Read More

3 hours ago

BI Rate Turun, Amar Bank Jaga Bunga Deposito Tetap Menarik

Poin Penting Suku Bunga BI Tetap: BI menahan suku bunga acuan (BI Rate) pada level… Read More

3 hours ago

Bos Amar Bank: Lawan Serangan Siber Seperti “Tom and Jerry”

Poin Penting Ancaman siber terus meningkat dan menyasar seluruh jenis bank, termasuk bank digital. Amar… Read More

3 hours ago

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi Ajukan Pinjaman Rp2 Triliun, untuk Apa?

Poin Penting Dedi Mulyadi ajukan pinjaman daerah Rp2 triliun akibat kapasitas fiskal Jabar turun hampir… Read More

4 hours ago